Batoe Toelis di Buitenzorg dan Kejeniusan Hoesein Djajadiningrat Membaca Warisan Sunda
Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.
Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar De Telegraaf edisi Sabtu, 28 Agustus 1920. Surat kabar yang terbit di Amsterdam ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda pada dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.
BATOE TOELIS.Men wist aan de "Preangerbode" mede te deelen, dat na ongeveer een halve eeuw zoeken, men erin geslaagd is, te ontcijferen wat precies op den Batoe Toelis bij Buitenzorg vermeld staat.Wel wist men dat deze steen in een opschrift de vermelding der stichting van het rijk Padjadjaran behelst, maar sommige delen van deze eigenaardige oorkonde bleven tot dusver een geheimenis, o.a. het jaartal dat er ongetwijfeld op moest voorkomen.Volgens den berichtgever nu is het dr. Hoesein Djajadiningrat, ambtenaar voor de beoefening van Indische talen, gelukt de geheele inscriptie, die in het Sanskriet is vervat, te ontcijferen.Spoedig zal hierover een publicatie het licht zien.Terjemahan Bahasa IndonesiaBATU TULISKepada surat kabar Preangerbode diberitakan bahwa setelah hampir setengah abad dilakukan pencarian dan penelitian, akhirnya berhasil diuraikan secara tepat apa yang sesungguhnya tertulis pada Batu Tulis di Buitenzorg (Bogor).Selama ini orang memang telah mengetahui bahwa batu tersebut memuat sebuah prasasti mengenai pendirian Kerajaan Padjadjaran. Akan tetapi, beberapa bagian dari piagam yang istimewa itu masih tetap menjadi misteri, antara lain mengenai angka tahun yang sudah pasti seharusnya tercantum di dalamnya.Menurut pemberi berita tersebut, Dr. Hoesein Djajadiningrat, pejabat yang bertugas dalam bidang kajian bahasa-bahasa Hindia, telah berhasil menguraikan seluruh isi prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskerta itu.Disebutkan pula bahwa dalam waktu dekat akan diterbitkan sebuah publikasi mengenai hasil pembacaan prasasti tersebut.
Berita singkat ini merupakan salah satu kesaksian penting mengenai perkembangan kajian epigrafi dan historiografi Nusantara pada awal abad ke-20. Berita tersebut dimuat dalam surat kabar De Telegraaf edisi Sabtu, 28 Agustus 1920, sebuah surat kabar besar yang terbit di Amsterdam, Belanda, dengan semboyan "Het Meest Verspreide Groote Dagblad" (Surat Kabar Besar yang Paling Luas Peredarannya).
Tokoh yang disebut dalam berita ini adalah Hoesein Djajadiningrat (1886–1960), salah seorang pelopor ilmu filologi dan sejarah Indonesia modern. Ia dikenal sebagai cendekiawan pribumi pertama yang meraih gelar doktor dari Universitas Leiden melalui disertasinya mengenai sejarah Kesultanan Aceh. Keahliannya dalam bahasa Arab, Melayu Kuno, Jawa Kuno, dan Sanskerta menjadikannya salah satu otoritas terkemuka dalam kajian naskah dan prasasti Nusantara pada masa kolonial.
Prasasti yang dimaksud adalah Prasasti Batutulis, yang terletak di Bogor dan menjadi salah satu peninggalan terpenting dari Kerajaan Sunda atau Kerajaan Pajajaran. Prasasti ini didirikan oleh Raja Surawisesa untuk mengenang ayahandanya, Sri Baduga Maharaja, yang dalam tradisi masyarakat Sunda lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi.
Pada awal abad ke-20, sebagian isi prasasti memang masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sarjana. Oleh karena itu, keberhasilan Hoesein Djajadiningrat dalam membaca dan menafsirkan keseluruhan inskripsi tersebut dipandang sebagai terobosan ilmiah yang sangat penting. Penelitian itu membantu memperjelas kronologi sejarah Pajajaran dan memperkaya pemahaman mengenai peradaban Sunda pra-Islam.
Berita yang dimuat di Amsterdam ini juga menunjukkan bahwa kajian terhadap peninggalan sejarah Nusantara telah menarik perhatian dunia akademik Eropa. Penemuan dan pembacaan kembali Prasasti Batutulis tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi sejarah lokal Bogor, tetapi juga merupakan tonggak dalam perkembangan ilmu sejarah Indonesia modern dan studi mengenai warisan budaya Sunda.
Sumber: De Telegraaf: Het Meest Verspreide Groote Dagblad, Amsterdam, Belanda, Sabtu, 28 Agustus 1920.
Bogor, 29 Juni 2026
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Patung Hussein Djajadiningrat,
di Universitas Leiden.




Posting Komentar untuk "Batoe Toelis di Buitenzorg dan Kejeniusan Hoesein Djajadiningrat Membaca Warisan Sunda"
Posting Komentar