Roemah Galoeh
Di balik perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia, terselip kisah seorang putra Pasundan yang mengabdikan hidupnya bagi tanah air. Ia adalah Raden Ahmad Gahrab Koesoemapradja, yang akrab disapa Pak Galuh. Menurut penuturan Raden Grassadiwaty Koesoemapradja, putri kelimanya, serta Raden Pradini Gahrawati, cucunya, yang menjadi narasumber utama penulis, Pak Galuh bukan sekadar pejuang biasa. Ia adalah sosok yang menjalani hidup dengan dedikasi, keberanian, dan kecintaan yang mendalam kepada bangsa serta rakyatnya.
Lahir di Cirebon pada 16 Desember 1910, Pak Galuh tumbuh sebagai putra asli Tanah Pasundan yang sejak usia muda telah menunjukkan keteguhan karakter dan jiwa pengabdian yang kuat. Masa hidupnya diwarnai oleh berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, dan di setiap fase itu ia memilih untuk hadir sebagai bagian dari perjuangan. Namun, kiprahnya tidak hanya terbatas pada medan perjuangan. Ia juga dikenal sebagai seorang seniman yang memiliki kepekaan rasa, seorang tokoh yang menaruh perhatian besar pada dunia pendidikan, serta seorang humanis yang percaya bahwa kemerdekaan sejati harus diwujudkan melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya, Pak Galuh adalah pribadi yang memadukan keberanian seorang pejuang dengan kelembutan seorang budayawan. Jejak hidupnya menjadi cermin bahwa pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui banyak jalan: melalui perjuangan, melalui karya seni, melalui pendidikan, dan melalui keteladanan hidup yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Foto koleksi milik keluarga Galoeh
Asal Usul dan Pendidikan
Pak Galuh tumbuh dalam lingkungan keluarga yang masih memegang teguh tradisi dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Sejak usia belia, ia telah ditempa dengan disiplin yang kuat serta pendidikan yang teratur, sebuah bekal yang kelak membentuk karakter dan pandangan hidupnya. Pendidikan formalnya dimulai di HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sekolah dasar berbahasa Belanda yang pada masa itu menjadi tempat lahirnya banyak tokoh pergerakan pribumi. Di sana, ia tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga mulai mengenal dunia yang lebih luas di luar lingkungannya.
Setelah menamatkan HIS, ia melanjutkan pendidikan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat sekolah menengah pertama. Pada jenjang inilah cakrawala pemikirannya semakin berkembang. Pengetahuan yang diperolehnya, dipadukan dengan kecerdasan dan rasa ingin tahunya yang besar, menjadi fondasi penting bagi perjalanan hidupnya di kemudian hari. Pendidikan modern yang diterimanya membuat Pak Galuh mampu melihat berbagai persoalan bangsa dengan sudut pandang yang lebih luas, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengabdian kepada masyarakat dan tanah air.
Sekitar tahun 1929, sebuah babak baru dalam kehidupannya dimulai. Ia meninggalkan Cirebon, kota tempat kelahirannya, dan merantau ke Bogor. Takdir kemudian membawanya menetap di kawasan Empang, sebuah kampung tua yang dikenal sebagai pusat permukiman masyarakat Arab dan menjadi salah satu denyut kehidupan keagamaan di kota itu. Di lingkungan inilah Pak Galuh berkenalan dengan banyak tokoh berpengaruh, hingga akhirnya diangkat sebagai anak oleh Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama kharismatik dan tokoh terpandang di Bogor yang memiliki kedudukan penting di tengah masyarakat.
Hubungan yang terjalin dengan Abdullah bin Muhsin Alatas bukan sekadar ikatan keluarga angkat. Dari sosok ulama tersebut, Pak Galuh memperoleh banyak pelajaran berharga tentang kehidupan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada umat. Pergaulannya dengan berbagai kalangan di Empang turut memperluas wawasan serta memperkaya pengalaman hidupnya. Lingkungan yang religius, dinamis, dan terbuka terhadap berbagai gagasan itu menjadi salah satu ruang pembentukan karakter yang kelak berpengaruh besar terhadap perjalanan perjuangan Pak Galuh pada masa-masa berikutnya.
Foto koleksi milik keluarga Galoeh
Perjuangan Melawan Penjajah
Dalam masa-masa genting perjuangan kemerdekaan Indonesia, Pak Galuh menunjukkan dedikasi luar biasa. Ia terjun langsung ke medan pertempuran sebagai seorang komandan gerilya melawan penjajah Belanda. Keberaniannya dalam memimpin pasukan gerilya membuatnya menjadi salah satu sosok yang dihormati di kalangan pejuang kemerdekaan.
Sebagai seorang perintis kemerdekaan, Pak Galuh turut serta dalam perjuangan gerilya melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Selama masa revolusi kemerdekaan, ketika tentara Sekutu yang diboncengi oleh Belanda menduduki tanah air, beliau mengalami penangkapan dan dipenjarakan oleh tentara Inggris.
Pasukan Inggris tiba di Indonesia pada September 1945 sebagai wakil Sekutu dengan tujuan utama mengurus tawanan perang Jepang dan Belanda. Namun, karena keterlibatan mereka dalam upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia, pasukan Inggris terpaksa menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Indonesia yang bertekad mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Keberanian dan pengabdiannya tidak berhenti di medan tempur saja. Rumahnya sendiri, yang terletak di Jalan Lolongok No 38, Kota Bogor, menjadi tempat perlindungan dan persembunyian senjata bagi para pejuang. Dedikasinya ini kemudian diakui oleh negara, di mana ia dianugerahi piagam penghargaan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) dan dianugerahi pangkat Letnan Dua sebagai tanda penghormatan atas jasanya.
Foto koleksi keluarga Galoeh
Peran di Dunia Seni dan Warisan Budaya
Setelah masa perjuangan fisik selesai, Pak Galuh tidak lantas berhenti berkontribusi untuk bangsa. Ia menyalurkan bakat seni yang dimilikinya sejak muda dengan mendirikan rumah SENI PAHAT GALOEH di Bogor. Karya-karyanya dikenal memiliki nilai estetika yang tinggi, tidak hanya di lingkup lokal tetapi juga mendapat pengakuan di kancah nasional.
Nama "Galoeh" yang disematkan dalam rumah seninya bukanlah tanpa alasan. Nama ini dipilih karena keluarganya masih memiliki ikatan kerabat dengan Keraton Kasepuhan Cirebon, sebuah bukti bahwa darah biru kebangsawanan mengalir dalam dirinya. Salah satu karya monumentalnya adalah Tugu Siguntang yang berdiri megah di Taman Makam Pahlawan Palembang pada tahun 1952. Tugu ini dibangun dengan bantuan para seniman pahat batu dari Palimanan, Cirebon, sebuah kolaborasi yang menunjukkan kekuatan seni tradisional dalam mengabadikan sejarah.
Karya seni pahat Raden Ahmad Gahrab Koesoemapradja, yang dikenal dengan nama Galoeh, juga dapat ditemukan di Istana Bogor. Salah satu contoh yang menonjol adalah pahatannya yang mengangkat motif bunga teratai,
Seni pahatan Galoeh, juga dapat kita jumpai di kediaman Ibu Fatmawati, istri Presiden Sukarno. Bahkan menurut keterangan Raden Grassadiwaty Koesoemapradja, ornamen yang ada di kediamannya dulu sama persis dengan yang dibuat oleh Galoeh di rumah bersejarah milik Ibu Fatmawati Sukarno.
Bangunan rumah milik Ibu Fatmawati, yang terletak di Jalan Sriwijaya Raya No. 26, Jakarta Selatan, kini telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah. Rumah ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga melestarikan karya seni Galoeh yang menambah keindahan dan kekayaan budaya Indonesia.
Selain itu, Galoeh juga terlibat dalam proyek monumental lainnya, di mana karyanya turut menghiasi Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata di Jakarta. Keberadaan karyanya di berbagai lokasi penting ini mencerminkan kontribusinya yang mendalam dalam memperkaya warisan seni dan budaya Indonesia.
Museum Perjoangan di Bogor, yang terletak di Jalan Merdeka No. 57, berdiri megah sebagai saksi bisu perjuangan bangsa. Gedung bersejarah ini dulunya merupakan bekas gudang logistik saat revolusi kemerdekaan, dan kini menjadi simbol patriotisme dan keberanian. Bangunan ini adalah hasil hibah dari Syaikh Umar Bawahab, seorang dermawan yang turut berkontribusi dalam perjuangan bangsa. Ornamen dan relief yang menghiasi museum ini dibuat dengan penuh dedikasi oleh Pak Galuh, seniman yang mengabadikan semangat perjuangan dalam setiap detail karyanya.
Selain museum dan monumen bersejarah lainnya, pada masa kepemimpinan Wali Kota Bogor Drs. H. Suratman (1989-1994), beliau dipercaya untuk ikut merancang desain dan membuat prasasti peresmian Gedung Bale Binarum. Gedung yang pernah menjadi ikon di Jalan Pajajaran, Bogor ini, sempat populer sebagai salah satu pusat kegiatan masyarakat. Partisipasi Drs. H. Suratman dan Galoeh dalam proyek tersebut menambah nilai historis gedung ini, menjadikannya bukan sekadar bangunan, tetapi juga simbol dedikasi beliau terhadap perkembangan dan pembangunan di kota Bogor.
Sayangnya, gedung Bale Binarum, yang pernah menjadi ikon di kota Bogor, kini telah lenyap, rata dengan tanah. Rencana untuk membangun kembali dan mengalihfungsikan gedung tersebut sayangnya terhenti, meninggalkan proyek itu dalam keadaan mangkrak dan terbengkalai hingga saat ini. Kehilangan gedung ini bukan hanya menghapus sebuah bangunan fisik, tetapi juga sepotong warisan budaya dan sejarah yang pernah menjadi bagian penting dari identitas kota Bogor.
Bersama Alm Drs.Suratman
Walikota Bogor periode 1989-1994
Foto koleksi keluarga Alm Galoeh
Kontribusi dalam Pendidikan dan Kemanusiaan
Selain di bidang seni, Pak Galuh juga dikenal aktif sebagai penasihat di berbagai yayasan pendidikan dan kemanusiaan di Kota Bogor. Ia selalu menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama dalam hidupnya, sebuah prinsip yang diajarkannya kepada kedua putranya dan tujuh putrinya. Sebagai seorang ayah, ia tidak hanya memberikan pendidikan formal kepada anak-anaknya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Pak Galuh wafat pada 28 Agustus 1993 di Bogor, meninggalkan warisan yang kaya akan nilai-nilai perjuangan, seni, dan kemanusiaan. Jejak langkahnya yang penuh dedikasi masih terasa hingga hari ini, dan karyanya dalam berbagai bidang tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Rumah tinggalnya yang indah di Bogor adalah hasil karya arsitek kenamaan F. Silaban, seorang sahabat yang dikenalnya sejak masa bekerja di Istana Bogor sekitar tahun 1953. Rumah ini bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol dari prestasi dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
"Roemah Galoeh" hingga kini tetap terjaga dan terpelihara dalam kondisi aslinya, menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah yang panjang. Ornamen seni pahat yang menghiasi rumah ini, karya tangan seni Pak Galuh, masih dapat dinikmati dengan keindahan yang utuh, mengingatkan kita pada kejayaan seninya di masa lalu. Seni pahat pada dinding rumahnya menggambarkan keindahan seni khas Cirebon, yaitu motif mega mendung.
Sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian terhadap jasanya, nama Pak Galuh kini diabadikan sebagai nama ruas jalan yang berada di samping rumah bersejarahnya, yang kini pemilik dan penghuninya adalah Ibu Feri Sungkar.
Bogor, 13 Agustus 2024
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak Cipta
Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.
Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
1 komentar untuk "Roemah Galoeh di Empang: Jejak Perjuangan dan Seni Sang Pejuang"