Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat, Pemimpin pertama revolusi melawan kolonialisme di Yaman


Diantara tokoh yang memiliki pengaruh dan andil besar dalam kebangkitan kaum hadrami di tanah al-mahjar, atau nahdhoh hadromiyyah, khususnya di Indonesia dengan melahirkan banyak gerakan dan perkumpulan, seperti diantaranya lahirnya Jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang lahir pada 6 September 1914 di Batavia (Jakarta), beliau adalah Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat.

Dalam kepengurusan pertamanya setelah mendapatkan pengakuan hukum dari pemerintah Hindia Belanda, berdasarkan besluit dari Gouverneur-Generaal Alexander Willem Frederik Idenburg di Batavia pada 31 Agustus 1915, Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat langsung ditunjuk dan diangkat sebagai Penasehat Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Al-Irsyad. Penunjukannya itu menunjukan pengaruh dan peranan beliau sebagai salah satu orang terpandang dan terkemuka di kota Batavia.

Bersama koleganya Syaikh Umar Yusuf Manggusy, saudagar Arab kaya raya dan tokoh utama dibalik lahirnya Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang menjadi Kapten Arab di Batavia kala itu, bersama-sama para pemuka hadharim lainnya yang juga besar pengaruhnya, Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat teramat mendalami dan menyerap dengan benar akan pentingnya misi serta visi yang ditawarkan oleh Syaikh Ahmad Surkati (pendiri Al-Irsyad), agar umat Islam yang kala itu berada di bawah pengaruh kolonialisme, dapat segera bangkit dan berjuang dalam memperoleh persamaan derajat serta keadilan. 

Sebagai seorang pengusaha properti yang sukses, Syaikh Saleh Ubayd Abdat terkenal memiliki banyak lahan luas dan gedung-gedung penting yang tersebar dilokasi-lokasi strategis dalam pusat kota Batavia. Salah satunya adalah Hotel Des Galeries di Molenvliet, hotel terbesar kedua setelah Des Indes yang berada persis di seberangnya. Konon ia sengaja mendirikan Hotel itu lantaran dirinya ditolak masuk Des Indes yang memang hanya diperuntukan khusus bagi orang-orang Belanda, terutama dari kalangan bule papan atas. 

Diperkirakan pada awal tahun 1923, Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat bertolak dari Batavia ke Hadramaut, kedatangannya ke negeri asal dan tempat kelahirannya di sebuah wilayah yang bernama Al-Goerfa, membawa serta semangat anti kolonialisme dimana saat itu pemerintah kerajaan Britania Inggris tengah menjajah dihampir sebagian besar wilayah jazirah Arabia, terutama negeri Yaman. Para penguasanya, kepala-kepala gabilah (suku) dan kesultanan besar yang berpengaruh, kesultanan Al-Katiriyah dan Al-Gaitie hampir secara keseluruhannya saat itu berada di bawah protectorat kerajaan Britania.

Dikutip dari Surat Kabar Tionghoa Melajoe dan juga Koran Harian Soeara Publiek No.94 yang terbit pada hari Selasa 3 Mei 1926 di Batavia. Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat sebagai salah seorang yang berpengaruh serta ikut di dalam menentukan arah dan kebijakan statuten Al-Irsjad sebagai Hoofdbestuur Al-Irsjad, dengan sokongan kaum Irsyadien, baik yang memiliki jaringan dengan para pemuka masyarakatnya di Hadramaut, maupun mereka yang sudah bersimpati terhadap gerakan pemurnian dan pembaharuan ajaran Islam yang sudah sampai pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat Hadramaut, merasa jemu melihat keadaan penduduk di Yaman, khususnya di wilayah Goerfa.

Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat kemudian melakukan mobilisasi secara besar-besaran pada masyarakat di wilayah Goerfa untuk sebuah revolusi sosial terhadap kebiasaan dan adat istiadat masyarakatnya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Berjuang menghilangkan kebodohan akibat keterbelakangan pendidikan masyarakatnya yang hanya sebagian kecil kaum intelektualnya saat itu, atau bahkan hingga hari ini, justru didominasi oleh sekelompok elit "golongan kaum pendatang" yang bukan asli dari penduduk Hadramaut. Golongan elit "kaum pendatang" itu juga telah ikut andil dalam menciptakan rasa tidak aman bagi masyarakat di Goerfa, perampokan dan kejahatan dibiarkan merajalela yang mengakibatkan kemiskinan dan penderitaan bagi para penduduknya.

Puncak dari revolusi sosial yang dikobarkan oleh Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat di negeri kelahirannya tersebut, lantas kemudian mendorongnya untuk mendirikan imperium baru bagi kekuatan politiknya dengan membentuk pemerintahan atas masyarakat Yaman di bawah kepemimpinannya yang berpusat di wilayah Goerfa. Pada tahun 1924, Daulah Abdat pun resmi berdiri dan Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat mengukuhkan dirinya sebagai amir. Masa kekuasaan dan kejayaannya berlangsung hingga pada tahun 1945. 

Selama dalam masa kekuasaannya, meski terdapat perlawanan dan peperangan dengan para penguasa feodal yang mendapatkan sokongan dari Inggris, tercatat dalam sejarahnya yang gemilang, Daulah Abdat yang berdiri dan terbentuk secara independen dan bebas dari pengaruh subordinasi Inggris itu, Amir Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat sebagai penguasa baru Al-Goerfa, mampu menciptakan tatanan sosial masyarakatnya yang terbebas dari penindasan dan ancaman yang dialami oleh penduduknya selama ratusan tahun. 

Dari banyak para peneliti sejarah, antaranya ditulis oleh Shalah al-Bakri dan DR. Mohammad Saed, disebutkan masa kejayaan Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat sebagai Amir Daulah Al-Abdat di Al-Goerfa, selain telah berhasil dalam pengembangan kekuasaannya, juga telah banyak menciptakan industri kerajinan baru dan memberinya penghidupan bagi rakyatnya. Kekuatan perekonomiannya juga ditopang oleh mata uang coin perak yang dibuat dan diedarkannya sebagai alat tukar dan pembayaran yang sah. Uang koin perak yang berhasil dicetak dan diedarkan tersebut hanya baru diketahui oleh penulis terdiri dari nominal 15, 30 dan 60 Khumsi.



Masa kejayaan dan kekuasaan Daulah Al-Abdat juga telah memberlakukan aturan baru dan terbilang sangat revolusioner di Hadramaut, yaitu adanya pemberlakuan larangan rakyat bersenjata kecuali digunakan oleh alat dan kekuasan negara. Hanya tentara yang berhak dipersenjatai, sehingga kondisi penduduk di Goerfa saat itu tercipta rasa aman dan keterasingan dari dunia luar. 

Puncak konflik horisontal atau peperangan antara Daulah Al-Abdat yang dipimpin oleh Amir Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat, atau terkadang oleh penduduk Goerfah sering disebut sebagai Shultan Saleh bin Ubayd Abdat itu, yang berperang dengan para penguasa feodal di Hadramaut, terutama dengan Kesultanan Al-Katiri dan Al-Ghaity, berlangsung selama kurang lebih 7 tahun lamanya, dari sekitar tahun 1939 hingga 1945. 

Pemerintahan Shultan Saleh bin Ubayd Abdat yang sebelumnya sangat keras menolak campur tangan Inggris yang menurutnya tidak merelakan Hadramaut berada di bawah kehendak penguasa kolonialisme kafir, pada tanggal 7 Maret 1945 terpaksa memilih jalan damai dengan melakukan gencatan senjata yang kurang lebih berlangsung selama 6 bulan.

Perjanjian damai itupun ditempuh, semua pihak yang bertikai secara bersamaan menandatangani "akta perdamaian" pada secarik kertas di kota Aden yang disaksikan dihadapan perwakilan pemerintah kerajaan Inggris.

"Sampai burung gagak berubah warna menjadi abu-abu" , kutipan di dalam surat tersebut menjadi kalimat penutup perjanjian perdamaian yang ditanda tangangani oleh semua pihak yang berperang, dihadapan pimpinan masyaikh Syaikh Al-Bara'iq dan disaksikan oleh perwakilan pemerintahan kerajaan Inggris.

Shultan Saleh bin Ubayd Abdat dengan kebesaran hati dan raganya demi untuk sebuah kehormatan dan keberpihakannya pada kemaslahatan rakyat banyak, telah menunjukan jiwa besarnya dihadapan penduduk yang membanggakannya bersama saudaranya Syaikh Omar bin Ubayd Abdat, yang telah sama-sama berjuang di Goerfa, untuk sebuah revolusi yang tidak pernah mendapatkan pengakuan dari penjajah Inggris.

Surat Perjanjian Damai
"Sampai burung gagak berubah warna menjadi abu-abu"

Jejak kejayaan Daulah Al-Abdat masih dapat dijumpai jejaknya hingga kini pada uang coin perak Gurfah di dunia numismatik internasional dengan bandrol yang lumayan berharga tinggi. Jejak kejayaan usaha Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat di Batavia, hingga hari ini pun masih dapat disaksikan terutama kemegahan bekas hotel Des Galeries yang sekarang lokasinya berada dipersimpangan Harmoni di Jalan Hayam Wuruk Jakarta. 

Hotel Des Galeries setelah kemerdekaan, masih sempat berfungsi sebagai penginapan dan diteruskan oleh keturunannya yang berada di Indonesia. Penginapan kelas melati itu dirubah namanya menjadi Hotel Gayatri oleh Hussein Badjerei, yang juga pernah menjadi manajer di hotel itu, salah seorang tokoh senior Al-Irsyad dan penulis buku "Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa".

Jejak lain Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat di Jakarta adalah Masjid An-Noer Abdat di Petamburan, nama yang diambil dari nama puteri kesayangannya Noer binti Saleh Ubayd Abdat. Jejak-jejak kejayaan usaha propertinya yang tersebar di Jakarta lainnya, antaranya adalah pertokoan yang di sewa oleh warga tionghoa di Glodok dan sederet pertokoan elit sejak zaman Belanda di kawasan Risjwiek, sekarang dikenal sebagai Jalan Veteran di Jakarta Pusat. Salah satunya adalah bangunan heritage terkenal; toko ice cream Ragusa. 

Cirebon, 5 Juli 2022, ditulis oleh Abdullah Abubakar Batarfie







 

Posting Komentar untuk "Syaikh Saleh bin Ubayd Abdat, Pemimpin pertama revolusi melawan kolonialisme di Yaman"