K.H Muhammad Akib murid Ahmad Surkati dari Negeri Bugis
Kalau kita berbicara tentang Syaikh Ahmad Surkati, pendiri dan tokoh penting Al-Irsyad Al-Islamiyyah, ingatan kita biasanya tertuju pada peran besarnya dalam pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Gagasan-gagasannya tentang persamaan derajat, pemurnian akidah, dan pentingnya pendidikan telah mengilhami banyak tokoh pergerakan Islam pada awal abad ke-20. Dari pemikiran itulah tumbuh semangat untuk mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan organisasi Islam yang kemudian memainkan peranan penting dalam perjalanan bangsa.
Namun, pengaruh Surkati tidak hanya berhenti pada gagasan. Ia juga meninggalkan jejak panjang melalui murid-murid yang pernah belajar langsung di sekolah-sekolah Al-Irsyad yang dirintis dan dibinanya. Dari ruang-ruang kelas itulah lahir orang-orang yang kelak mengabdikan diri dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga pergerakan kebangsaan. Sebagian di antara mereka bahkan tampil sebagai tokoh pembaruan Islam yang pengaruhnya melampaui lingkungan Al-Irsyad sendiri.
Menariknya, tidak sedikit murid Surkati yang kemudian menjadi tokoh penting Muhammadiyah. Sebut saja K.H.R. Muhammad Yunus Anis dan Prof. Dr. K.H. Farid Ma'ruf. Keduanya merupakan contoh bagaimana pendidikan Al-Irsyad turut memberikan sumbangan bagi perkembangan Muhammadiyah. Hubungan historis ini bahkan mendapat pengakuan dari surat kabar Adil di Solo pada 23 September 1939. Dalam pemberitaannya, surat kabar tersebut menyebut Al-Irsyad sebagai "guru Muhammadiyah".
Ungkapan itu tentu menarik untuk direnungkan. Di tengah dinamika pergerakan Islam pada masa kolonial, hubungan antartokoh dan organisasi tidak selalu dibatasi oleh perbedaan bendera. Gagasan dapat menyeberangi batas organisasi, begitu pula ilmu yang diperoleh seseorang di bangku sekolah dapat menjadi bekal untuk mengabdi di tempat lain. Dalam konteks inilah, kisah para murid Surkati menjadi bagian penting dari sejarah pembaruan Islam di Indonesia.
Jika nama-nama yang disebutkan tadi berasal dari Pulau Jawa, ada pula murid Surkati yang datang dari luar Jawa dan kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah di daerahnya. Salah seorang di antaranya adalah K.H. Muhammad Akib, putra Sulawesi Selatan yang kelak dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan pernah menjabat Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan untuk periode 1968–1971.
Dari Parepare ke Batavia, lalu ke Kairo
Muhammad Akib lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada Januari 1910. Perjalanan hidupnya membawa anak Bugis ini jauh dari tanah kelahirannya, menuju Batavia, kota yang pada masa itu menjadi salah satu pusat perkembangan pemikiran dan gerakan Islam di Hindia Belanda.
Di Batavia, ia menempuh pendidikan di sekolah Al-Irsyad dan berada langsung di bawah bimbingan Syaikh Ahmad Surkati. Di sinilah kemampuan intelektualnya mulai berkembang. Ia dikenal memiliki prestasi yang baik, terutama dalam penguasaan bahasa Arab, sebuah kemampuan yang kelak membuka jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Melihat bakat dan kesungguhannya, Surkati mendorong Muhammad Akib untuk meneruskan pelajaran ke Mesir. Dorongan seorang guru kepada muridnya ini menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Akib. Ia kemudian berangkat ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di Darul Ulum hingga menyelesaikan studinya.
Bagi seorang pemuda yang berasal dari Parepare pada awal abad ke-20, kesempatan belajar hingga ke Mesir tentu bukan perkara kecil. Perjalanan itu bukan semata-mata soal menuntut ilmu di negeri orang, melainkan juga membuka cakrawala pemikiran dan mempertemukannya dengan tradisi keilmuan Islam yang lebih luas.
Di balik keberangkatan Akib ke Mesir, tersimpan pula kisah tentang perhatian seorang guru terhadap masa depan muridnya. Surkati tidak hanya mengajarkan pelajaran di ruang kelas, tetapi juga berusaha membuka jalan agar murid yang dinilainya memiliki kemampuan dapat berkembang lebih jauh. Kelak, ilmu yang diperoleh Akib dari Batavia dan Kairo menjadi bekal untuk mengabdi di tanah kelahirannya.
Mengabdi di Tanah Bugis
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Muhammad Akib kembali ke Sulawesi Selatan. Ia tidak memilih untuk tinggal jauh dari kampung halaman, apalagi menjadikan ilmu yang diperolehnya sekadar kebanggaan pribadi. Ia pulang dengan membawa bekal pengetahuan dan semangat untuk mengabdi.
Langkah pengabdiannya dimulai melalui dunia pendidikan Muhammadiyah. Ia mendapat tugas mengajar di Perguruan Muhammadiyah di Groep Takkalasi, Barru, sebuah daerah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Barru. Dua tahun kemudian, ia dipindahkan untuk mengajar di Madrasah Muhammadiyah di Bulukumba.
Pengabdiannya berlanjut ketika ia mendapat tugas sebagai guru Muallimin Muhammadiyah di Makassar. Di kota inilah kiprahnya mulai berkembang lebih luas. Jika sebelumnya ia banyak mencurahkan perhatian pada kegiatan mengajar, di Makassar ia juga mulai terlibat secara langsung dalam kehidupan organisasi Muhammadiyah.
Bagi Akib, pendidikan dan organisasi tampaknya merupakan dua bidang yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu perlu diajarkan agar melahirkan generasi terdidik, sementara organisasi menjadi wadah untuk memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Dengan bekal pendidikan yang diperolehnya, ia perlahan mendapat kepercayaan dari lingkungan Muhammadiyah.
Kemampuan intelektualnya, ditambah kepribadiannya yang menarik, membuat Muhammad Akib dipercaya memimpin Muhammadiyah Cabang Makassar. Kepercayaan itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya dalam kepengurusan organisasi.
Pada Konferensi Muhammadiyah di Sengkang tahun 1938, namanya kembali mendapat tempat. Ia terpilih menjadi salah seorang komisaris Konsulat Muhammadiyah Celebes Selatan, mendampingi Haji Andi Sewang Daeng Muntu. Sejak saat itu, namanya terus tercatat sebagai anggota Konsul Muhammadiyah hingga 1954.
Dari seorang guru yang memulai pengabdiannya di daerah, Akib tumbuh menjadi salah satu tokoh yang ikut menggerakkan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan yang diperolehnya di Al-Irsyad, di bawah bimbingan Surkati, kemudian menemukan bentuk pengabdiannya dalam lingkungan organisasi lain.
Dari Muhammadiyah ke Parlemen
Pengabdian Muhammad Akib tidak hanya berlangsung di lingkungan pendidikan dan organisasi Islam. Pada awal 1950-an, pemerintah juga mempercayakan kepadanya tugas dalam bidang urusan agama.
Pada 1951, Kementerian Agama menugaskannya membentuk Kantor Urusan Pendidikan Agama Provinsi Sulawesi sekaligus mengangkatnya sebagai kepala kantor. Setahun kemudian, ia mendapat penugasan baru sebagai Kepala Kantor Urusan Penerangan Agama Provinsi Sulawesi.
Tugas-tugas tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Akib dalam pendidikan dan dakwah mendapat tempat dalam pelayanan pemerintahan. Ia tidak hanya bergerak di lingkungan organisasi, tetapi juga turut menjalankan tanggung jawab dalam urusan keagamaan yang lebih luas.
Ketika Pemilihan Umum 1955 digelar, Muhammad Akib dicalonkan oleh Partai Masyumi. Ia terpilih menjadi anggota parlemen Republik Indonesia dan menjalankan tugas tersebut hingga 1960, ketika lembaga parlemen hasil Pemilu 1955 dibubarkan oleh Presiden Soekarno.
Selepas masa pengabdiannya di parlemen, Akib menetap di Jakarta dan tetap aktif dalam Muhammadiyah. Ia dipercaya menjadi pengurus salah satu majelis di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dengan demikian, perpindahan tempat tinggal dan perubahan tugas tidak membuatnya meninggalkan organisasi yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Kelak, ia kembali ke Makassar dan melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin hingga akhir hayatnya.
Ikut Merintis Masjid Raya Makassar
Di luar kegiatan pendidikan dan organisasi, Muhammad Akib juga dikenal aktif dalam persoalan keagamaan masyarakat. Salah satu kiprahnya adalah keterlibatannya bersama Mukhtar Lutfi dalam memprakarsai pendirian Masjid Raya Makassar.
Bagi Akib, kehidupan beragama bukan hanya urusan ceramah atau kegiatan organisasi. Masyarakat juga membutuhkan tempat ibadah yang dapat menjadi pusat kegiatan keislaman dan kehidupan bersama. Karena itu, pendirian Masjid Raya Makassar menjadi salah satu bagian penting dari pengabdiannya.
Keterlibatannya dalam pengelolaan masjid berlangsung selama bertahun-tahun. Ia terus menjadi pengurus Yayasan Masjid Raya, bahkan pernah dipercaya sebagai ketuanya.
Di sini terlihat sisi lain dari sosok Muhammad Akib. Ia bukan hanya seorang pendidik yang pernah belajar hingga ke Mesir, bukan pula semata-mata tokoh organisasi yang menduduki berbagai jabatan. Ia juga hadir dalam kehidupan masyarakat, ikut memikirkan kebutuhan umat, dan terlibat dalam usaha membangun sarana keagamaan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang.
Ilmunya Tinggi, Pribadinya Bersahaja
Orang-orang yang mengenal Muhammad Akib mengenangnya sebagai sosok yang memiliki kemampuan berbicara dengan baik. Retorika dan gaya bahasanya memikat, sehingga khotbah maupun ceramahnya selalu menarik perhatian pendengar. Ia mampu menyampaikan gagasan dengan bahasa yang hidup, membuat orang senang menyimak apa yang disampaikannya.
Namun, yang membuatnya dikenang bukan hanya keluasan ilmu dan kepiawaiannya berbicara. Mereka yang pernah bergaul dengannya juga mengakui ketinggian budi pekerti dan kesederhanaan pribadinya.
Jabatan demi jabatan pernah diembannya. Ia pernah menjadi guru, pemimpin Muhammadiyah, pejabat urusan agama, anggota parlemen, dosen, hingga pengurus Yayasan Masjid Raya Makassar. Tetapi semua itu tidak membuatnya tampil sebagai orang yang berjarak dengan masyarakat.
Ia tetap dikenal sebagai pribadi yang bersahaja. Tidak mudah memperlihatkan kemarahan atau kesedihan di hadapan orang lain. Senyum seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penampilannya sehari-hari.
Barangkali, justru di situlah letak keistimewaan Muhammad Akib. Ilmu yang tinggi tidak menjauhkannya dari kesederhanaan, sementara jabatan yang pernah didudukinya tidak menghapus keramahan dalam pergaulan.
K.H. Muhammad Akib tampak sebagai orang ketiga dari kiri pada barisan depan dalam pertemuan silaturahmi atau reuni para lulusan sekolah Al-Irsyad di Batavia, yang diselenggarakan di Madrasah Al-Irsyad, Jalan Kemakmuran (kini Jalan K.H. Hasyim Asy’ari) No. 27, Jakarta Pusat, pada 25 November 1962. Pertemuan tersebut berlangsung menjelang pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta. Para lulusan yang pada zaman Belanda dikenal dengan sebutan Abiturien Al-Irsyad itu, sebagaimana diberitakan dalam keterangan pers yang dirilis melalui petikan Kantor Berita ANTARA No. 328/A-B, berkumpul untuk mengenang kembali masa-masa mereka menimba ilmu di bangku sekolah Al-Irsyad. Pertemuan ini sekaligus menjadi pengingat akan ikatan persaudaraan yang tetap terpelihara di antara para alumni, meskipun mereka telah menempuh jalan pengabdian masing-masing di berbagai bidang.
Jika kita kembali kepada perjalanan awalnya di Batavia, ada satu benang merah yang patut dicatat. Muhammad Akib adalah seorang pemuda dari Parepare yang memperoleh pendidikan di Al-Irsyad, dibimbing langsung oleh Syaikh Ahmad Surkati, lalu melanjutkan studi ke Mesir. Setelah itu, ia pulang dan mengabdikan hidupnya bagi pendidikan, Muhammadiyah, pemerintahan, perguruan tinggi, dan kehidupan keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu gambaran tentang luasnya pengaruh pendidikan yang dirintis Surkati. Murid-muridnya tidak selalu berakhir dalam satu lingkungan organisasi. Ada yang tumbuh menjadi tokoh Al-Irsyad, ada pula yang mengabdikan diri di Muhammadiyah dan berbagai bidang kehidupan lainnya.
Dalam diri Muhammad Akib, kita melihat bagaimana ilmu yang diperoleh di bangku sekolah dapat menjelma menjadi pengabdian panjang kepada masyarakat. Ia membawa bekal pendidikan dari Batavia dan Kairo, tetapi tempat ia menunaikan pengabdiannya adalah tanah kelahirannya sendiri.
Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari sebuah pendidikan: bukan sekadar membuat seseorang menjadi pandai, melainkan menyiapkannya agar mampu memberikan manfaat bagi orang banyak.
Bagi Syaikh Ahmad Surkati, keberhasilan seorang murid barangkali tidak hanya diukur dari prestasi akademik atau tingginya kedudukan yang kelak dicapai. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari sejauh mana ilmu tersebut hidup dalam tindakan dan pengabdian. Kisah K.H. Muhammad Akib memperlihatkan salah satu wujudnya—seorang murid yang menempuh perjalanan jauh untuk belajar, lalu kembali membawa ilmunya ke tengah masyarakat.
Sumber pustaka ; “Menapak Jejak, Menata Langkah: Sejarah Gerakan dan Biografi Ketua-ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan”, diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah dan Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel.
Abdullah Abubakar Batarfie
Pernyataan Hak CiptaSaya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.



Posting Komentar untuk "K.H Muhammad Akib murid Ahmad Surkati dari Negeri Bugis"
Posting Komentar