Lebaran dan Tradisi Keliling Kota di Empang

Lebaran bukan saja hari besar umat Islam yang dirayakan dengan penuh suka cita diliputi oleh rasa bahagia sebagaimana arti dan makna dari kata Ied Saed. Ied artinya adalah Hari Raya dan Saed berarti bahagia. Disejumlah negara dan bahkan di berbagai daerah di nusantara, perayaan rasa bahagia pada hari lebaran tersebut dilakukan dalam berbagai cara dan tradisi yang mengiringinya. Itu semua adalah sebuah ekspresi yang lahir dari gagasan hati dan tercipta akibat rasa atas perasaan senang dan bahagia. 

Lebaran kata ini merujuk kepada bahasa sunda yang bersumber dari kata leubar yang maknanya adalah lapang dada seperti ungkapan pada kata hate leubar. Demikian juga istilah lebaran populer dikalangan masyarakat betawi dengan makna yang sama. Di nusantara pada umumnya terutama di jawa masih ada yang menggunakan istilah sama tapi akar katanya memiliki tafsir yang berbeda. Konon diambil dari bahasa jawa itu sendiri yang artinya sudah selesai, selesai setelah melaksanakan ibadah puasa. Di Jawa sendiri Hari Raya Iedul Fitri seringkali ada yang menyebutnya dengan bakda yang muasalnya dari bahasa arab ba'da dan juga punya arti yang sama yaitu sesudah. 

Lebaran sudah beriringan dengan tradisi yang menyertainya dan ini sudah membudaya dihampir semua daerah dan dibelahan dunia lainnya dalam bentuk corak dan ragam, demikian juga dengan di Empang. Empang sebagai bekas koloni Arab di Buitenzorg (Bogor), tradisi lebaran yang menyertainya terbentuk oleh hasil akulturasi unsur adat istiadat arab (baca: hadharim) dengan budaya setempat. 

Pada puncak hari raya dan hari sesudahnya, rumah-rumah keluarga warga Arab di Empang akan ramai oleh sanak keluarga yang datang dari berbagai tempat, baik datang dari yang berjarak dekat masih dalam satu kampung dan kota, maupun yang datang dari jarak jauh di luar kota. Mereka berkumpul terutama pada keluarga yang paling dituakan. Jika jid dan jidah masih ada, rumah inilah yang akan paling ramai karena bukan saja keluarga inti yang berkunjung, tapi sanak familiy dari keluarga besar setiap fam (marga), atau yang bertalian dengannya. Jid dan jidah adalah nama panggilan untuk kakek dan nenek dalam bahasa arab, sebagaimana nama kota pelabuhan jeddah di saudi arabia yang muasalnya diambil dari penyebutan untuk Siti Hawa sebagai wanita pertama, ibu dan nenek umat manusia di dunia. 

Untuk melengkapi suasana lebaran dan berkumpulnya sanak family dari keluarga besar masing-masing, disetiap rumah akan disajikan masakan khas peranakan arab dari olahan daging kambing seperti sayur marag dan masakan nusantara lainnya dengan cita rasa khas peranakan arab diantaranya adalah sambel goreng, semur, gulai dan sambel godog. Menu utama itu akan selalu ada disetiap rumah di empang dan tentu saja tidak ketinggalan ketupat sebagai sajian utamanya yang asli khas nusantara. Meskipun dewasa ini sebagian sudah ada yang menggantinya dengan lontong khas madura. Selain sajian makanan  berat, ada juga kue-kue kering khas lebaran masyarakat kota seperti kue nastar, ka'ak dan lapis legit serta kue-kue kering dan basah lainnya. Jika nastar dan lapis adalah diantara warisan resep kolonial, maka kue ka'ak adalah warisan resep dari leluhur peranakan arab di Hadramaut. Kue Ka'aq memiliki rasa manis yang sama dengan kue kering lainnya, hanya saja aroma dan sensasi rasanya di dominasi oleh rempah-rempah seperti kayu manis, kapulaga, jinten dan cengkeh.

Dahulu di Empang pada sore selepas ashar menjelang malam takbiran tiba, malam dimana esoknya hari lebaran, diantara tentangga dan famili terdekat akan saling kirim hantaran masakan lebaran. Penulis mengalami suasana seperti itu, yaitu  mengantarkan salah satu jenis olahan masakan lebaran buatan jidah dengan menggunakan panci enamel motif burik warna abu, sedangkan tutup pancinya dibalik dan diatasnya dihantarkan pula dua atau tiga ketupat dengan penutup kain serbet warna hitam putih motif papan catur.

Sebuah foto ilustrasi yang mewakili suasana kiriman masakan olahan lebaran kepada tetangga dan sanak famili

Suasana rumah-rumah di Empang menjelang hari lebaran dan pada puncak lebaran tiba, seolah memancarkan cahayanya tanda suka cita meraih sebuah kemenangan. Rumah-rumah bersih dan tertata apik serta semerbak harumnya bunga sedap malam dan dupa. Hari raya Iedul Fitri dijadikannya momen sebagai ajang saling untuk silaturahmi dan maaf memaafkan dengan segala ucapan baik hasil kreasi bahasa budaya maupun kalimat sunnah yang tetap baku untuk diucapkan "Taqobalallahu minna wa minkum, kullu Am wa Antum bikhair". 

Halal bi Halal mulai menjamur pada era di tahun delapan puluhan, atau mungkin sebelumnya. Halal bi halal pertama kali di populerkan dalam kelangan instansi pemerintah dan organisasi profesional. Dalam perkembangannya kemudian Halal bi Halal diselenggarakan oleh semua komunitas sosial masyarakat termasuk himpunan sebuah keluarga besar dalam kekerabatan. Peranakan arab di Empang sudah sejak lama memiliki tradisi serupa yang dinamakan u'ad pada setiap tanggal 2 syawal. Tradisi ini masih tetap eksis hingga kini. 

Dikalangan alawiyyien tradisi u'ad ini masih diselenggarakan dengan cara lama. Mereka berkumpul dipagi hari sejak pukul 8 pagi di kediaman yang paling dituakan, biasanya bermula di bekas rumah Sayyid Alwi Al-Haddad sejak setelah wafatnya murid utama wali kutub tersebut. Usai lantunan sholawat nabi, mereka kemudian memasuki satu persatu rumah yang dituakan secara bergiliran tanpa duduk dan hanya bersholawat serta tahni'ah iedul fitri ditujukan kepada sohibul bait. 

U'ad dikalangan irsyadi dikemas lebih modern dan berlangsung sejak puluhan tahun silam, sejak setelah pertama kalinya Al-Irsyad cabang Bogor didirikan pada tahun 1928. Dahulu dimulai pada pukul 9 pagi yang kegiatannya dipusatkan di gedung sekolah Al-Irsyad (jalan sedane). Rangkaian u'ad irsyadi diawali dengan pembukaan acara dan sambutan ketua cabang untuk menyampaikan ucapan resmi Selamat Iedul Fitri bagi Keluarga Besar Al-Irsyad Bogor. Setelah penyampaian tausiyah Iedul Fitri, acara kemudian ditutup dengan membuat barisan sambung menyambung saling bersalam-salaman secara berurutan. Selain istilah u'ad kalangan irsyadi menamainya dengan Haflah Iedul Fitri yang maknanya tetap sama. Dewasa ini  Haflah sudah mulai bergeser dari tradisi awal, yaitu dengan menambah acara seputar laporan kegiatan organisasi yang dikemas dalam format interaktif. Tapi dari segi jumlah yang menghadirinya, dalam dua tahun ini telah mengalami penurunan.

Susana usai U'ad warga Al-Irsyad Bogor

Tradisi lebaran di Empang yang khas lainnya adalah adanya hiburan bagi anak-anak yang dipusatkan di depan masjid Agung atau disekeliling alun-alun Empang dengan tersedianya delman dan beca yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun pada setiap hari lebaran tiba. Bisa berhari-hari dan terkadang hampir satu minggu berlangsung dimulai dari tanggal 1 syawal sejak bubarnya sholat Ied di Masjid Agung. Warga empang menyebutnya keliling kota padahal rutenya hanya mengitari jalan utama di kampung Empang, bahkan rute becak jarak yang dikayuhnya jauh lebih pendek.

Penyebutan istilah keliling kota mulai dipopulerkan sejak kendaraan wahon (truck) dan mobil bak terbuka (pick up) menjadi alternatif hiburan baru bagi anak-anak empang selama Iedul Fitri. Belakangan pada tahun 70an ada juga bemo yang rute dilaluinya adalah dari alun-alun, tanjakan empang, perniagaan (jl.suryakencana), nv sidik (jl.batu tulis), bondongan (jl.pahlawan) dan berakhir kembali di alun-alun empang. Di jalur jalan perniagaan yang dikenal sebagal kawasan pecinan, untuk melepas canda dan tawa mereka meneriakan ejekan pada warga cina yang dilaluinya dengan nada celotehan berulang-ulang "encek botak babah gendut". Ejekan itu bukan sinisme tapi sifat alami anak empang kala itu yang dikenal suka jail, tipe bengal bocah zaman dulu.

Ilustrasi keliling kota naik wahon (truk)

Pada pengemudi angkutan keliling kota itu juga mereka teriaki dengan ejekan serupa, terutama ketika rutenya sudah semakin mendekati akhir perhentian dengan nada celoteh dalam bahasa sunda "saperak suka ati, entong daek numpak deui, ararateul liang tai".

Tentu saja setiap kata bernada itu terlontar, gelak tawa dan keceriaan mewarnai keliling kota mereka sebagai ekspresi rasa bahagia karena riang gembira. Sebuah hiburan diri yang terpadu dengan ekspresi kekonyolan yang lucu khas bocah kampung arab empang.

Suasana pasar bogor arah jalan perniagaan (suryakencana) tahun 1975/1976 (foto koleksi pribadi Chris Woodrich dari postingan Indonesia Tempo Doeloe)

Adapun kendaraan terbuka (pick up) dan wahon (truck), rute yang ditempuhnya cukup jauh. Pada sebelum tahun 50an ada yang rutenya hingga ke cilincing di batavia (jakarta). Sesudah tahun 60an wisata lebaran perjalan pulang pergi ini tujuannya adalah sampai ke danau lido di cigombong dan pantai pelabuhan ratu di sukabumi.

Hiburan lebaran anak-anak yang terpusat di alun-alun empang dan hingga kini masih ramai diminati adalah warisan budaya yang tetap lestari sejak puluhan tahun silam, atau mungkin sudah ada lebih dari seratus tahun yang lampau. Adanya nyanyian lagu saperak suka ati, menunjukan nilai tukar uang yang berlaku pada masa silam. Nyanyian itu kini sudah sirna, dan juga bemo yang tinggal menjadi kenangan karena sudah hilang ditelan zaman.

Bogor, 9 Syawal 1440 Hijriyah
Abdullah Abubakar Batarfie

Berlangganan artikel terbaru via email. GRATIS! :

Belum ada Komentar untuk "Lebaran dan Tradisi Keliling Kota di Empang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel