Gang Banjar dan Jejak Kerajaan Banjarmasin di Empang

Sekitar tahun 1885 Bogor pernah menjadi tempat pengasingan para sultan dan Bupati yang dianggap berbahaya bagi Pemerintah Belanda, sekaligus untuk mengurangi secara sistematis pengaruh kaum feodalis atas masyarakatnya.

Goesti Moehammad Arsjad duduk kedua dari kiri berkopiah putih dan memegang tongkat

Para bupati yang diasingkan ke kota Bogor berasal dari berbagai daerah diantaranya dari Pekalongan, Bojonegoro, Sukapura (tempat pengasingan Empang) dan Raja Bali. Konon, Raja Bali tempat pengasingannya berada di Kampung Bubulak yang sekarang menjadi komplek perumahan Haur Jaya dekat pabrik ban terkenal Good Year.

Sedangkan tokoh yang dipandang berbahaya oleh Belanda berasal dari kesultanan Banjarmasin dibuang ke Bogor adalah Goesti Moehammad Arsjad (Gusti Muhammad Arsad) yang dibuang oleh Belanda pada 1 Agustus 1904. Di Empang bekas tempat pengasingannya inilah yang kemudian jejaknya dikenal dengan nama Gang Banjar. Seluruh bagian yang dahulu menjadi Puri Pembuangan keluarga Goesti Moehammad Arsjad itu kemudian dibeli oleh keluarga kaya asal Banjarmasin yaitu Sjaich Faradj bin Islam bin Thalib yang dilahirkan di Hadramaut Yaman Selatan. Sedangkan istrinya Ibu Rahmah binti Mar'i bin Thalib adalah wanita peranakan Arab asal Banjarmasin yang pernah menetap di Singapura.

Goesti Moehammad Arsjad tidak sendirian dipengasingannya di Empang, Ia ditemani istrinya Ratu Zaleha dan beberapa orang keluarganya termasuk ibu mertuanya atau ibu dari Ratoe Zaleha Nyai Salamah yaitu istri Sultan Moehammad Seman. Nyai Salamah yang oleh kerabatnya dipanggil dengan Ni Putih itu wafat di tempat pengungsiannya di Empang.

Goesti Moehammad Arsjad dan istrinya Ratu Zaleha sebagai kelompok Pagustian yang oleh Pemerintah kolonial dianggap berbahaya dan ancaman itu, selama dalam pengasingan untuk kebutuhan hidupnya mendapatkan tunjangan dari Pemerintah Belanda sebesar f.300 perbulan dan istrinya Ratu Zaleha f.125, sebagai tambahan untuk memelihara tujuh anggota keluarganya. Ketetapan tunjangan tersebut berdasarkan pada surat Sekretaris Goebernemen 25 Juli 1906 No.1198 yang ditujukan kepada Ekslensi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Asisten Residen Bogor.

Ayah dari Goesti Moehammad Arsjad adalah Goesti Mad Said yang bergelar Pangeran Muhammad Said atau Panembahan Muda adalah putera sulung  Pangeran Antasari atau saudara Sultan Muhammad Seman yang meneruskan perjuangan ayahnya melawan kolonial Hindia Belanda dalam Perang Banjar.

Ratu Zaleha dimasa tuanya

Ratu Zaleha adalah satu dari sedikit pejuang wanita di Nusantara yang gagah berani membela tanah airnya dari cengkeraman kuku penjajahan Belanda. Bersama sang suami Goesti Moehammad Arsyad bin Goesti Moehammad Said. Ratu Zaleha adalah penerus perjuangan ayahnya Sultan Moehammad Seman yang juga merupakan putera laki-laki Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.

Sultan Muhammad Seman atau  Goesti Mat Seman yang disebut juga sebagai Pagustian atau kesultanan Banjar yang baru, merupakan penerus Kesultanan Banjar yang telah dihapuskan secara sepihak oleh Belanda. Ia memerintah Kerajaan Banjar selama periode 1862 - 1905 yang berkedudukan di Muara Teweh untuk melanjutkan perjuangannya mengusir penjajah Belanda hingga wafatnya.

Penangkapan Goesti Moehammad Arsyad Tahun 1904 oleh Belanda setelah bersembunyi dan bergerilya dalam hutan

Dipengasingannya di Empang Goesti Moehammad Arsjad bersama saudagar Arab kemudian ikut mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah yang pendiriannya diprakarsai oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.

Goesti Moehammad Arsyad selama di pengasingan selain membawa serta beberapa orang istrinya yang dinikahinya di Banjarmasin, Ia sempat menikah beristrikan wanita sunda setempat dan darinya dikaruniai beberapa orang anak antaranya bernama Gusti Moestafa atau akrab disapa Antung Moes.

Di Empang kekerabatan keluarga Pagustian Banjarmasin ini sebagian besar memang akrab disapa dengan sebutan Antung. Salah satu diantaranya adalah Antung Adey yang nama aslinya Gusti Abdul Kadir bin Goesti Abdoerrahman atau nama seninya G.A Kadir. Ia merupakan salah satu pelukis terkenal beraliran Moi Indie dan bekas staf ahli di bidang gambar pada mueseum zoology. Buku literatur tentang hewan pada buku mata pelajaran biologi yang masih digunakan di sekolah-sekolah dulu hingga pada tahun 80-an adalah karya pelukis G.A Kadir. 

Dimasa tuanya Goesti Pangeran Moehammad Arsyad atau oleh warga setempat di Empang disebut dengan pengucapan Gusti Arsat dan Ratu Zaleha kembali ke kampung halamannya pada tahun 1937, setelah sekian tahun berada di pembuangannya di Kampung Arab Empang.  Dari kisah yang pernah penulis dengar langsung dari orang tertua sekitar tahun 90-an yang mengalami masa pembuangan Ratu Zaleha dan suaminya itu, meski keluarga pagustian dijaga dan diawasi ketat oleh Pemerintah Belanda untuk tidak memakai atribut-atribut kebangsawanannya, tapi Ratu Zaleha tak pernah lepas memakai sandal khas seorang Ratu dan jika keluar dari Puri pembuangannya untuk urusan penting, dokar yang dinaikinya akan tertutup rapat ditutupi oleh kain penutup dan pakaian hijabnya sangat rapat menutupi auratnya.

Ditulis dalam berbagai sumber Gusti Pangeran Muhammad Arsyad wafat pada tahun 1941 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Banjar Sultan Suriansyah di Kuin Utara Banjarmasin. Sedangkan istrinya Ratu Zaleha, wafat 23 September 1953 dimakamkan di pemakaman raja-raja Pagustian, kesultanan Banjarmasin. 

Nama Ratu Zaleha kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di kota Martapura dan untuk nama jalan di beberapa jalan utama di Kalimantan Selatan dan untuk nama-nama tempat lainnya sebagai penghomatan Pemerintah dan rakyat Banjarmasin kepada wanita tangguh sebagai Pahalwan Wanita asal Banjarmasin. Demikian pula dengan suaminya Gusti Mohammad Arsyad sebagai tokoh Banjar yang tidak disukai oleh Belanda dari sederet para Sultan dari kerajaan Banjar yang memberontak kepada Belanda termasuk tokoh legendaris Demang Lehman yang mati di eksekusi dengan cara digantung dan dipenggal kepalanya. Konon tengkorak kepalanya hingga kini masih tersimpan di salah satu Museum di negeri Belanda.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Belum ada Komentar untuk "Gang Banjar dan Jejak Kerajaan Banjarmasin di Empang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel