Peristiwa Kebakaran di Empang dalam Arsip Kolonial Tahun 1926

Gambar Ilustrasi

Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.

Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — De Indische Courant No. 245, Sabtu, 10 Juli 1926. Surat kabar yang terbit di Batavia ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya.


Teks asli (De Indische Courant No. 245, Sabtu, 10 Juli 1926)

Hevige brand te Buitenzorg

Over den hevigen brand te Buitenzorg lezen wij nog het volgende in het AID.:

Ongeveer om 4 uur 's morgens begon brand uit te breken in een atappen huisje. In no time verspreidde het vuur zich naar alle kanten. Door den hevigen wind werd verdere uitbreiding in tegengestelde richting gestuit, waardoor de moskee vrij bleef, anders was deze zeker geheel afgebrand. De brand duurde tot ongeveer half 7.

Er waren duizenden toeschouwers. Het geheele terrein van den brand was afgezet door een politiemacht. Uitstekend was de regeling onder leiding van het hoofd der politie, ondercommissaris Grooteus.

Vele autoriteiten waren aanwezig o.a. resident Kool, burgemeester Bagchus, de assistent-resident en de plaatselijk militair commandant majoor Van Ameijde. Een brigade militairen verleende hulp.

Aanwezig waren 4 brandspuiten, 3 van de gemeente en 1 van het 14de bataljon, alles onder directe leiding van den heer O. Bos, commandant der brandweer, tevens directeur van gemeente-werken.

De brandweer functioneerde prachtig. Was dit niet het geval geweest, dan zou de brand nog grooter geworden zijn. De oorzaak is voorloopig onbekend, de wedana leidt het onderzoek.

Er zijn pl.m. 40 huizen verbrand w.o. 3 groote steenen woningen en een aantal kleinere. De schade bedraagt naar raming 22 mille exclusief meubilair en huisraad. Er waren 4 à 5 woningen verassureerd, één net een maand geleden. Veel pluimvee en klein vee vonden we verkoold in de hokken, een zielig gezicht. De beesten zaten opgesloten en konden er niet uit, er was ook geen tijd ze er uit te laten.

In de moskee waren biddende Arabieren aanwezig. Elf dagen had Buitenzorg geen regen gehad, zoodat alles kurkdroog was, vandaar de groote omvang van den brand.

De ouderwetsche tong-tong sloeg van 4 uur tot ongeveer half 6, ook de klokken werden geluid – de bedoeg van de moskee gaf mede alarm.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Kebakaran Hebat di Buitenzorg

Tentang kebakaran besar di Buitenzorg, AID melaporkan sebagai berikut:

Sekitar pukul empat dini hari, api mulai berkobar dari sebuah rumah beratap rumbia. Dalam waktu singkat api menjalar ke segala arah. Angin yang bertiup kencang justru menghambat penyebaran ke arah lain sehingga sebuah masjid berhasil selamat; seandainya tidak demikian, masjid tersebut hampir pasti ikut terbakar habis. Kebakaran berlangsung hingga sekitar pukul setengah tujuh pagi.

Ribuan orang menyaksikan peristiwa itu. Seluruh lokasi kebakaran dijaga dan ditutup oleh aparat kepolisian. Pengamanan berlangsung sangat baik di bawah pimpinan kepala kepolisian, Wakil Komisaris Grooteus.

Banyak pejabat hadir di lokasi, antara lain Residen Kool, Wali Kota Bagchus, Asisten Residen, dan Komandan Militer setempat Mayor Van Ameijde. Satu brigade tentara turut membantu upaya pemadaman.

Di lokasi terdapat empat mobil pemadam kebakaran, tiga milik pemerintah kota dan satu milik Batalyon ke-14, semuanya berada di bawah komando langsung O. Bos, komandan pemadam kebakaran sekaligus pelaksana tugas Direktur Pekerjaan Umum Kota.

Dinas pemadam bekerja dengan sangat baik. Andaikata tidak demikian, kebakaran tentu akan menjadi jauh lebih besar. Penyebab kebakaran untuk sementara belum diketahui dan penyelidikan dipimpin oleh seorang wedana.

Sekitar empat puluh rumah terbakar, termasuk tiga rumah batu berukuran besar dan sejumlah rumah kecil lainnya. Kerugian ditaksir mencapai 22.000 gulden, belum termasuk perabot dan barang-barang rumah tangga. Hanya empat atau lima rumah yang diasuransikan, salah satunya baru diasuransikan sebulan sebelumnya.

Banyak unggas dan hewan ternak kecil ditemukan hangus terbakar di kandangnya, sebuah pemandangan yang menyedihkan. Hewan-hewan itu terkurung dan tidak sempat diselamatkan.

Di dalam masjid terdapat orang-orang Arab yang sedang melaksanakan salat ketika kebakaran terjadi. Selama sebelas hari Buitenzorg tidak diguyur hujan sehingga semuanya menjadi sangat kering, yang menyebabkan kebakaran berkembang begitu besar.

Kentongan tradisional (tong-tong) dibunyikan sejak pukul empat hingga sekitar pukul setengah enam pagi. Lonceng-lonceng juga dibunyikan, sementara beduk masjid turut dipukul sebagai tanda bahaya.


Catatan Historis

Api Besar di Kampung Arab Buitenzorg Tahun 1926

Kebakaran besar yang melanda Buitenzorg pada Juli 1926 menjadi salah satu musibah perkotaan terbesar yang tercatat di kota ini pada masa kolonial. Berita tersebut memperlihatkan kerentanan permukiman penduduk yang masih didominasi rumah-rumah beratap rumbia dan berdinding kayu. Dalam kondisi musim kemarau panjang—sebelas hari tanpa hujan—percikan api kecil saja dapat berubah menjadi bencana besar.

Laporan ini juga memberikan gambaran menarik mengenai kehidupan di Kampung Arab Buitenzorg. Disebutkan bahwa saat kebakaran berlangsung, sejumlah orang Arab tengah melaksanakan salat di masjid. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa kebakaran kemungkinan terjadi di lingkungan permukiman Arab di sekitar Empang, kawasan yang sejak abad ke-19 dikenal sebagai pusat komunitas Arab-Hadrami di Buitenzorg.

Masjid yang disebut dalam berita kemungkinan besar adalah Masjid Agung At-Thohiriyah, salah satu masjid tertua di Bogor yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat Arab di Empang. Keselamatan masjid itu dari amukan api dipandang sebagai keberuntungan besar, sebab apabila angin bertiup ke arah sebaliknya, bangunan bersejarah tersebut mungkin ikut musnah.

Berita ini juga memperlihatkan sistem penanggulangan bencana di kota kolonial. Pemerintah mengerahkan polisi, tentara, serta empat unit pemadam kebakaran. Bunyi kentongan (tong-tong), lonceng, dan beduk masjid menjadi sistem peringatan dini yang masih mengandalkan solidaritas masyarakat. Sebelum hadirnya sistem komunikasi modern, bunyi-bunyian semacam itu merupakan sarana efektif untuk mengumpulkan warga dan memperingatkan bahaya.

Kerugian sebesar 22.000 gulden pada tahun 1926 merupakan jumlah yang sangat besar. Selain puluhan rumah yang hangus, banyak ternak dan harta benda penduduk ikut musnah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebakaran pada masa kolonial tidak hanya menjadi bencana fisik, tetapi juga tragedi sosial dan ekonomi bagi masyarakat kota.

Kebakaran besar Buitenzorg tahun 1926 menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh pembangunan dan kemajuan, tetapi juga oleh berbagai musibah yang pernah mengguncang kehidupan warganya. Dari peristiwa inilah kita dapat melihat wajah solidaritas masyarakat Bogor tempo dulu: beduk dipukul, kentongan ditabuh, aparat dan warga bahu-membahu, sementara sebuah masjid tua di Kampung Arab Empang selamat dari kepungan api dan terus berdiri hingga hari ini sebagai saksi sejarah.

Bogor, 7 Juli 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.


Posting Komentar untuk "Peristiwa Kebakaran di Empang dalam Arsip Kolonial Tahun 1926"