Dari Empang ke Istanbul: Sebuah Berita Kolonial tentang Arab Bogor dan Jaringan Dunia Islam


 Ilustrasi Gambar
Melalui rubrik ini, saya akan membagikan secara berkala potongan-potongan berita dari surat kabar Hindia Belanda yang merekam jejak tokoh, peristiwa, dan dinamika kehidupan pada zamannya. Setiap arsip dimuat dengan menyertakan teks asli berbahasa Belanda beserta terjemahan ke dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemudian ditelaah kembali dan dilengkapi dengan catatan historis agar pembaca memperoleh konteks yang lebih utuh. Harapannya, arsip-arsip yang selama ini tersembunyi di balik lembaran koran kolonial dapat kembali berbicara, membuka ruang pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Indonesia berdasarkan sumber-sumber sezaman.

Berikut ini adalah kutipan dari potongan berita yang dimuat dalam surat kabar — HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIË, No.113, edisi Maandag 15 Mei 1916. Surat kabar yang terbit di Batavia ini merupakan salah satu media berbahasa Belanda yang memiliki peredaran luas termasuk di Hindia Belanda dan menjadi sumber penting dalam merekam berbagai peristiwa, tokoh, serta dinamika sosial-politik pada masanya. 

Uit Buitenzorg.

Schrijft ons onze correspondent d.d. 12 dezer:

Hoe innig de verhouding is tusschen de Duitschers en de Arabieren in de hofstad Bogor blijke uit het volgende staaltje:

De op Soekasari wonende Duitschers bezoeken nu en dan het Militair Tehuis, waar ze dan de couranten en tijdschriften inzien.

Op een avond reed een auto het voorerf van het Militair Tehuis op; daaruit stapte Badjenet, de Turk-Arabier, met eenige Duitschers van Soekasari. Hij had, beweerde de Toean Arab, de heeren op de pasar ontmoet – 't zal wel in den Empang zijn geweest, dat hij de Duitschers vond – en hen naar het Militair Tehuis gereden.

Badjenet is evenmin Turk als ik; zijn vader was een eerzaam handelaar in den Empang, die een bom geld bijeen gaarde en zijn zoons naar Cairo en Constantinopel zond, waar zij hun opvoeding kregen en als Turken retourneerden naar de negri Djawa.

Een der broeders vertrok eenigen tijd geleden naar Portugal, waar hij bij de Turksche ambassade aldaar geëmployeerd is.

Terjemahan Bahasa Indonesia ;

Dari Buitenzorg (Bogor)

Koresponden kami tertanggal 12 bulan ini menulis:

Betapa erat hubungan antara orang-orang Jerman dan orang-orang Arab di kota kediaman Bogor dapat dilihat dari contoh berikut.

Orang-orang Jerman yang tinggal di Sukasari dari waktu ke waktu mengunjungi Rumah Militer (Militair Tehuis), tempat mereka membaca surat kabar dan majalah.

Pada suatu malam, sebuah mobil memasuki halaman depan Rumah Militer. Dari dalam mobil itu turun Badjenet, seorang Arab-Turki, bersama beberapa orang Jerman dari Sukasari. Menurut pengakuan sang tuan Arab, ia bertemu dengan orang-orang Jerman tersebut di pasar—kemungkinan besar di kawasan Empang—dan kemudian mengantar mereka ke Rumah Militer.

Namun, Badjenet sama sekali bukan orang Turki, sama seperti saya bukan orang Turki. Ayahnya adalah seorang pedagang terhormat di Empang yang berhasil mengumpulkan banyak kekayaan dan mengirim anak-anaknya ke Kairo dan Konstantinopel untuk memperoleh pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan di sana, mereka kembali ke negeri Jawa dengan identitas sebagai orang Turki.

Salah seorang saudaranya beberapa waktu lalu berangkat ke Portugal, tempat ia bekerja pada Kedutaan Turki di negara tersebut.

Catatan Historis

Berita singkat dari surat kabar Hindia Belanda Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, No.113, edisi Maandag 15 Mei 1913 ini, sesungguhnya membuka jendela yang sangat menarik mengenai cara pandang pemerintah kolonial terhadap komunitas Arab di Indonesia pada awal abad ke-20. Tulisan tersebut bukan sekadar laporan mengenai seorang Arab Empang yang mengantar orang-orang Jerman ke sebuah rumah militer di Bogor. Di baliknya tersimpan kegelisahan kolonial terhadap keberadaan masyarakat Arab Hadrami yang memiliki jaringan lintas negara, hubungan dagang internasional, serta akses pendidikan hingga ke pusat-pusat dunia Islam seperti Kairo dan Konstantinopel.

Kawasan Empang, Bogor, sejak abad ke-19 memang dikenal sebagai salah satu permukiman penting masyarakat Arab di Jawa Barat. Dari sana lahir para pedagang, ulama, dan tokoh-tokoh yang memiliki hubungan erat dengan Hadramaut, Mekkah, Mesir, hingga Kesultanan Turki Utsmani. Mobilitas semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh sebagian besar penduduk bumiputra pada masa itu.

Bagi pemerintah kolonial Belanda, hubungan internasional seperti itu menimbulkan kecurigaan. Sejak akhir abad ke-19, muncul ketakutan terhadap apa yang disebut sebagai Pan-Islamisme, yakni gagasan persatuan umat Islam sedunia yang dipelopori antara lain oleh Jamaluddin al-Afghani dan mendapatkan simpati dari Sultan Utsmani, Abdul Hamid II.

Pemerintah kolonial khawatir bahwa kaum Arab di Hindia Belanda dapat menjadi perantara penyebaran ide-ide politik dari Timur Tengah. Kecurigaan itu semakin menguat ketika banyak pemuda keturunan Arab berangkat belajar ke Mesir, Mekkah, dan Istanbul, lalu kembali dengan wawasan keagamaan dan politik yang lebih luas. Tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menjadi pemimpin organisasi Islam, guru, jurnalis, dan tokoh pergerakan.

Dalam konteks inilah berita mengenai Badjenet menjadi menarik. Surat kabar tersebut dengan nada sinis menegaskan bahwa ia "bukan orang Turki", meskipun pernah belajar di Kairo dan Konstantinopel. Sindiran itu menunjukkan adanya kecurigaan bahwa sebagian orang Arab di Hindia Belanda memiliki kedekatan emosional dan politik dengan Kesultanan Turki Utsmani, yang pada waktu itu dipandang sebagai simbol kepemimpinan dunia Islam.

Kecurigaan terhadap komunitas Arab sebenarnya telah lama menjadi dasar berbagai kebijakan kolonial. Salah satu yang paling terkenal adalah wijkenstelsel, yaitu sistem pemukiman berdasarkan kelompok etnis yang mewajibkan orang-orang Tionghoa, Arab, dan kelompok Timur Asing lainnya tinggal di kawasan tertentu dan tidak bebas berpindah tempat tanpa izin.

Kebijakan ini secara resmi dimaksudkan untuk mempermudah administrasi pemerintahan. Akan tetapi, di balik alasan administratif tersebut terdapat tujuan politik yang jauh lebih penting: memudahkan pengawasan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap memiliki jaringan internasional, modal ekonomi yang kuat, dan potensi pengaruh politik yang besar.

Komunitas Arab Hadrami dipandang sebagai salah satu kelompok yang memenuhi ketiga unsur tersebut. Mereka memiliki hubungan dagang lintas samudra, hubungan keluarga dengan Timur Tengah, kemampuan mengakses pendidikan di luar negeri, serta pengaruh keagamaan yang luas di kalangan masyarakat pribumi. Karena itu, pemerintah kolonial berusaha membatasi mobilitas sosial mereka melalui berbagai peraturan, termasuk wijkenstelsel dan passenstelsel (surat jalan).

Berita mengenai Badjenet di Bogor ini memperlihatkan secara jelas benang merah tersebut. Fakta bahwa seorang Arab Empang memiliki hubungan dengan orang-orang Jerman, pernah belajar di pusat-pusat Islam dunia, dan bahkan memiliki saudara yang bekerja pada Kedutaan Turki di Portugal, merupakan gambaran yang, di mata pemerintah kolonial, memperkuat stereotip bahwa komunitas Arab adalah kelompok yang memiliki jaringan internasional dan karenanya perlu diawasi secara ketat.

Dengan demikian, berita kecil dari Buitenzorg ini bukan sekadar kisah tentang pergaulan seorang Arab dengan orang-orang Jerman. Ia merupakan potret bagaimana negara kolonial memandang komunitas Arab sebagai kelompok kosmopolitan yang melampaui batas-batas lokal, dan dari pandangan itulah lahir berbagai kebijakan pengawasan, termasuk wijkenstelsel, yang bertujuan mengendalikan mobilitas dan pengaruh sosial-politik mereka di Hindia Belanda.


Profil Singkat Surat Kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië

Surat kabar ini terbit setiap hari, kecuali pada hari Minggu dan hari-hari besar. Harga langganan, dibayar di muka, sebesar f 5,- untuk tiga bulan dan  pelanggan dapat berlangganan untuk satu triwulan penuh. Saat edisi Tahun ke-21 ini terbit, Direkturnya penernitannya adalah : K. Wybrands. Pemimpin Redaksi: Mr. W. K. S. van Haastert. Redaktur di Eropa: G. Wybrands.

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië merupakan salah satu surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Batavia dan memiliki pengaruh cukup besar pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Koran ini pertama kali terbit pada tahun 1895 dan terutama ditujukan bagi kalangan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda, meskipun isi beritanya juga banyak dijadikan rujukan oleh kaum terpelajar bumiputra dan komunitas Timur Asing.

Surat kabar ini memuat beragam berita, mulai dari politik kolonial, ekonomi, perdagangan, peristiwa sosial, hingga kabar-kabar dari berbagai daerah di Nusantara dan luar negeri. Selain itu, Het Nieuws van den Dag juga dikenal sering menerbitkan laporan mengenai perkembangan dunia Islam, komunitas Arab, dan dinamika politik internasional, khususnya yang berkaitan dengan Kesultanan Turki Utsmani dan Timur Tengah.

Sebagai koran yang lahir dan berkembang di lingkungan kolonial, pemberitaan Het Nieuws van den Dag tidak terlepas dari sudut pandang pemerintah Hindia Belanda dan masyarakat Eropa pada zamannya. Karena itu, banyak tulisannya—terutama mengenai gerakan Islam, komunitas Arab, dan kebangkitan nasional—perlu dibaca secara kritis karena kerap mengandung nada curiga, stereotip, atau bias kolonial.

Meski demikian, bagi para peneliti sejarah Indonesia, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië merupakan sumber primer yang sangat berharga. Ribuan berita yang dimuatnya menjadi jendela penting untuk memahami kehidupan sosial, politik, dan budaya di Hindia Belanda, termasuk sejarah kota-kota seperti Batavia dan Buitenzorg (Bogor), perkembangan pers, serta aktivitas berbagai komunitas etnis di Nusantara pada masa kolonial.

Bogor, 6 Juli 2026
Abdullah Abubakar Batarfie

Pernyataan Hak Cipta

Saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk mengambil, menyalin, memperbanyak, atau memublikasikan kembali tulisan maupun foto yang saya unggah, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Setiap penggunaan, pengutipan, reproduksi, atau penyebarluasan materi tersebut tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan dapat saya tindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 

Posting Komentar untuk "Dari Empang ke Istanbul: Sebuah Berita Kolonial tentang Arab Bogor dan Jaringan Dunia Islam"