SOK TAHU



Ketika membaca sebuah judul "Sok Tahu", biasanya yang terlintas dalam benak kita adalah film komedi yang akan mengundang gelak tawa para penontonya, bahkan bisa dibuat terpingkal-pingkal karena kebolehan pemainnya yang kocak, konyol dan menunjukan kebodohannya. Film dengan judul serupa "Ateng Sok Tahu" pernah tayang di bioskop-bioskop ibu kota pada tahun 1972 yang dibintangi oleh Ateng, Iskak dan S Bagio. Film komedi ini mendapatkan penghargaan Piala Citra untuk kategori Pengarah Sinematografi Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1977.

Selain judul film komedi, Lirik lagu "Sok Tahu" sempat populer sebagai lagu anak yang dinyanyikan oleh Bondan Prakoso. Lagu ini menceritakan tentang penggunaan bahasa Inggris yang tidak baik ketika bertemu dengan turis bule di Bali.

"Sok Tahu", kata ini sering terlontar dari mulut anak-anak bocah seumuran saat bergerombol dalam sebuah tempat nongkrong di sudut-sudut gang di pelosok kampung. Tak jarang kata itu menjadi bahasa umpatan untuk menyerang lawan bicara mereka ketika adu mulut tidak terhindarkan hanya karena perdebatan soal sepele. Diantaranya tentang tumbila, nama hewan kecil yang dahulu sering dijumpai di jok-jok rotan kursi lenong. Tumbila diambil dari bahasa sunda, sedangkan orang betawi biasa menyebutnya "BANGSAT".

"Sok Tahu", judul ini dipandang menjadi sangat tidak lazim ketika dipakai untuk sebuah tema ceramah yang dibawakan oleh da'i dalam "komunitasnya". Topik ceramahnya mengangkat riwayat hidup seorang tokoh Pembaharuan Islam Indonesia dan pendiri Al-Irsyad, syech Ahmad Soorkatty. 

Tentu saja hal ini sontak membuat sebagian orang menjadi geleng-geleng kepala. Bahkan tidak sedikit ada yang menyatakan kalau tipe penceramah seperti ini layak disebut sebagai "da'i arogan". Seolah Ia menuding kepada pihak tertentu atau orang lain selain dirinya tidak memiliki pengetahuan dan menganggap dirinyalah yang paling "sok tahu".

Bergesernya kata "Sok Tahu" yang biasanya dipakai untuk judul film komedi, lirik lagu anak dan adu mulut bocah di kampung tentang perdebatan soal "tumbila", tapi kini dipakai untuk sebuah judul ceramah yang konon katanya diangkat dari sebuah "tesis". mendorong saya untuk menyimak lebih dalam isi tesis yang sudah diceramahinya. Beberapa kejanggalan kemudian terkuak dan tentu saja menjadi bahan tertawaan walau tidak terpingkal-pingkal ketika menonton film "Ateng Sok Tahu". Hanya saja menurut saya keduanya hampir tidak ada perbedaan, karena sama-sama mempertontonkan kebodohan yang mengundang tawa.

Tesis adalah sebuah karya tulis ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik untuk mendapatkan gelar kesarjanaan pada perguruan tinggi. Teori yang dikemukakan haruslah berdasarkan kajian ilmiah dengan mengungkap fakta serta lampiran dokumen yang tidak bertentangan dengan data-data valid serta teori yang sudah dikemukakan oleh para ahli sebelumnya. Dari banyak literatur dan referensi buku-buku yang sudah beredar luas dan banyak ditulis oleh para peneliti dan pemerhatinya, maka dasar pengambilan sumber yang menyatakan bahwa Syech Ahmad Soorkatty (Ahmad Surkati) sebagai seorang tokoh Pembaharuan Islam adalah penganut dan pembawa faham Abduh ke Indonesia sudah tidak terbantahkan lagi dan semua para ahli sejarah menyatakan pendapatnya yang sama. 

Dari beberapa ahli yang sudah menulis dan menyebut-tentang Syech Ahmad Soorkatty antaranya adalah Doctor H.Agus Salim, Prof.Dr.A.Pijpers, Prof.Dr.Hamka, Prof.Dr.K.H.Aboebakar Atjeh, Prof.Dr.Deliar Noer,MA, Prof.Dr.H.Bisri Afandi,MA, Dr.Ahmad Ibrahim Abu Shouk, Dr.Natalie Mobini Kesheh dan Dr.Husein Haikel, dll. Mereka semua memiliki kesamaan pernyataan ilmiahnya tentang Syech Ahmad Surkati sebagai seorang tokoh modernis Islam di Indonesia. Pijpers menyebut bahwa Al-Irsyad memiliki kesamaan dengan gerakan reformasi Islam di Mesir sebagaimana yang dilakukan oleh Syech Muhammad Abduh dan Syech Rasyid Ridha.Karena itu Hamka menulis bahwa Surkati dianggap sebagai pembawa faham Abduh ke Indonesia.

Bukan saja kitab risalah Tauhid karya Abduh yang menjadi buku standar yang digunakan sebagai kurikulum resmi mata pelajaran di madrasah ibtidaiyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, guru-guru yang mengajar adalah lulusan Al Azhar di Mesir dan beberapa perguruan tinggi lainnya di luar negeri seperti dari Tunisia yang sepemahaman dengan Abduh. Ketokohan Abduh dan pengaruhnya ditunjukan pula dengan foto-fotonya yang terpasang di dinding dinding gedung sekolah Al-Irsyad, termasuk di sekolah Al-Irsyad Surabaya.

Namun kini ada sejumlah pihak yang memaksa mata rantai pemikiran Abduh itu diputus tiba-tiba, majalah dan tafsir almanar sebagai penyambung pemikiran gerakan pembaharuan Islam di Indonesia yang menjadi sumber inspirasi, dikatakan tidak memiliki keterkaitan karena mufassir dan editor majalah itu, dari akar sejarahnya yang melahirkan gerakan Pan Islamisme oleh Sayyid Jamaluddin Al-Afghani, reformasi pendidikan ala Abduh, hingga pencetus gerakan dakwah oleh Rasyid Ridho dianggap dan diberi label sebagai pemikiran yang menyimpang. Tiba-tiba para pemberi label kepada abduh dan diantara generasinya ini menyatakan bahwa Sjech Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad, dianggap bercorak sama dengan mereka. Bahkan disebut-sebut Surkati adalah pembawa paham tersebut sebagai yang pemula ke Indonesia. Surkati tidak lagi disebut sebagai penerus Abduh dan Ridho. Bahkan alih-alih untuk meluruskan sejarah, para penerus ajaran Surkati justru telah dianggap menyimpang dari yang dibawanya. Kepentingan yang dikemas dalam tema "sok tahu" itu kemudian terbukti nyata bahwa yang bersangkutan ada berada bersama kavaleri tentara bayaran dalam formasi Dewan Fatwa. Darisanalah kemudian ide-ide dan gagasan pembaharuan itu digeser dari akarnya. Gerakan sok tahu ini konsfirasinya dibuat sedemikian rapih dan pada akhirnya haluan dan corak Al-Irsyad akan berubah 100 persen. 

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)