Posts

Showing posts from November, 2018
Image
Miss Rijan dan Ibu Negri di Empang (revisi)
Kejayaan Film India dan para pendatang asal Hindustan yang menetap di Bogor
Sebelum pemisahan India dan Pakistan tahun 1947, kedua negara ini masih disebut sebagai negeri Hindustan. Karena itu sejak dulu nama Hindustan sudah lebih dikenal di nusantara. Orang-orang india sendiri menamai dirinya sebagai Hindustani. Kisah-kisah klasik tentang Hindustan sering dikisahkan oleh seniman oral atau tukang cerita di Betawi seperti Mat Djait yang terkenal dan juga penerusnya Sofyan Djait. Gambar To'ong demikian orang Bogor dahulu menyebutnya merupakan jenis hiburan anak-anak zaman dulu yang salah satu alur cerita dalam gambar-gambar yang "di to'ong' (dilihat) adalah kisah-kisah epik dari negeri Hindustan.
Nama Hindustan sempat di populerkan pada sebuah lirik lagu "Mera Joota Hai Japani" yang dibintangi oleh Raj kapoor dan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun lima puluhan. Di Bogor antaranya adalah Bioscoop Capit…
Image
KISAH MARTA, SILABAN DAN SUKARNO

Putera laki-laki Faradj bin Awad Marta, Ali adalah penerus usahanya Marba yang terkenal dan memiliki kedekatan dengan Bung Karno. Ali beristrikan Seha Badar Tebe, cucu Ghalib bin Said Tebe, salah seorang tokoh Al Irsyad yang dihormati dan pernah memimpin (hoofdbestur) Al-Irsyad disituasi genting pada tahun 1920-1921, saat dimana al-irsyad dilanda kisruh internalnya. Ghalib bin Said Tebe ini juga seorang bekas kapten arab di Batavia (Jakarta) dan Bogor yang ikut mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah (SDI) bersama Raden Mas Tirto Adhisuryo. 
Faradj ayah Ali kelahiran Hadramaut yang juga dikenal dekat dengan Bung Karno. Ia adalah saudagar Arab yang dikenal banyak memiliki properti dan diantaranya sudah menjadi bagian dari warisan cagar budaya Indonesia seperti Hotel Garuda yang terkenal di Yogyakarta serta gedung Marba di kota lama Semarang. Faradj kian dikenal dan sosoknya menjadi seorang nasionalis Indonesia sejati setelah menghibahkan rumah miliknya k…

SOK TAHU

Image
Ketika membaca sebuah judul "Sok Tahu", biasanya yang terlintas dalam benak kita adalah film komedi yang akan mengundang gelak tawa para penontonya, bahkan bisa dibuat terpingkal-pingkal karena kebolehan pemainnya yang kocak, konyol dan menunjukan kebodohannya. Film dengan judul serupa "Ateng Sok Tahu" pernah tayang di bioskop-bioskop ibu kota pada tahun 1972 yang dibintangi oleh Ateng, Iskak dan S Bagio. Film komedi ini mendapatkan penghargaan Piala Citra untuk kategori Pengarah Sinematografi Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1977.
Selain judul film komedi, Lirik lagu "Sok Tahu" sempat populer sebagai lagu anak yang dinyanyikan oleh Bondan Prakoso. Lagu ini menceritakan tentang penggunaan bahasa Inggris yang tidak baik ketika bertemu dengan turis bule di Bali.
"Sok Tahu", kata ini sering terlontar dari mulut anak-anak bocah seumuran saat bergerombol dalam sebuah tempat nongkrong di sudut-sudut gang di pelosok kampung. Tak jarang kata itu m…