In Memoriam GEYS ATTAMIMI (1933-2018)

Al-Irsyad baru saja kehilangan salah seorang saksi sejarah  perjalanan dan kiprah jumiyyah ini bagi umat dan bangsa Indonesia, terutama pada saat masa revolusi dimana umat Islam Indonesia menghadapi kekuatan komunisme diantara pasca peristiwa madiun tahun 1948 hingga berakhirnya rezim orde lama yang disebut-sebut berada dalam genggaman Partai Komunis Indonesia.

Saksi sejarah itu diantaranya adalah Geys Attamimi mantan Sekretaris Jenderal PB Pemuda Al-Irsyad yang wafat di Bogor pada 29 September 2018, dimakamkan keesokan harinya tanggal 30 September 2018.Hari pemakamannya persis bersamaan dengan peringatan Gerakan 30 September, sebuah peristiwa tragis akibat kebiadaban Partai Komunis Indonesia yang menjadi pemicu bangkitnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam bersama ABRI dan Rakyat dalam penumpasan kejahatan komunisme di tanah air, termasuk antaranya adalah keterlibatan Pemuda Al-Irsyad dimana Geys Attamimi ikut tampil bersama-sama dengan aktivis pemuda Islam lainnya.

Geys Attamimi lahir di Tembilahan, sebuah kota Kecamatan dalam Kabupaten Indra Giri Hilir di Provinsi Riau pada 23 Desember 1933. Ia adalah putera salah seorang tokoh terkemuka Al-Irsyad yaitu Allahyarham al-Ustadz Abdul Majid Attamimi dan ibunya adalah Allahyarhamha Zubaidah Binti Abdul Hafidz Attamimi. 

Al-Ustadz A.Majid Attamimi ayahnya adalah pemegang manuskrip tua yang ditulis tangan asli dalam bahasa Arab "Tarikh Al-Irsyad wa syaikhul Irsyadien". Manuskrip yang dianggap memiliki literatur ilmiah dan sempat disimpan di universitas di Leiden ini, sempat diteliti dan menjadi kajian akademis di salah satu universitas di Norwegia tersebut adalah manuskrip yang menjadi rujukan utama buku karya Prof.DR. Abu Syauq dengan judul yang sama dari judul asli pada manuskrip, dan kini sudah dicetak dalam bahasa Arab yang diterbitkan di Malaysia.

Geys Attamimi mulai bergabung secara aktif dalam aktivitas Pemuda Al-Irsyad ditingkat nasional sejak Ia terlibat dalam penerbitan majalah Gema Pemuda Al-Irsyad, sebuah media resmi yang terbit untuk pertama kalinya pada 10 April 1954. Dalam supplement khsusnya diterbitkan pula mimbar asy-syabaab berbahasa arab yang ditangani dan dipimpin langsung oleh beliau. Kedua media tersebut menjadi alat propaganda Pemuda Al-Irsyad dalam melahirkan PORPISI, sebuah federasi Perserikatan Organisasi-Organisasi Pemuda Islam Seluruh Indonesia yang mempersiapkan diri guna mengikuti Kongres Pemuda Islam seluruh Dunia di Karachi Tahun 1955 dan lahirnya International Assembly of Moslem Youth (IAMY) yang pertama kalinya berkedudukan di Pakistan. Saleh Backaar Bawazir yang saat itu mewakili Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad sebagai Anggota Panitia Luar Negeri PORPISI yang berkedudukan di Saudi Arabia juga aktif menerjemahkan Anggaran Dasar dan konsep-konsep PORPISI kedalam bahasa Arab untuk kepentingan kongres. Saleh Backaar Bawazir yang wafat di Jeddah 15 Febuari 1978 adalah kader dan aktivis Pemuda Al-Irsyad yang pernah mendampingi mantan Presiden Mesir Anwar Sadat ketika berkunjung ke Indonesia, dan sejak itu pula ikut pindah ke Mesir dan menjadi wartawan pada Kantor Berita Nasional ANTARA di Cairo dan terakhir menetap di Saudi Arabia menjadi wakil tetap DPP Al-Irsyad yang berkedudukan di Jeddah bersama Abdullah Usman Alamudi.

Sejak berlangsungnya Muktamar Al-Irsyad ke-28 di Surabaya tahun 1954 yang persidangan-persidangan paripurnanya dipimpin oleh Let.Kol.H.Iskandar Idris sebagai Wakil Ketua PB Al-Irsyad, dilangsungkan pula kongres Badan-Badan Otonom termasuk diantaranya Kongres Pemuda Al-Irsyad yang dalam hasil tim formaturnya telah mengangat Ali Amar sebagai Ketua Umum dan Geys Attamimi sebagai Sekjen PB Pemuda Al-Irsyad. Muktamar ke-28 yang dianggap bersejarah ini juga untuk pertama kalinya melahirkan Pelajar Al-Irsyad sebagai Badan Otonom baru yang diketuai oleh Mustafa Mahdami dan A.Kadir Baakobah sebagai Sekjen.

Sejak muktamar ke 28 dan setelah resminya Al-Irsyad menjadi anggota Istmewa Partai Masyumi, Al-Irsyad turut dalam gelombang perjuangan umat Islam lewat jalur politik hingga munculnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan pembubaran konstituante. Disaat situasi politik yang semakin krusial itulah, Pemuda Al-Irsyad terlibat langsung dalam pembentukan Front Ketuhanan sebagai bentuk penolakan terhadap Konsespi Presiden Sukarno tersebut. Demikian pula dengan pembentukan Gabungan Aksi Pemuda Islam (GAPI) sebagai antisipasi upaya teror yang ditujukan kepada para Pemimpin Partai dan Pemuka Islam di Jakarta. Puncak dari kesadaran Pemuda Al-Irsyad yang terpanggil oleh rasa tanggung jawab guna menghadapi kekuatan Partai Komunis Indonesia yang semakin menguat dalam pemerintahan rezim orde lama inilah yang kemudian lahirnya Generasi Muda Islam atau disingkat GEMUIS dengan konsep-konsep persatuan Umat Islam dan program-program perjuangannya dalam menghadapi kekuatan PKI dan anteknya. 

Desember 1964, Geys Attamimi mewakili PB Pemuda Al-Irsyad tampil dan terjun dalam Musyawarah Nasional GEMUIS di Jakarta bersama-sama dengan aktivis lainnya, antaranya adalah Jusuf Thalib SH, Dr.Abdullah Baasir, Mohammad Soebari dan Amir Hilabi SH. Dalam Munas ini pula Drum Band Pemuda Al-Irsyad yang terhimpun secara nasional dikerahkan dan diturunkan sebagai unjuk kekuatan di Ibu Kota. Gelombang perjuangan dalam tahapan penting menghadapi masa revolusi ini, peran yang dimainkan oleh Geys Attamimi adalah dengan mengelola media sebagai alat propaganda dan perjuangan. Dua majalah Genta dan Patria yang dibidaninya, adalah corong resmi yang diterbitkan oleh Pemuda Al-Irsyad di Solo yang dipimpinnya.

Berlangsungnya Konperensi Islam Afrik Asia di Bandung 6 Maret 1965, Pemuda Al-Irsyad ikut ambil bagian diantaranya dengan mengikut sertakan Drum Band Al-Irsyad dari Jawa Timur dalam pembukaan dan Pawai Akbar yang berada pada barisan depan setelah barisan ABRI. Pasukan Drum Band ini pun diturunkan kembali di Stadion Utama Senayan yang sekarang dinamakan Gelora Bung Karno dihadapan ribuan masa Rapat Rapat Akbar Umat Islam yang dihadiri oleh Bung Karno dengan memperkenalkan Mars Surkati.

Geys Attamimi ditampilkan sebagai penerjemah dalam acara jamuan kehormatan dihadapan delegasi KIAA yang berlangsung di Istana Bogor. Pada bagian pidato salah seorang delegasi KIAA yang menyinggung ekspansi kaum kristen, kalimat yang disebut dalam bahasa Arab itu membuat kekhawatiran bagi H.A. Sjaichu sebagai Ketua Panitia KIAA apabila diterjemahkan apa adanya yang nantinya di duga akan berimplikasi terhadap raksi Bung Karno terhadap umat Islam. Ketika bagian kalimat tersebut diterjemahkan oleh Geys Attamimi dengan istilah Zionisme Modern, barulah H.A. Sjaichu berseri-seri dan mengagumi atas pilihan kata yang bijak dari sang penerjemah. 

Geys Attamimi yang konon sempat akan di orbitkan menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah menggantikan Ustadz H. Said Hilabi, penampilannya yang  terakhir di Al-Irsyad dalam pentas nasional dalah dalam Musyawarah Besar Pemuda Al-Irsyad yang berlangsung di Bondowoso. Sejak itulah putera seorang tokoh terkemuka Al-Irsyad, al-Ustadz Abdul Majid Attamimi ini meninggalkan tanah air dan pernah menetap di beberapa kota di Eropah. Selama berada di Luar Negeri itulah Ia aktif menjadi penulis produktif untuk sejumlah artikel dalam bahasa Arab, salah satunya yang dimuat dalam majalah almuslimun yang diterbitkan di Swiss. Sekembalinya ke Indonesia, Ia membuka kantor penerjemah resmi Bahasa Arab di Jakarta. Selain itu aktif dalam menerjemahkan buku-buku karya tokoh Ikhwanul Muslimin Sayyid Hasan al-Bana diantaranya adalah "Antara masa silam dan sekarang" dan "Menuju Masyarakat Qur'ani". Judul terakhir karya Hasan al-Bana yang diterjemahkannya adalah  gambaran tentang gerakan "al-Ikhwan al muslim” sebagai pendobrak paling radikal terhadap masyarakat Islam modern tanpa menampilkan Islam sebagai agama yang berwajah ekstrim.

Buku yang menampilkan tentang profil kebudayaan Indonesia yang dibuat dalam bahasa Arab dengan edisi lux, adalah karya fenomenalnya yang terakhir atas permintaan Presiden Suharto yang dicetak khusus ditujukan bagi kepala-kepala negara Arab di Timur Tengah.

Selamat jalan ami Geys, namamu akan kami ingat dan senantiasa dikenang dalam doa. Khusnul Khatimah insya Allah.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)