Muludan, Haul dan Ngarak Habib di Empang

Alunan sholawat nabi mengalun syahdu dari suara serak parau kaum "syadah" di iringi dengan pukulan rebana. Beberapa lelaki tua satu demi satu keluar dari pintu rumah tua, sebagiannya duduk dikursi tua bergamis dan bersurban hijau tua, ditandu oleh sejumlah pengiring mengikuti langkah demi langkah kaki yang berjalan perlahan menuju sebuah "qubah tua". Sepanjang jalan ribuan "muhibbien" menyambut "habib di arak", demikian orang-orang menyebutnya. Prosesi "ngarak habib" tersebut merupakan penanda berakhirnya serangkaian peringatan "muludan" atau maulid Nabi Muhammad Salallahu'alaihi wassalam yang disebut dengan "Haul" yang berlangsung di "keramat empang". 

Haul di Empang yang diadakan pada setiap bulan mulud adalah prosesi ziarah kepada seorang wali qutub yang makamnya berada dalam sebuah bangunan berkubah hijau dan berada persis di area masjid An Nur, karena itulah komplek pemakamannya dinamakan Qubah Al Attas, sedangkan masjidnya dinamakan Masjid Noer Al Attas. Ziarah yang mentradisi ini dimulai sejak wafatnya wali qutub yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali pada rabu ketiga di bulan mulud. 

Adalah Sayyid Abdullah bin Muchsin Al Attas, ulama dan penyebar dakwah Islam di Bogor yang digelari sebagai wali qutub. Ia adalah ulama kelahiran Huraidhoh di Hadramaut yang menetap di Empang dan menikah dengan wanita pribumi setempat, puteri seorang ningrat keturunan Dalem Sepuh, Bupati Bogor pertama yang berkedudukan di Soekaati sejak kepindahannya dari tanah Baru. Dalem Sepuh wafat di tanah suci Mekkah pada tahun 1847.

Banyak murid Wali qutub yang tersebar di hampir berbagai pelosok, tapi salah satu murid utama dan kesayangannya adalah Sayyid Alwi bin Muhammad bin Thahir Alhaddad yang dilahirkan di kota Geidun Hadramaut.Tahun pertama sejak kematian wali qutub, Ia keluar dari kediamannya menuju makam gurunya dan dari itulah disebut-sebut sebagai Haul yang pertama bagi gurunya yang wafat pada 29 Zulhijjah 1351 Hijriah 

Sayyid Alwi Alhaddad yang dikenal sebagai seorang ahli hadits ini, kediamannya dulu berada di jalan sedane yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi area parkir di halaman belakang rumah sakit Ummi. Sedangkan kediamannya yang lain ada di Gang Kurupuk. Kedua kediamannya memiliki bentuk dan luas yang hampir sama persis karena masing-masing dihuni oleh istri pertama dan keduanya. Dari kediamannya yang di jalan sedane itulah prosesi Haul yang dipimpinnya dimulai. Ia keluar menuju makam wali qutub dengan iringan senandung sholawat burdah. Ada diantaranya karena uzur mereka di tandu, iring-iringan para penziarah dalam prosesi Haul wali qutub inilah yang kelak memunculkan istilah "ngarak habib". 

Sayyid Alwi Alhaddad wafat di Bogor pada tahun 1373 Hijriyah dan dimakamkan berada satu komplek dengan makam gurunya wali Qutub di Qubah Al-Attas. Sesudah wafatnya para penerusnya tetap mempertahankan tradisi Haul yang diwarisnya. Juga iring-iringan "kaum syadah" yang tetap keluar dari kediamannya di Jalan Sedane menuju Qubah, berikut sholawat burdahnya yang masih disenandungkan lengkap dengan ditabuhnya rebana.

Tulisan tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk melihat tradisi  muludan atau maulid dalam kerangka "syariat" dan "taqlid" kaum agamawan di Empang. Akan tetapi tradisi ini dilihat sebagai bentuk ekspresi kultur masyarakat tradisional muslim yang ada di nusantara, khususnya masyarakat muslim sunda di Bogor berkaitan dengan momen, tempat dan penghormatan terhadap Sayyid Abdullah bin Muchsin Al Attas, seorang ulama yang mereka sebut sebagai wali qutub di Empang.

Muludan di Empang itu sendiri adalah tradisi rutin yang merujuk kepada acara Maulid atau perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Salallahu'alaihi wassalam. Masyarakat Sunda pada umumnya menyebutnya muludan, yang dalam almanak hijriyah jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tapi orang sunda menyebut bulan ini dengan sebutan sasih atau bulan mulud karena berhubungan dengan hari kelahiran kanjeng Rasul, dan bulan sesudahnya Rabiul Akhir disebut dengan silih mulud. 

Entah sejak kapan Haul dan Muludan ini dilangsungkan secara bersamaan, tetapi tradisi ini masih terus berlangsung hingga kini. Hanya saja sekarang tempat dimulainya "habib di arak" sudah berubah lokasi dan sudah tidak ada lagi yang di tandu. Mereka berkumpul sejak pukul 8 pagi di majelis ta'lim ar ridho asuhan Sayyid Muhammad Alhaddad cucu Sayyid Alwi Alhadad anak dari puterinya. Lokasinya tidak begitu jauh, masih di Jalan Sedane dekat dengan bekas kediaman Sayyid Alwi di Gang Kurupuk. Rute iring-iringan yang dilalui masih tetap sama, melewati rumah lama melalui jalan yang kini dinamakan Gang Al-Irsyad dan berakhir di Qubah Al-Attas atau warga Empang menyebutnya Gubah.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)