"Miss Rijan" dan "Ibu Negri", di Empang

Jumlah orang Arab yang bermukim di Hindia Belanda sebelum tahun 1859 pada data badan statistik pemerintah kolonial masih dikelompokan dengan orang-orang Benggali dan para pendatang lain yang beragama Islam. Pemerintah penjajah menamakan warga imigran muslim ini dengan sebutan bangsa moor.

Pada Abad ke 18, Belanda sudah mulai menerapkan pemberlakuan pengelompokan penduduk berdasarkan etnis yang disebut koloni. Etnis Arab dan etnis lain yang berasal dari Timur Tengah dan Hindustan yang beragama Islam, dikelompokan menjadi satu. Karena jumlah etnis Arab yang lebih banyak, maka kelak kemudian koloni ini lebih dikenal dengan sebutan kampung Arab yang dikepalai oleh seorang Hoofd der Arabieren atau yang berpangkat kapten. Jika jumlah etnis tidak terlampau banyak, maka kepala koloni tersebut berpangkat Letnan atau Liutenant der Arabieren. 

Di sejumlah kota di Jawa, terdapat beberapa nama tempat yang disebut kampung Pekojan. Termasuk di kota Bogor yang sudah ada sejak abad ke 17. Pekojan merupakan salah satu tempat bersejarah di Jakarta. Menurut van den Berg, Pekojan berasal dari kata Khoja, istilah yang masa Hindia Belanda digunakan untuk menyebut penduduk India yang beragama Islam.

Pekojan di Bogor menjadi cikal bakal kampung Arab yang kemudian meluas dan mendominasi wilayah yang dahulu masih bernama Soekaati. Penamaan kampung Soekaati ini agaknya terjemahan dari  Buitenzorg, nama kota Bogor pada masa Hindia Belanda yang secara harfiah artinya diluar kesusahan atau senang hati. Nama Soekaati mulai muncul sejak Mossel, pejabat Gubernur Jenderal di Hindia Belanda mengabulkan permohonan demang Wiranata pada 1745 untuk menyewa tanah di Empang sebagai tempat kediamannya yang baru, menggantikan rumah dan pendopo lamanya di Tanah Baru. Setelah nama Soekaati tergeser oleh nama Empang, Empang kemudian lebih dikenal sebagai Kampung Arab di Bogor.

Masjid pekojan di Bogor, sudah ada sejak sebelum tahun 1900 yang didirikan diatas tanah wakaf Sjech Saleh Bin Abdullah Al-Bakri. Pada tahun 1931 diserah terimakan kepada Al-Irsyad oleh Ahli waris pewakif Sjech Salim Albakri dan kemudian direnovasi pertama kalinya tahun 1933 oleh Al-Irsyad

Dahulu di Bogor masih terdapat keluarga bermarga Maricar yang asal usulnya dari India. Mereka tinggal berdekatan dengan kampung Pekojan. Lokasinya berada dipinggiran kali cipakancilan dan dekat dengan sobekan kali cisadane. Konon dipilihnya lokasi dekat dengan sungai karena berhubungan dengan usaha pengolahan kulit kambing yang digelutinya. Warga sekitar menyebutnya lebak soto setelah ada penjual soto "Mang To'ang" disana. Lebak dalam bahasa sunda artinya di bawah, nama lebak dan soto itupun kian melekat, dan kini nama itu sudah resmi menjadi "Kampung Lebak Soto". 

"Kampung Lebak Soto" dilihat dari balik jendela kamar "Hotel Bellevue" di Buitenzorg. Diatas tanah bekas hotel tersebut kini berdiri Bogor Trade Mall atau BTM di Jalan Ir.Hadji Juanda

Pada masa keemasannya, usaha pengolahan kulit kambing di kampung arab empang yang dikelola oleh Ali Wafu adalah dengan menyewa lahan luas untuk menjemur kulit-kulit kambing di "nusa" sekarang, dekat dengan bendungan air pulo empang. Selain di nusa, sebelumnya Ali Wafu juga menyewa lahan luas di lembah moenjoel, lokasinya sama-sama berada ditepian kali cisadane yang kini namanya "Kampung Ampera". Dahulu orang menyebutnya "pangkulitan", yang dalam bahasa sunda artinya tempat dijemurnya kulit.

Disisi kanan Dam yang dibangun oleh pemerintah kolonial belanda sejak 1872, atau dikenal dengan sebutan Pintu Air Pulo Empang. Pada bagian dalam area pemakaman keluarga Dalem Sholawat, terdapat beberapa pemakaman keluarga Wafu, termasuk ada nama Muhammad Tambi Maricar dinisannya. Salah satu menantu keluarga wafu, Muhammad Noor bin Sultan Maidin peranakan India asal Aceh juga dikuburkan disitu bersama istrinya.

Sebelum pemisahan India dan Pakistan tahun 1947, kedua negara ini masih disebut sebagai negeri Hindustan. Karena itu masyarakat di nusantara menyebut mereka sebagai bangsa Hindustan, dan orang-orang india sendiri menamai dirinya sebagai Hindustani. Nama Hindustani sempat di populerkan pada sebuah lirik lagu "Mera Joota Hai Japani" yang dibintangi oleh Raj kapoor dan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 1955. Di Bogor antaranya adalah "Bioscoop Capitol" dan "Bioscoop Park" dekat pecinan. Lokasi "Bioscoop Park" berada di "Handels Straat", sekarang Jalan Siliwangi. Sebelum bioskopnya musnah, namanya sempat diganti menjadi Bioskop Sukasari.

Film-film bollywood tahun lima puluhan yang dibintangi oleh Raj Kapoor, Nargis, Nutan, Dev Anand, Dilip Kumar, Meena Kumari dan Mala Sinha, juga ditayangkan di "Bioscoop Maxim" di "Tjikeumeuh weg" atau sekarang menjadi Jalan Merdeka. Dahulu Bung Karno pernah berpidato di halaman "Bioscoop Maxim" untuk menggelorakan api revolusi kepada rakyat di kota Bogor. Dan sejak itulah warga Bogor menyebutnya "Bioskop Presiden". 

Pada tahun delapan puluhan, bekas gedung "Bioscoop Maxim" yang berada dekat dengan "Gang De Leau", atau yang sekarang menjadi Gang Menteng, oleh seorang pengusaha India, bekas bioskop maxim dibuka kembali dan namanya dirubah menjadi "Presiden Theatre" dengan tetap memutar film-film bollywod. 

Dahulu pada zaman Belanda sebelum ada tape recorder atau sekarang lebih "mutkahir" lagi dengan menggunakan perangkat audio yang bertekhnologi tinggi, alat untuk mendengarkan musik adalah dengan menggunakan piringan hitam, itupun tidak banyak yang memilikinya karena berharga mahal. Para pemuda peranakan Arab di Empang sangat menggemari lagu-lagu dari Hindustan, karena itu siapa saja yang menghafal lagu-lagu india yang lagi hits, maka akan didaulat untuk dinyanyikan dalam pentas orkes musik melayu kala ada pesta hajatan. "Acang" atau Hasan Baraja dan "Uceng" Husen Al Attas, keduanya bahkan di ongkosi tiket masuk bioskop untuk menonton setiap ada pemutaran film india terbaru, berhari-hari hingga pemutaran film selesai di tayangkan di bioskop hanya untuk diminta menghafal lagu-lagu terbaiknya. Nantinya mereka akan ditampilkan dan menyanyi lagu-lagu hafalannya diatas panggung "samar" orkes melayu.

Di dekat Jembatan Merah terdapat "Bioscoop Central" yang berada di "Bantammer weg" atau Jalan Kapten Muslihat. Setelah Indonesia merdeka namanya dirubah menjadi Bioskop Taruma. Disamping "Bioscoop Central" ada jalan yang juga dinamakan "Bioscoop weg", jalan tersebut menghubungkan  "Gasfabriek Weg" karena ada Pabrik Gas disana, sekarang menjadi Jalan MA Salmun. Warga Bogor hingga tahun sembilan puluhan masih menyebutnya dengan nama Gang Bioskop. Kini nama itu berikut bioskopnya sudah hilang, namanya jalannya sudah berubah menjadi Jalan Mayor Oking Djajaatmadja. Dipakainya nama itu oleh Pemerintah adalah untuk mengenang dan menghormati jasa salah seorang pahlawan kota Bogor yang kediamannya bertetangga dekat dengan keluarga penulis di "Biscoop Weg". Dahulu di Gang Bioskop suasananya sangat asri dan rimbun dengan deretan pohon-pohon kenari besar disepanjang jalan dan sangat jarang dilalui kendaraan yang lalu lalang, kecuali becak dan gerobak-gerobak yang ditarik kuda pengangkut bahan-bahan bangunan, salah satunya berasal dari toko bahan bangunan "HA BATARFIE". 

Tidak jauh dari "Bioskop Taruma" yang berada dekat dengan jembatan merah di ujung depan Gang Mantarena, ada "Toko Bombay" yang menjual barang-barang klontong milik keluarga India totok beragama Hindu. Dahulu diatas tokonya masih terdapat ornamen khas India, tapi kini hilang karena pemerintah kota tidak menjadikannya bangunan pertokoan "tua" yang berada di kawasan lama "devris" tersebut sebagai cagar budaya yang layak untuk dilindungi.

Mutian adalah nama seorang totok asal Hindustan beragama Hindu yang membuka usaha Pangkas Rambut di "Park weg". Ia beristrikan peranakan cina yang memperkerjakan beberapa orang tenaga "tukang cukur". konon "Barber Shop" miliknya adalah langganan Bung Karno. Lokasinya persis di dekat "wihelmina park" atau warga bogor menyebutnya "kebon kembang". Kini bekas "wihelmina park" sebagiannya menjadi Taman Ade Irma Suryani dan Masjid Agung Pasar Anyar. Sedangkan nama "Park weg" diganti menjadi Jalan Dewi Sartika. Bekas "Barber Shop" milik Mutian yang di sewa dari keluarga Al-Idrus sudah beralih menjadi milik keluarga Al-Thalib dan berdiri salah satunya Toko Sumber Baud. Meski Mutian seorang Hindu, tapi Ia berhubungan erat dengan pendatang muslim asal Pakistan, Ia berteman akrab dengan Alladad Khan.

Dahulu di sekitar pabaton dan lebak pilar juga banyak dijumpai para pendatang dari Hindustan yang menetap disana. Tapi sayangnya penulis belum sempat melakukan penelusuran jejak dan keberadaan generasi mereka. Menurut keterangan Mahmud Khan, anak sulung Alladad Khan, Ia sering menemani "abah" mendatangi rumah mereka, terutama yang rumahnya berada dekat dengan kediaman "Ishak Djuarsa", sekarang berada di kawasan Air Mancur di Jalan Sudirman yang dulunya  adalah Witte Pall atau Pilar Putih sebagai titik triagulasi primer Pulau Jawa yang dibangun oleh Gubernur Jenderal DJ De Eerens. Karena itulah orang-orang menamakan kampung yang berada dibawah jalan "boulevard" itu dengan sebutan Lebak Pilar.

Di kawasan pecinan Jalan Pedati Bogor ada toko milik totok Hindustani yang menjual rempah dan bahan obat-obatan.Pemiliknya adalah Tabib Ismail bin Najamuddin kelahiran punjab 1894. Ia belajar mempelajari cara pengobatan klasik menggunakan racikan rempah-rempah dari negeri asalanya di India. 

Tabib Ismail tiba di Buitenzorg bersama seorang keponakan laki-lakinya dari Hindustan dan kemudian berniaga dengan membuka toko permadani dan permata di "Pasar Baru" Bogor. Tapi Usahnya itu tidak berlangsung lama karena musibah yang menimpanya.Ia-pun kemudian beralih profesi sesuai keahlian yang dimilikinya dengan menjadi tabib dan membuka toko yang menjual rempah dan obat-obatan di Jalan Pedati, kawasan pertokoan di pecinan Bogor. 

Tabib Ismail menikahi Halimah gadis peranakan Hindustan anak pendatang asal Madras Tuan Muhammad yang sempat tinggal di Groote weg, sekarang menjadi jalan Jenderal sudirman. Sejak menikah sebelum tinggal di Jalan Pedati, Ia dan istrinya sempat tinggal di Empang di dekat sungai cisedane dan kemudian pindah di dekat "dam" atau Pintu Air Pulo Empang. Tabib Ismail wafat di Bogor dan dimakamkan di TPU Dreded pada akhir tahun 1964.

Tidak jauh dari pecinan di jalan Pedati, juga terdapat seorang totok asal suku Pusthun yang tinggal di kawasan "Kebon Jukut". Orang-orang memanggilnya Toean Moebin.  Berbeda dengan Tabib Ismail yang beristrikan peranakan India, Tuan Mubin pertama kalinya menikahi wanita pribumi. Istri terakhirnya adalah peranakan Arab, saudari kandung Mualim Saleh yang tinggal di kampung Muara. 

Di "Kedoeng Halang" sebelum talang yang dahulunya bagian dari "Pos weg" atau Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Hindia Belanda pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels, untuk menghubungkan Buitenzorg dengan Batavia yang karenanya pernah disebut juga sebagai "Jalan Jakarta" atau kini dinamakan Jalan Raya KS Tubun, ada peranakan Pakistan yang membuka usaha sapi perah. Salah satu anak perempuannya dipersunting oleh Muhammad Yusuf anak totok Pakistan Haji Abdul Kadir yang menetap di Empang.

PENDATANG HINDUSTAN DI EMPANG

Di Empang, pendatang dari Hindustan yang pertama berimigrasi dan tiba di Buitenzorg diperkirakan datang pada pertengahan tahun 1800 adalah Toean Sharifoedin dan Toean Fachroeddin. Keduanya disebut-sebut berasal dari district Hoshiarpur di Provinsi Punjab, sekarang menjadi negara bagian India. Lidah orang sunda kurang fasih melafalkan kata asing, nama Fachroeddin lebih akrab dilisannya dengan menyebut "Tuan Pakurudin". Fachroeddin menikahi wanita pribumi sunda asal  "Preanger" dari desa Cimacan. Sedangkan Toean Sharifoeddin menikahi wanita pribumi dari keluarga ningrat Nji Raden Koeraesin, Ia adalah cucu Raden Adipati Soeriawinata atau yang dikenal Rd.Hadji Moehammad Sirodz berjuluk Dalem Sholawat. Ayahnya adalah Rd.Hadji Moehammad Sholeh Natadilaga anak kesebelas "Dalem Solawat" yang wafat di Purwakarta pada tanggal 9 Mei tahun 1923.

"Dalem Solawat" pemangku Bupati Bogor yang wafat dan di makamkan di Empang pada 13 Mei 1872. Ia adalah penerus ayahnya Raden Aria Wiranata atau yang dikenal "Dalem Sepuh" sebagai Bupati pertama yang berkedudukan di Soekaati sejak kepindahannya dari Tanah Baru. "Dalem Sepuh" yang wafat di Mekah pada 1847 dan puteranya "Dalem Solawat" berjasa besar dalam pembangunan masjid Agung Empang, serta berjasa mengembangkan dakwah dan syiar Islam di kota Bogor. 

Dari pernikahan Toean Sharifoeddin dengan Nji Rd.Koeraesin salah seorang anak laki-lakinya dinamai Abdoel Azis, diperkirakan lahir sebelum tahun 1900. Pada tahun 1919 Abdoel Azis sempat mengunjungi Hindustan, menemui keluarga ayahnya dan pernah menetap untuk beberapa lama. Sedangkan Toean Fachroeddin satu diantara salah seorang anaknya bernama Fatimah, warga di Empang memanggilnya "Ka Empat Pakurudin". 

Abdul Aziz dan Fatimah keduanya kelak kemudian menikah dan darinyalah lahir generasi ketiga dari pendatang pertama Hindustan yang menetap di Empang. Dua anak perempuannya kelak dipersunting oleh dua orang totok Pakistan, dua orang anak perempuan lainnya menikah dengan peranakan India, salah satunya adalah Zainab yang dipersunting oleh Hadji Alidji Umar bin Amar Amandji, peranakan India nusantara asal kota surat di Gujarat (wafat di Jakarta dan dimakamkan di Bogor 20/08/2003).

Abdul Aziz bin Sharifuddin wafat di Bogor tahun 1961 dan dimakamkam satu komplek bersama istri, anak dan beberapa menantunya di TPU Dreded Bogor.

Allahyarham Abdul Azis bin Fachroeddin dan keluarganya

Toean Fachroeddin dan Toean Sharifoeddin keduanya wafat tidak terselusuri dimana dan kapan wafatnya. Sedangkan Nji Raden Koeraesin istri Toean Sharifoeddin puteri pasangan Raden Hadji Moehammad Sholeh Natadilaga dengan Nji Raden Ratna, wafat di Bogor dan dimakamkan dalam cungkup pemakaman "Keluarga Besar Dalem Sholawat" di Empang. Kini masuk dalam cagar budaya dan purbakala yang dilindungi oleh undang-undang.

Profesor Dr. Ahmad Bey, dosen senior dan pakar pada bidang sains atmosfer dan Evapolimatonomi yang menyelesaikan gelar doktornya (Ph.D) di Wisconsin University, Amerika Serikat, adalah cucu dari Abdoel Azis, putera dari pasangan Hadji Alidji dan Hajjah Zainab. Ia juga merupakan menantu Ustadz Abdul Kadir Hassan, anak dari seorang tokoh dan ulama terkemuka Indonesia Ustadz A Hassan pendiri PERSIS, atau yang lebih dikenal sebagai Hasan Bandung yang mengajari Bung Karno tentang ajaran agama Islam lewat korespondensinya selama pembuangan di Endeh. A Hassan adalah peranakan Hindustan asal Madras kelahiran singapura tahun 1887 dan wafat di Surabaya pada 10 November 1958.

Toneel adalah pementasan sandiwara diatas panggung.Toneel diambil dari bahasa belanda, tapi pribumi mengucapkannya Tunil.  
Beberapa kelompok Tunil sempat ngetop di Hindia Belanda diantaranya Opera Miss Riboet dan Dardanella. Dardanella yang terbentuk pada tahun 1926 sudah sukses mementaskan sandiwaranya hingga ke empat benua, termasuk di Hindustan. 

Di dekat bantaran kali Cisadane, menyeberangi jembatan dari arah pasar ledeng di Empang, ada bekas pemain Tunil, namanya Nji Mastiah. Ia telah berkarir selama puluhan tahun dalam kelompok Tunil yang sering pentas di Hindustan. Nji Mastiah adalah wanita Sunda kelahiran Bogor. Dalam dunia seni peran pada panggung Tunil, ia lebih dikenal dengan nama Miss Rijan. Bisa jadi nama perannya itu berhubungan dengan lakon yang dimainkannya bertemakan tentang Hindustan.

Sebagai seorang bekas anggota kelompok Tunil yang memainkan lakon tentang Hindustani dan menetap lama di negeri Hindustan, Miss Rijan mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa urdu.  Kemampuan berbahasa urdunya itulah yang kemudian jadi andalan para pendatang Hindustan di Empang. Ia seolah menjadi guide atau bahkan penghubung untuk segala urusan. Konon karena ia adalah seorang pribumi, namanya pernah dipakai ketika ada seorang totok Hindustani membeli sebidang tanah untuk rumah tinggal. Hal ini terikat peraturan pemerintah tentang pemberlakuan larangan memiliki hak atas persil oleh warga negara asing.

Miss Rijan wafat tahun 1948 dan dimakamkan di TPU Dreded. Miss Rijan tidak memiliki anak kandung tapi punya anak asuh yang sempat dinikahi oleh dua orang pendatang asal Madras India. Dari hasil perkawinan anak asuh Miss Rijan dengan Hindustani itu diperoleh tiga orang anak perempuan, Hawa, Khadijah dan Asiah. Asiah menikah dengan  peranakan Arab. Khadidjah dan Asiah sebelum keduanya menikah sempat tinggal bersama keluarga Allahad Khan.

Khadidjah "Ijah" (berdiri di kiri) bersama keluarga Allahyarham Alladad Khan

Di pertengahan tahun 30an tiba di Empang pendatang baru dari Hindustan. Mereka tiba di Nusantara menggunakan kapal uap setelah berbulan-bulan berlayar mengarungi gelombang samudera. Sebagaimana para pendatang asal Hadramaut, merekapun hijrah tanpa menyertakan istri yang dibawa dari negeri asalnya. Mereka menikahi wanita pribumi sunda, walau ada satu diantaranya menikah dengan wanita peranakan Hindustani yang sudah lama menetap di Hindia Belanda.

Mereka pendatang baru di Empang ini adalah dua orang kakak beradik yang berasal dari sebuah district di kota Peshawar, sekarang menjadi ibukota North West Frontier Province yang berada di negara republik Islam Pakistan dan berbatasan dengan negara Afghanistan. Sebelumnya sempat menetap di kampung Arab Pekojan di Batavia, mereka adalah Abdul Kadir bin Abdurrahman Akhoon Khail dan Habiburrahman bin Abdurrahman Akhoon Khail. Kedatangannya diiringi pula dengan ibu dan pamannya, Kanamzahan binti Nulab Khan (ibu) dan Mawlawi Abdullah bin Nulab Khan (paman).

Mawlawi atau ada yang menulis dengan ejaan Moulvi adalah gelar yang diberikan kepada seorang ulama sunni. Gelaran ini juga memiliki kesamaan dengan istilah Maulana, mullah atau Sheikh. Secara umum Mawlawi atau Maulana merupakan seorang pendidik agama atau guru.Karena itu sejak kedatangan Mawlawi Abdulah bersama saudara perempuannya, warga setempat di empang memanggilnya dengan panggilan "Tuan Guru". Di Empang Tuan Guru berhubungan erat dengan ulama-ulama di Bogor, terutama dengan Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad dan ulama allawien lainnya.

Sedangkan saudarinya Kanamzahan, warga empang akrab menyebutnya dengan panggilan "Ibu Negri". Ibu Negri menjadi satu-satunya perempuan pendatang asal Hindustan yang menetap di Bogor hingga akhir hayatnya. Ibu Negri bertubuh besar dan selalu mengenakan shalwar kameez pakaian khas afghanistan yang biasa digunakan oleh wanita suku Pasthun di Peshawar. Shalwar adalah celana yang besar "bergelembung" dibagian paha dan betis tapi dibagian bawahnya menyempit, seperti celana "ali baba". Adapun kameez adalah blus yang panjangnya sampai ke lutut. Shalwar dan Kameez berasal dari bahasa arab, yaitu "qamis dan sirwal". 

Perempuan suku Pushtun memiliki karakter yang kuat, rajin dan setia. Perempuan suku Pushtun terbiasa melakukan seluruh pekerjaan rumah tangga dan juga membantu suami mereka di ladang. Karakter tersebut terbentuk oleh budaya mereka dan karakter itu ada pada Ibu Negri. Ibu Negri yang disapa amah oleh anggota keluarganya, seolah menjadi tulang punggung dan penentu dalam urusan rumah tangga keluarga besarnya.

Amah diambil dari kata "nanimah" yang dalam bahasa urdu artinya nenek. Satu-satunya bahasa yang digunakan oleh Ibu Negri adalah bahasa Pasthun dan sedikit menguasai bahasa Melayu. Peran Ibu Negri dalam keluarga besarnya menjadi lebih penting karena Ia mengajari memasak makanan khas negrinya kepada istri-istri wanita pribumi kedua anaknya, dan juga kepada Aisyah, istri saudara sepupunya Alladad Khan. 

Tuan Guru Mawlawi Abdullah wafat pada masa pendudukan Jepang dan Ibu Negri wafat tahun 1951. Keduanya dimakamkan di TPU Dreded Bogor. 

Dua bersaudara Haji Abdul Kadir dan Habiburrahman menikah dengan wanita pribumi Sunda. Sedangkan istri ketiga Abdul Kadir adalah wanita peranakan pakistan, anak pendatang dari Hindustan yang sudah menetap lama di Cisaat- Sukabumi. Abdul Kadir sempat menikah untuk yang kedua kalinya dengan ibu mertua K.H Maksum atau terkenal dengan panggilan Mualim Maksum, tokoh dan ulama organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) di kota Bogor. Istri pertama Haji Abdul Kadir adalah Siti Rohani, anak saudagar pribumi Hadji Abdoel Moetholib dari "Desa Tjiboeloeh di districht Kedoeng Halang di Boeitenzorg".

Haji Abdul Kadir wafat di Sukabumi dan adiknya Habiburrahman wafat di Empang dan dimakamkan di TPU Dreded pada tahun 1983. 

Pendatang berikutnya adalah Abdul Aziz Mawn. Ia berasal dari wilayah Punjab di Hindustan yang setelah pembagian Kemaharajaan Britania, kota kelahirannya menjadi bagian dari negara Pakistan. Abdul Azis Mawn menikahi Aisjah puteri pasangan Abdul Azis dan Fatimah. Di Empang, orang-orang lebih akrab menyapanya dengan panggilan "Ka Ecah Pakurudin", nama "beken" yang justru diambil dari nama kakeknya Toean Fachroeddin. 

Salah seorang puteranya Afzal, aktif dalam kegiatan kepemudaan di Empang. Ia ikut ambil bagian pada gelombang aksi eksponen 66 bersama KAPPI dan KAMI dalam  menumpas komunisme. Afzal juga termasuk salah satu pemain andalan klub sepak bola di kota Bogor dan aktif menjadi anggota kesatuan unit Drum Band Al-Irsyad cabang Bogor.

Berdaulatnya negara Pakistan  setelah pemisahan dengan India, Hubungan Indonesia yang sebelumnya sudah terjalin erat terutama antara Sukarno dan Muhammad Ali Jinnah ditandai dengan pertukaran misi diplomatik antara kedua negara. Duta pertama Indonesia untuk Pakistan ditunjuk Mr.Idham, sedangkan Dr Omar Hayat Malik Khan dilantik sebagai Duta Besar Pakistan yang pertama untuk Republik Indonesia yang memulai tugasnya di Jakarta pada tanggal 1 Juni 1950. Bagi Sukarno bulan Juni adalah bulan "bersejarah", pada bulan ini Sukarno dilahirkan dan pada 1 Juni itu pula Pancasila sebagai falsafah negara dikukuhkan. Karena itulah Sukarno memilih tanggal 1 Juni untuk penugasan pertamanya kepada perwakilan negara sahabatnya Pakistan di Indonesia. Bagi Sukarno Pakistan punya tempat khusus untuk bangsa Indonesia dan  bahkan dirinya pernah menyatakan telah berhutang nyawa kepada Pakistan. Atas bantuan "Tabib Sher" totok Pakistan di Jakarta, Sukarno selamat dari kepungan dan sergapan tentara sekutu setelah mendapatkan bantuan dan diamankan oleh pasukan Gurkha yang anggota kesatuannya mayoritas adalah tentara muslim yang berasal dari Pakistan. 

Pada masa pendudukan tentara sekutu ke Indonesia yang diboncengi oleh Belanda, Bapak pendiri Pakistan Muhammad Ali Jinnah yang bersimpati terhadap perjuangan Umat Islam Indonesia telah mendorong kepada tentara muslim yang tergabung dalam tentara Kemaharajaan Britania untuk bersimpati dan membantu rakyat Indonesia yang sedang berjuang melawan penjajahan Belanda. Akibatnya tidak kurang dari 600 tentara Gurkha yang beragama Islam kemudian membelot dan bergabung dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. sebanyak 500 orang diantaranya gugur di medan jihad dan yang selamat antaranya adalah Zia-ul-Haq mantan Presiden Pakistan yang pernah bertugas di kota Surabaya dan menjadi saksi "Gema Takbir" bergema tatkala menjadi pekik perjuangan melawan penjajah oleh Bung Tomo.

Setelah dalam penugasannya sebagai Duta Besar Pakistan yang Pertama untuk Indonesia, Dr. Omar Hayat Malik Khan berksempatan mengunjungi masyarakat Pakistan yang berada di kota Bogor dan kedatangannya disambut dan diterima di kediaman Abdul Azis Mawn di Jalan Lolongok No.12 Empang Bogor. Dr. Omar Hayat Malik Khan juga pernah berziarah dan menaburkan bunga di atas pemakaman para "syuhada" eks tentara muslim yang tergabung dalam pasukan Gurkha dan gugur bersama dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Dr. Omar Hayat Malik Khan adalah diplomat Pakistan yang pernah mendapatkan tugas sebagai Duta Besar di beberapa negara. Ia berdarah "Peshawar" dari suku Pusthun, karena itu dengan Alladad Khan keduanya memiliki kedekatan dan hubungan yang spesial. Bahkan sering kali hampir setiap akhir pekan, Alladad Khan selalu dijemput oleh sopir pribadinya Ubaidillah Khan untuk menemaninya di rumah "pesenggrahan" dinasnya yang berada di Jalan Ceremai, Sempur Bogor. Demikian pula sebaliknya dengan Dr. Omar Hayat Malik Khan, Ia juga sering datang bertandang tanpa protokoler ke kediaman Alladad Khan di Jalan Lolongok Tengah No.4. Dr.Omar Hayat Malik Khan, wafat di Peshawar pada 28 Mei 1982.

Adapun Abdul Aziz Mawn wafat dalam lawatan bisnisnya di Singapura dan di makamkan di kota itu pada tahun 1960.

Kunjungan Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Allahyarham Dr.Omar Hayat Malik di kediaman Allahyarham Abdul Aziz Mawn bersama masyarakat Pakistan Bogor di Jalan Lolongok No.12, Empang

Pada pertengahan tahun 1939, Tiba di Buitenzorg Alladad Khan bin Mehmoud Khan. Ia berkerabat dekat dengan Tuan Guru dan Ibu Negri yang berasal dari suku Pusthun. Lahir tahun 1889 disebuah distrik yang bernama Ila Hazara di kota mansehra, kini menjadi bagian dari Provinsi  Perbatasan Barat Laut atau North West Frontier Province Pakistan yang beribu kota Peshawar. Secara genetika Ia mengklaim sebagai seorang afghani, termasuk kultur, fisik dan karakter yang ada pada dirinya. 

Pashtun atau Pushtun atau ada juga yang menyebutnya Pattan, adalah suku yang terdapat di Peshawar dan tersebar di Afghanistan. Suku besar Pattan terdiri dari puluhan suku yang orang-orangnya lazim menggunakan gelar "KHAN" di depan namanya. Suku "Pattan" disebut-sebut keturunan dari Raja Afghana, cucu Raja Saul. Tapi ada juga yang menyebutkan nenek moyangnya berasal dari bangsa Arya kuno. 

Suku Pushtun dikenal ramah, perhatian,baik dan loyal terhadap sahabat, namun terhadap musuh-musuhnya mereka sangat tidak mengenal kompromi. Kehidupan mereka sangat didedikasikan untuk keyakinan agama mereka dan kehormatan diri, suku dan bangsanya.

Suku Pushtun telah memainkan peran penting di Pakistan dan Afghanistan dan bahkan di India. Dari suku inilah lahir para pemimpin muslim, agamawan, politisi, birokrat, ilmuan, tentara, intelektual, budayawan hingga seniman dan aktor ternama bollywood. 

Claim keluarganya memiliki garis keturunan yang sampai kepada Syeda Bibi Fatima-tuz Zahra (R.A) yang menikah dengan Hazrat Ali ibne Abu-Talib (R.A), (Kalifah ke-empat Khulafa Ur Rashideen) dan yang juga sepupu termuda Muhammad Rasulullah Salallahu alaihi wassalam. Penyebaran keturunan Hazrat Ali dari sahara arabia ini disebut-sebut hingga ke Khyber Pakhtunkhwa, dan dari itulah kemudian keturunannya memiliki pengaruh dan ada yang menjadi penguasa dalam bentuk monarki dan spiritual di Afghanistan dan Peshawar, hingga menyebar luas keseluruh wilayah Hindustan.

Claim itulah yang kemudian di depan namanya berhak menyandang gelar syed atau sayyid. Selain gelar syed, di awal dan di akhir namanya tertulis  "khan", nama clan khan dalam pengulangan tersebut sebagai penegas bahwa ia merupakan suku pasthun atau pattan yang bergaris keturunan kepada Hazrat Ali radiallahu'anhu. Alladad Khan sendiri tidak menggunakan gelar "syed" itu didepan namanya, demikian juga pengulangan nama clan "Khan" diawal dan di akhir namanya tersebut. Tapi ayahnya menulis namanya dengan "Syed Khan Mehmoud Khan begitu juga dengan datuknya Syed Khan Seid Khan

Di negara asalnya Pakistan, Alladad Khan pernah ikut dalam pemberontakan melawan pemerintahan kolonialisme Inggris di bawah pimpinan Liaquat Ali Khan. Liaquat Ali Khan adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam pembagian India dan kemerdekaan Pakistan tahun 1947. Karena itu jiwa nasionalismenya untuk negara Pakistan tidak pernah pudar. Pada setiap hari kemerdekaan Pakistan, Ia tak pernah luput untuk mengibarkan bendera kebangsaan Pakistan di halaman rumahnya setiap tanggal 14 Agustus sejak berdaulatnya Pakistan tahun 1947.

Bendera kebangsaan Pakistan yang dikibarkan pertama kali 14 Agustus 1947 oleh Allahyarham Alladad Khan yang dibuat dan dijahit oleh istrinya Aisyah yang kini masih disimpan dan menjadi koleksi peninggalan keluarga Allahyarham Alladad Khan

Alladad Khan juga aktif mengikuti perkembangan negara Pakistan baik melalui radio dan informasi yang diperolehnya dari kedubes Pakistan di Jakarta lewat majalah yang diterbitkan khusus dalam edisi bahasa Indonesia. Majalah itu tidak hanya disebarkan kepada masyarakat Pakistan yang ada di Bogor, juga dibagikan secara rutin kepada sahabat-sahabatnya yang Hadharim baik dari kalangan "wulaiti" dan keluarga peranakan Arab yang ada di Bogor. Bahkan pada setiap "National Day" yang selalu dihadirinya di kantor Kedutaan Besar Paksitan di Jakarta, Ia kerap kali mengajak serta aktivis Pemuda Al-Irsyad Bogor. Tujuannya adalah memperkenalkan idiologi Islam sebagai landasan perjuangan kemerdekaan Pakistan dan mengenalkan pemikiran Iqbal.
Sebelum tiba di Jawa, Alladad Khan sempat menetap dan berniaga di singapura dan melanjutkan perjalanannya ke Krui di Sumatra (sekarang Provinsi Lampung).Di Krui ia tinggal bersama keluarga "Al  Bathati", saudagar hadharim yang telah sukses berdagang hasil bumi. Di dekat danau Ranau yang terkenal, sudah lebih dulu ada dua bersaudara pendatang asal Peshawar yang menetap di pulau Sumatra, mereka adalah Abdurrahman Khan dan Abdul Qoyyum Khan yang berkerabat dekat dengan Alladad Khan dan juga bersaudara kandung dengan Tuan Guru dan Ibu Negri.

Di Jawa, Alladad Khan menikah dengan Aisyah binti Salim, wanita pribumi dari suku Betawi kelahiran kampung Rawa Belong yang sudah menetap cukup lama di Pekojan, Batavia. Aisyah tinggal bersama famili dekat dari pihak ibunya yang juga bekas ibu mertua dari suami pertamanya anak saudagar peranakan Arab Syech Oemar Tharmoom di kampung Janis Pekojan. "Jide Salme" atau Salmah bekas ibu mertuanya adalah anak asuhan Syech Muhammad Al Baghowi, seorang saudagar pendatang asal Hadramaut yang tinggal di Pekojan Batavia.

Alladad Khan wafat di Bogor pada hari sabtu pukul 21.00 tanggal 18 Januari 1969. Dimakamkan esok harinya pada Ahad 19 Januari pukul 10 pagi. Jenazahnya diantar tidak kurang dari seribu orang pelayat ke TPU Dreded Bogor.

Allahyarham Alladad Khan bersama istri dan empat orang anaknya. Semua anaknya berjumlah 10 orang terdiri dari 6 putera dan 4 puteri

Muhammad Rasyid adalah totok Pakistan terakhir yang menetap dan tiba di Empang sesudah Indonesia merdeka tahun 1947, atau bersamaan dengan tahun kemerdekaan Republik Islam Pakistan. Muhammad Rasyid mempersunting wanita peranakan India generasi ketiga puteri pasangan Abdul Aziz dan Fatimah. Dalam komunitas warga Pakistan, Ia adalah koordinator terakhir Pakistan Leaque di Bogor. Muhamad Rasyid wafat di Bogor pada 25 Mei 1977.

Di Empang, sejak etnis asal Hindustan dikelompokan kedalam koloni Arab oleh Pemerintah kolonial, hubungan terjalin sangat harmonis. Para peranakan  Hindustan yang selanjutnya ditulis Pakistan berbaur dan menyatu seolah satu etnis yang sama, berkomunikasi dalam campur kode dan kata bahasa arab kaum peranakan, juga ditempa oleh lembaga pendidikan yang sama dan bahkan diantaranya kawin mawin sehingga terbentuk ikatan kekeluargaan dan menguatnya hubungan emosional dalam pertalian persaudaraan yang lebih erat. Mereka juga memiliki ikatan emosional saling berkaitan dan bertalian dengan pribumi, karena ibu-ibu mereka adalah wanita pribumi.

Demikian pula dalam hal makanan, sama-sama penyuka olahan daging kambing dengan cita rasa yang khas. Termasuk menu khas cane atau disebut roti mariyam dikalangan Hadharim, hanya saja tekstur roti cane atau capati sedikit berbeda. Cane, capati atau roti mariyam dan sayur kari kini sudah memasyarakat di kota Bogor, setelah dikembangkan oleh "Ka Nung" dan memiliki nama yang unik "Roti Konde". "Ka Nung" menjadi pionir industri makanan khas Timur Tengah, dan bahkan sekarang sudah menjadi makanan khas Bogor.

Di Empang, Alladad Khan akrab disapa "ami ladad" oleh anak-anak peranakan Arab, sebuah panggilan yang lazim kepada orang yang sudah dituakan dalam kalangan hadharim. "Ami ladad" bergaul dengan arab totok (wulaiti) dan ada dalam "majlas-majlas" bersama mereka, sebagaimana rutinitas khas kaum hadharim di setiap koloni.

Dalam hal pemikiran dan perbedaan pemahaman keagamaan, totok Pakistan cenderung netral dan tidak berpihak kepada satu pemahaman. Para pendatang yang berasal dari punjab mereka lebih condong kedalam pemahaman tradisional. Sedangkan yang berasal dari Peshawar mereka cenderung berafiliasi kepada gerakan pembaharuan modernis Islam seperti Al-Irsyad, terutama para peranakannya hingga kini. Alladad Khan contoh diantaranya, Ia akrab dengan kalangan dan tokoh Al-Irsyad Bogor, berhubungan dan bersahabat karib dengan para ulama Al-Irsyad. Meski Ia juga memiliki hubungan yang erat dengan kalangan tokoh-tokoh allawien terutama Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad dan anaknya Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Allahyarham Alladad Khan ditengah duduk kedua dari kanan menggunakan "karaqul" bersama tokoh dan Keluarga Besar Al-Irsyad Bogor

Para pendatang Pakistan totok, hubungan mereka di empang terjalin cukup baik dan diantaranya ada yang sangat dekat. Selain memiliki ikatan emosional karena sebangsa, juga sama-sama berada di negeri Almahjar (tempat hijrah). Dewasa ini di Indonesia, khususnya di Jakarta, hubungan persaudaraan dikalangan generasi pemuda keturunan Pakistan terjalin kembali dengan tidak melihat asal usul dari India maupun Pakistan. Mereka membuat komunitas 786 yang awalnya berbasis medsos karena kesamaan satu agama. Secara kelembagaan, mereka membentuk Yayasan Persaudaraan yang dahulu dibeberapa tempat forum tersebut dinamakan Pakistan League. Selain kegiatan berbasis sosial, Yayasan Persaudaraan selapas Iedul Fitri senantiasa menyelenggarakan Halal Bi Halal untuk memperkuat silaturrahim kaum peranakan India dan Pakistan muslim di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Beberapa keluarga Pakistan dan India muslim ada yang masih memelihara tradisinya dengan baik, termasuk cara berpakaian kaum wanitanya, walaupun sudah termodifikas dan pada umumnya sama dengan pakaian wanita peranakan Arab pada umumnya.Kaum wanitanya dahulu berkain batik dan berkebaya, tapi sekarang mereka sudah memakai abayah. Sedangkan untuk kaum lelaki totoknya dahulu mereka menggunakan songkok Qarakul bagi yang berasal dari Pakistan.Songkok ini menjadi ciri khas bapak pendiri Pakistan Muhammad Ali Jinnah, karena itu songkok ini dibeberapa tempat dinamakan Qarakul Jinnah.

Penggunaan bahasa urdu lazim digunakan diantara Pakistan totok, sedangkan bahasa suku pasthun dipakai oleh mereka yang berasal dari peshawar. Kosa kata bahasa urdu ada yang masih digunakan walaupun sangat terbatas dan sangat minim diucapkan, diantaranya hanya untuk istilah-istilah panggilan dalam kekerabatan seperti bajih, amah atau nani dari kata nanimah, caca, caci, mamu, baiya atau lala. 

Kontribusi para pendatang asal Pakistan untuk kemerdekaan Indonesia juga tercatat dalam sejarah. Sejak pendaratan pasukan tentara sekutu yang di boncengi oleh NICA ke Indonesia yang menyertakan di dalamnya pasukan British India dari Resimen Gurkha, sebagian besar dari mereka yang  beragama muslim yang ditempatkan di Bogor sering berkunjung menemui totok Pakistan yang menetap di Empang. Mereka berkomunikasi dengan bahasa yang sama. Sebagaian dari pasukan Gurkha tersebut ada yang berasal dari Peshawar dan dengan Alladad Khan komunikasinya menggunakan bahasa Pasthun. Pasukan Muslim Gurkha datang dari markasnya di sekitaran istana Bogor menemui Alladad Khan yang kala itu masih tinggal di Jalan Sedane. Tak jarang kedatangan mereka lengkap dengan kendaraan perangnya seperti Teng Baja atau lisan sunda menyebutnya "teng waja". Tentu saja menjadi tontonan gratis warga setempat, bahkan anak dan kerabat Alladad Khan berkesempatan menaikinya. Jumlah puluhan personil pasukan Gurkha tersebut tidak hanya bertandang ke rumah Alladad Khan saja, akan tetapi menemui para pendatang Pakistan totok lainnya.

Dari totok Pakistan yang menetap di Empang inilah, para tentara Gurkha mendapatkan informasi dan gambaran utuh tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia yang mayoritas rakyatnya adalah Muslim. Tentara Gurkha muslim menjadi bersimpati dan bahkan ada yang membelot serta menyalurkan senjatanya buat para pejuang Indonesia. Beberapa eks pasukan Gurkha bahkan ada yang tidak kembali pulang, mereka beristrikan wanita pribumi sunda dan menetap di Bogor.

Sejak setelah tahun 1947, di setiap tahunnya warga masyarakat Pakistan hampir tak pernah absen menyelenggarakan peringatan hari kemerdekaannya yang selalu dilangsungkan di Gedung Nasional Bogor bekas Buitenzorgsche Wedloop Societeit yang dibangun sejak 1853. Sejumlah tokoh nasional selalu dihadirkan termasuk diantaranya  Mr.Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya. Wulaiti kaum totok Hadharim dan peranakannya juga diundang dan ikut menghadiri peringatan ini juga senantiasa dimeriahkan oleh penampilan "pasukan seruling" Drum Band Al-Irsyad Bogor.

Salah satu photo yang diabadikan pada peringatan Hari Kemerdekaan Pakistan di Gedung Nasional Bogor.

 Tampak duduk di deretan depan menghadap tamu undangan di sebelah kiri Allahyarham Alladad Kham dan diujung kanan Allahyarham Abdul Azis Mawn. Dipodium memberikan sambutan Haji Abdul Kadir

Tulisan ini dibuat untuk mengenang tokoh yang menjadi suri tauladan penulis yaitu Allahyarham Alladad Khan yang juga ayah dari Ibunda penulis Allahyarhamha Zainab binti Alladad Khan dan kenangan disertai doa untuk ibu yang melahirkannya dan penulis sayangi dengan segenap hati dan jiwa Allahyarhamha Aisyah binti Salim dan juga dua orang tercinta anak-anaknya Noorzehan binti Alladad Khan dan Zubaidah binti Alladad Khan. Kenangan dan Doa untuk "Tuan Guru" dan "Ibu Negri", karib kerabat yang sudah wafat dan dua bersaudara Allahyarhamhum Abdul Kadir dan Habiburrahman. 

Kenangan dan doa untuk anak dan keturunan Allahyarhamhum Toean Fachroeddin dan Toean Sharifoeddin. Kenangan dan doa khusus untuk Allahyarham Haji Alidji Umar bin Amar Amandji, Allahyarhamhum wa almaghfirlahum Abdul Azis Mawn dan Muhammad Rasyid.

Semoga Allah merahmati mereka yang sudah wafat dan yang tertulis nama-namanya dengan ampunan dan ridhonya Allah SWT, dikumpulkan di Jannah-Nya bersama shalihin.

Tulisan ini juga di apresiasi untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Islam Pakistan ke 71 - 14 Agustus 1947 - 2018. Dan apresiasi hubungan bilateral kedua negara Indonesia dan Pakistan. Dirgahayu Indonesia dengan pekik "Merdeka" dan Dirgahayu Pakistan "Zindabat Pakistan"

Bogor, 30 Juli 2018
Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)