Moe'alim Ahmad Soerkati, De weg naar Kotabatoe, in Buitenzorg




Awal tahun 1941, Sjech Ahmad Soorkatty yang akrab di sapa moe'alim oleh murid-muridnya di Betawi, mulai merasakan rasa sakit di kepalanya. Derita sakit yang dirasakannya terus menerus sepanjang waktu. Terlebih sesudah membaca dan menulis, kesakitan yang dirasakannya diiringi dengan keluarnya air mata.

Semakin hari makin bertambah sakit yang Ia derita, berbagai cara dan pengobatan diikhtiarkan agar sakitnya segera dapat disembuhkan, termasuk memeriksakan penyebab sakitnya itu pada dokter spesialis mata yang ada di Batavia. Konon ada seorang tokoh yang menawarkan diri untuk memboyong Surkati berobat ke negeri Belanda tapi ditolaknya

Atas anjuran dokter berkebangsaan Belanda yang memeriksanya, kedua mata moe'alim harus di operasi. Masih dalam tahun 1940 itu juga, berlangsunglah operasi pada matanya untuk mencoba menghilangkan sakit di kepalanya oleh tim kedokteran di rumah sakit Central Bergelijk Ziekenin Rachting yang dikenal disingkat CBZ. Lokasinya terletak di Jalan Diponegoro Nomor 71, Jakarta Pusat. Dahulu nama jalan ini mendapatkan julukan Oranje Boulevard yang berasal dari nama William van Oranje, pemimpin utama pemberontakan Belanda melawan Spanyol.

Beberapa warga Betawi sampai kini masih banyak yang menyebut RSCM dengan nama CBZ, sekalipun nama ini telah dihapuskan sejak Indonesia merdeka. Setelah beberapa kali berganti nama, kini namanya resmi menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Cipto Mangunkusumo.

Tindakan operasi pada mata moe'alim Ahmad yang pertama di CBZ berhasil dengan baik dan berjalan lancar, tetapi tidak menyebabkan sakitnya menjadi hilang, bahkan semakin bertambah parah. Untuk yang kedua kalinya, dokter yang menangani pengobatan matanya menganjurkan agar ada tindakan operasi lanjutan dan tentunya akan beresiko terhadap fungsi matanya nanti. Dari hasil *oogarts onderzoek* inilah diketahui bahwa, fungsi matanyalah yang menjadi penyebab rasa sakit di kepala moe'alim Ahmad. Atas persetujuan dirinya dan sahabat dekat *moe'alim*, dokter *mencukil* matanya. Sejak itulah mata kirinya sudah tidak dapat melihat sama sekali. 

Ujian yang dialami oleh moe'alim Ahmad tidak sampai disini saja. Setelah operasi yang kedua dan hilangnya penglihatan di mata kirinya, sakit dikepala moe'alim tidak berangsur sembuh, malah makin bertambah rasa sakit yang dirasakannya. Tim dokter di CBZ dengan terpaksa harus mencukil mata kanannya. Cobaan ini dilaluinya dengan penuh tawakal dan sabar. Sebuah ujian yang akan merubah kehidupan moe'alim kelak dikemudian hari. 

Sesudah operasi ketiganya, sakit di kepalanya berangsur hilang dan sembuh tanpa ada rasa sakit yang tersisa sedikitpun. Hilang pula penglihatan kedua mata moe'alim yang selama hidupnya memancarkan cahaya ilmu dan petunjuk pada jalan kebenaran untuk memurnikan ajaran Islam yang suci.

Medische actie door een Nederlandse oogarts, peristiwa penting yang dialami tokoh penting ini ditulis dan dimuat oleh HAMKA dalam bukunya; "Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia".

Banyak pihak saat itu yang menduga, ini sengaja dilakukan penjajah untuk membutakan kedua mata sang *moe'alim* agar dapat mengurangi gerakan dakwahnya yang dianggap berbahaya dan dapat mengancam eksistensi pemerintah belanda di negeri jajahannya. Jiwa raga Surkati memang sudah beberapa kali dalam ancaman dan bahaya. Dari upaya gagalnya penembakan terhadap dirinya hingga kepada buah belimbing beracun, buah kesukaannya yang hampir merenggut nyawanya. Kisah tentang Muzni yang akrab disapa Bang Jeni, adalah bagian dari kisah tragis yang menimpa sosok *moe'alim* yang bernama lengkap Sjeich Ahmad bin Muhammad As Soorkatty Al Khazrajie Al Anshari, atau biasa namanya disebut Syaikh Ahmad Surkati, tokoh central dan pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah.

Sebelum dan sesudah proses operasi, selama dalam perawatan. Murid dan sahabat setianya silih berganti menemani Surkati saat  *ziekenhuisopname* di CBZ. Mereka terus berada disamping gurunya dan menemaninya dengan penuh telaten dan hormat. Hubungan mereka dapat dilukiskan bagaikan perhatian seorang anak kepada bapak kandungnya. Demikian pula sahabat-sahabat setianya sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang berjuluk *sjaichoel masjaich*. Tokoh yang dalam sebuah tesis master Bisri Affandi di McGill University, Montreal (Kanada) disebutnya sebagai "Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia". 

Adalah Sjech Hasan Argoebi, alumni Al-Irsyad Pekalongan dan pernah menjabat sebagai Kapitein der Arabieren yang meneruskan jabatan bapak mertuanya, Sjech Oemar bin Joesoef Manggoesy sebagai Hoofd der Arabieren di Batavia. Sjech Hasan Argoebi tokoh yang juga ikut mendirikan Yayasan dan pembangunan Masjid Agung Al-Azhar terkenal megah di Jakarta itu membawa guru dan panutannya Syaikh Ahmad Surkati selepas operasi matanya di CBZ untuk bersitirahat semantara waktu di sebuah pesanggrahan yang disewanya di kawasan berudara sejuk di kotabatoe yang berada di Buitenzorg, arah selatan dari kota Batavia (Jakarta). Dahulu kota Bogor pada masa kolonial dinamakan Buitenzorg yang secara harfiah kira-kira mengandung arti "Kota tanpa Rasa Risau". Tapi kini Bogor yang sekarang sudah jauh berkembang pesat dan semakin padat penduduknya, dengan hiruk pikuk dan kesibukan kotanya maka pada saat sekarang ini sudah layak dinamakan binnenzorg yang berarti secara harfiah kira-kira mengandung makna "Kota dalam kerisauan". Buiten dalam bahasa belanda artinya di luar, sedangkan binnen artinya di dalam, adapun zorg artinya adalah susah atau kesusahan (pusing).

Soeasana kotabatoe dalam karja peloekis senior mooi indie GA Kadir (koleksi pribadi)

Bogor di Zaman Belanda

Selama menetap untuk "rest", dua hari sekali Sjech Hasan Argoebi datang mengunjunginya. Secara bergiliran anak-anak muridnya datang menemaninya sepanjang waktu. Dalam sekali tempo, Sjaich Ahmad Soerkattie pergi ke Batavia untuk *controleer de gezondheid* di bekas operasi matanya, keberangkatannya dari Buitenzorg diantar oleh Hamzah bin Abud Askar, salah seorang kader muda Irsyadi cabang Bogor.

Kota Bogor terkenal dengan curah hujanya yang tidak mengenal musim, karena itu dijulukinya Bogor sebagai kota hujan. Demikian pula ketika Sjaich Ahmad Soerkattie menetap di pesanggrahannya, awan di kotabatoe selalu mendung dan hujan sepanjang waktu. 

Ia menerima cobaan yang sedang menimpanya dengan hati yang lapang, tabah dan sabar disertai tawakal untuk berserah diri kepada Allah. Hari-harinya banyak diisi dengan melantunkan kitabullah Al-Qur'an Al Karim sebagai obat pelipur lara. Ia hafidz 30 juz sejak masih usia belia.

Di kotabatu inilah, sebagaimana pada bait awal syairnya nama itu disebut, Syaikh Ahmad Surkati menumpahkan ungkapan dan perasaan hatinya melalui sebuah syair. Pesan akan rasa syukurnya kepada Sang Maha Pencipta alam, ia menitipkan salamnya dalam awal syairnya kepada awan yang selalu menurunkan hujannya di kotabatoe.

Menurut pandangan bangsa arab, syair merupakan puncak keindahan dalam sastra, sebab syair itu adalah suatu bentuk gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan kata-kata yang lahir dari ekspresi perasaan atau pikiran pembuatnya. Sejarah kesusastraan telah mengungkapkan, bahwasanya bangsa arab adalah sebuah bangsa yang sangat gemar mengungkapkan sesuatu dengan syair atau puisi, hal ini karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka, serta bahasa mereka yang puitis dan lisan mereka yang fasih.

Selain pujian yang ditujukan kepada Sjech Hasan Argoebi yang telah dengan setianya mendampingi Surkati berbulan-bulan di rumah sakit dan rutin mengunjunginya selama di kotabatu, bait-bait syair itu seakan menumpahkan seluruh kenangannya terhadap sahabat-sahabat seperjuangannya, termasuk kepada Achmad Dahlan sahabatnya pendiri Muhammadiyah yang dijulukinya sebagai waliyullah. Satu persatu para pejuang Al-Irsyad dipuji dan dikenangnya dengan menyebut nama-nama daerah yang pernah dikunjunginya. Syair yang ditulis oleh murid-muridnya itu juga mengandung do'a untuk para mujahid Al-Irsyad dan nasihat sebagai bekal dakwah dikemudian hari. 

Pada bulan Muharram 1360 hijriyah, atau bertepatan dengan bulan Februari 1941, bait-bait syair tersebut diterbitkan dalam bentuk buku tipis dan diberinya judul Al Khawaathirul Hisaan. Syair berbentuk puisi ini seakan menjadi pusaka intelektual terakhir yang diwarisinya kepada para murid dan pendamping perjuangan setianya. Sebagai ungkapan dan ucapan salam perpisahan darinya.

Ungkapan penyesalan akan persitiwa ujian hidup atas kebutaan yang menimpa mata Surkati. datang dari berbagai banyak tokoh, maupun kaum pergerakan nasional Indonesia. Salah satunya diungkapkan oleh Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, beliau dijuluki sebagai Haji Rasul, adalah ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia. Ia juga merupakan pendiri Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Sumatera Barat. Ungkapannya tersebut ada dalam sebuah buku memoar "Ayahku" yang ditulis oleh anaknya Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka ini adalah juga seorang ulama dan sastrawan Indonesia.Ia melewati hari-hari hidupnya sebagai seorang mubaligh, pejuang, politikus pergerakan Islam, penulis dan pernah menjadi ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia. Bangsa Indonesia akrab memanggilnya dengan panggilan Buya Hamka.

"Kisahnya, pada tahun 1944, Hamka bertanya kepada ayahnya tentang seseorang yang dipandang sebagai ulama besar di Jawa. Ayahnya menjawab, "Hanya Syaikh Ahmad Surkati." Hamka bertanya kembali, "Tentang apanya?" dijawab: "Dialah yang teguh pendirian. Walaupun kedua belah matanya telah buta, masih tetap mempertahankan agama dan menyatakannya dengan terus terang, terutama terhadap pemerintah Jepang.Ilmunya amat dalam, fahamnya amat luas dan hati sangat tawadhu".

Dalam bukunya yang berjudul Ayahku: Riwayat Hidup Dr Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Hamka juga menulis hubungan khusus antara ayahnya dengan Syekh Ahmad Surkati. "Setelah pindah ke tanah Jawa, sangatlah rapat hubungannya dengan almarhum Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad yang masyhur itu. Pertemuan dia yang pertama dengan Syekh itu di Pekalongan pada 1925. Ketika itu Syekh masih sehat dan matanya belum rusak…"

Buku yang diberi judul “Ayahku” oleh seorang ulama, sastrawan, sekaligus politikus Indonesia H. Abdul Malik Amrullah atau akrab kita sebut HAMKA, adalah sebuah catatan dari seorang anak sekaligus murid tentang sosok Dr. H. Abdul Karim Amrullah atau berjuluk Hadji Rasoel. 

Buku “Ayahku” ini tidak hanya semata-mata berisi riwayat hidup seorang ulama besar Sumatra Barat atau catatan kasih seorang anak tentang ayahnya saja, namun di dalamnya juga berisi riwayat perjuangan ulama dan perkembangan Islam di Sumatra Barat khususnya dan seluruh Sumatra pada umumnya.

Ungkapan juga datang dari seorang tokoh kalangan intelektual barat, Prof Cho Van der Plas. Sebagai seorang yang pernah menjabat sebagai gubernur di Jawa Timur, Plas melukiskan ujian yang dialami oleh Surkati  tersebut dalam suratnya yang dibuat di Surabaya pada 27 April 1941.

"Pertama kali saya bertemu dengan syaikh Ahmad Surkati pada tahun 1927 M, hatiku dipenuhi kegembiraan, karena saya dapat merasakan keikhlasan ustadz ini dan kelapangan jiwanya. Dan bisa dikatakan bahwa sepanjang hidup saya, atau dengan kata lain dalam lima puluh tahun ini, jarang sekali saya bertemu dengan sosok yang mempunyai keikhlasan seperti ustadz ini, pendapat-pendapatnya adil, dan keyakinannya kokoh, serta sangat bertawakkal kepada Allah ta’ala, maka ia pantas dijuluki as-Shadiq".

"Sesungguhnya saya menganggap syaikh Surkati seperti syaikh dan guru saya sendiri, saya kerap kali pergi menemuinya, berbicara seperti pembicaraan seorang teman kepada temannya, setiap kali saya merasakan kesedihan atau kepenatan lalu saya berdiskusi dengannya maka hilanglah segala kesedihan yang saya rasakan, dan menjadi ringan beban yang saya melihatnya sebagai suatu yang memberatkan. Karena ia tidak mengamalkan sesuatu melainkan untuk mengharap wajah Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang, sering kali ia tidak peduli dengan kemaslahatan dirinya dan tidak menganggapnya hal yang besar".

"Berulang kali pertemuanku dengannya ketika aku membantunya menerjemahkan kitab karyanya (الآداب القرآنية), kitab ini adalah kitab yang dicetak penerbit Wiltres dengan judul “Zedeleer uit den Qur’an”. Adapun tujuan dari bahasan kitab itu adalah memudahkan para pemuda Islam yang belajar dengan pendidikan barat mendapatkan cahaya petunjuk agar hidup dengan kehidupan yang menyenangkan dan aman. Dengan bersumpah kepada Allah, kalaulah manusia mengikuti petunjuk dalam kitab itu tentulah lingkungan masyarakat menjadi aman dan tenang".

"Dan saat ini saya tidak dapat menyembunyikan perasaaan saya dari kesedihan dan kedukaan ketika sampai di telinga saya bahwa guruku ini mengalami kebutaan, sungguh benar, sangat disayangkan sekali bahwa as-Sayyid Ahmad Surkati tidak mampu lagi memandang alam sekitarnya, tidak mampu lagi melakukan kebiasaannya membantu teman-temannya. Benar, sangat disayangkan sekali sosok yang memberikan cahaya dan penjelasan bagi setiap orang yang bertemu dengannya sekarang hidup dalam kegelapan yang pekat".

"Akan tetapi saya berkeyakinan dengan keyakinan yang kuat, sekalipun kegelapan yang pekat meliputinya namun hati syaikh Surkati bersinar dengan cahaya iman dan akhlaknya yang baik, serta cahaya tawakkal. Dan saya berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala agar membentangkan bagi syaikh Surkati cahaya petunjuk dan rahmat-Nya, karena cahaya petunjuk dan rahmat-Nya adalah sesuatu yang paling utama dari segala yang ada, walaa haula walaa quwwata illa billah, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya".

Bung Karno juga mengungkapkan rasa penyesalannya karena pertemuan-pertemuan mereka berlangsung pada saat kedua mata Surkati sudah tidak bisa melihat lagi. 

Bung Karno datang untuk pertama kalinya mengunjungi Syaikh Ahmad Surkati dikediamannya di Chaulan Weg, sekarang Jalan KH Hasyim Asy'ari di Jakarta Pusat. Bung Karno datang bersama Bung Hatta setelah kepulangannya dari tempat pembuangan di Endeh, kedua tokoh itu ditemani oleh A.Hassan dan M.Natsir. Semenjak itulah, Bung Karno sering datang bertandang mengunjungi Surkati. Menurut Ridwan Saidi, Bung Karno mendekat kepada Ahmad Surkati karena Ia tahu, bahwa Surkati adalah simpul jaringan gerakan Pan-Islamisme dunia.

"Sungguh aku (sukarno) amat menyesal bisa mengunjungi dan bertemu dengan anda disaat penglihatan As-syeich Surkati sudah tiada". 

"Alhamdulillah, karena disaat penglihatan saya (surkati) sudah tiada tapi pandangan kalian sudah terbuka sehingga kalian tahu akan hakekat Islam". 

"Benar dan itu semua kami sadari karena berkat jasa dan upaya anda".

Ahmad Surkati tutup usia pada Kamis, 6 September 1943, pukul 10.00 WIB, di kediamannya. Dahulu sebelum di huni oleh Surkati, rumah tersebut bekas pabrik roti di chaulan weg. Warga Betawi terbiasa menyebutnya dengan nama *gang solang*. Jenazahnya diantar ke pemakaman wakaf Said Naum di Tanah Abang dengan berjalan kaki. Bung karno ada bersama iringan para pengantar dan ikut mengusung jenazahnya.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)