Saudagar Banten dan Surkati di Chaulan Weg


Al allamah Syeh Ahmad Surkati

Chaulan weg 25, di rumah ini bukan saja menyimpan banyak peristiwa penting bagi sejarah bangsa, juga  ada banyak kisah ketauladanan penghuninya Syech Ahmad Surkati. Seorang yang dikenal sebagai Tokoh Pembaharu dan Pemurni Ajaran Islam yang pernah dimiliki oleh Al-Irsyad. 

Satu dari kisah itu adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 30an. Saat dimana Syech Ahmad Surkati sedang berada di beranda rumahnya. Hari itu Ia duduk bersama dengan Ali Hubeis dan Ali Mugieth. Ketiganya asyik berbincang ditemani hangatnya teh dan diskusi tentang berbagai hal agama. Tiba masanya datanglah seorang laki-laki yang tampak sebagai fakir (peminta shodaqoh) seraya berucap salam, dan fakir itupun duduk di sudut tangga masuk dengan menundukan kepala.

Syech Ahmad kemudian bangkit dan menghampiri orang tersebut guna menanyakan maksud dan tujuan kedatangannya.Tapi yang disangka fakir itu tiada memberinya jawaban, ia tetap diam merunduk dan bahkan menolak menerima kepingan uang dan tawatan bantuan lainya yang ditawarkan oleh Surkati. Tentu saja perilaku orang ini mengundang tanya dalam benak dan fikiran Surkati.

Dihampirinya lebih dekat sosok laki-laki asing itu. Dari wajahnya tampak Ia menderita karena memiliki rupa mengerikan akibat penyakit yang dideritanya. Akan tetapi ada raut wajah kerinduan dalam diri orang yang baru dijumpainya itu, juga tersimpan rasa hormat. Disamping rasa putus asa untuk meminta dikasihani.

Sesudah segala bentuk bantuan yang ditawarkan tertolak, Syech Ahmad Surkati kemudian bangkit dan kembali duduk melanjutkan perbincangan yang terputus. Fikirannya tetap menerawang dan benaknya bertanya tentang sosok laki-laki yang tiada dikenalnya, hingga kedua teman diskusinya undur diri berpamitan untuk kembali pulang.

Kembali Surkati menghampiri laki-laki itu yang juga masih tetap pada posisinya yang belum berubah dan mengulangi pertanyaan yang sama padanya untuk kedua kalinya.

Dengan air mata berlinang, laki-laki berwajah mengerikan itu berbicara dan menuturkan pada Surkati ; saya adalah Haji Abdurrahman dari Banten, mungkin Syech Ahmad sudah tidak mengenal saya lagi dan memang saya sudah lama tidak berkunjung ke betawi untuk bersilaturrahim pada Syech.

Apa?! Benarkah anda Haji Abdurrahman sahabat saya?Tanya Syech Ahmad dengan penuh keheranan. Akan tetapi tampak ketenangan serta ketabahan jiwanya untuk mengekang dan mempertahankan gejolak perasaannya dikala itu.Ternyata laki-laki asing yang baru dijumpainya adalah sahabatnya dari Banten dan terkenal sebagai saudagar kaya raya pemiliki banyak tanah perkebunan di daerah lebak dan Cilegon.

Laki-laki itu kemudian menuturkan kisah tentang nasib yang dialaminya.

“Beberapa tahun yang lalu saya ditimpa musibah dengan mendapatkan cobaan dari Allah SWT dengan menderita penyakit sejenis lepra dan saya rahasiakan penyakit ini pada orang lain kecuali anak-anak dan istri saya dirumah. Karena lama tiada kunjung sembuh, akhirnya secara diam-diam saya pergi berobat di kota medan dan dirawat selama tiga tahun di rumah sakit lepara dikota tersebut. Namun penyakit yang diderita ini tak juga nampak kesembuhan sebagaimana yang Syech lihat sekarang. Saya sudah berputus asa dan hanya mengharap segera mati”.

“Sebelum saya mati, merasa berkewajiban datang untuk menemui Syech sekedar memohon untuk memperkenankan do’a, juga merasa berhutang budi atas jasa baik Syech selama ini yang telah membimbing saya pada jalan kebenaran yang diridhoi Allah SWT, yaitu berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah rasulullah SAW”.

Dengan beristighfar serta memuji-muji kebesaran dan ke agungan Allah SWT, Syech Ahmad berkata dengan nada suara yang tenang penuh wibawa ;

Wahai saudaraku Haji Abdurrahman, saya kenal anda sebagai salah seorang tokoh pergerakan dan berjuang dengan gigih bersama-sama pergerakan yang saya rintis untuk menegakkan serta mengagungkan kalimat tauhid guna menyiarkan ajaran Islam yang sejati berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits. Anda telah terjun dalam lingkungan kami, dikala pengikut kami masih sedikit dan banyak yang memusuhi, bahkan ada yang berani mengkafirkan kami. Dan di saat itu pula anda telah mengamanatkan anak-anak anda pada kami untuk di didik sebagai bekal mereka guna mencapai kebahagiaannya di dunia dan di akhirat.

Alhamdulillah, sekarang kini anda berada dihadapan saya setelah lama kita tidak berjumpa, dan haram bagi anda dan bagi siapapun setiap muslim untuk berputus asa, apapun yang dihadapi serta dideritanya. Untuk itu saya tidak akan membiarkan anda berputus asa, bahkan sekarang juga anda jangan kemana-mana. Tinggalah bersama saya disini dan dengan izin Allah SWT saya akan merawat dan mengobati anda.

Haji Abdurrahman sulit melukiskan bagaimana perasaannya mendapatkan perlakuan Surkati yang berahlaq karimah tersebut. Hanya Allah yang mengetahui. Sejak saat itulah Haji Abdurrahman tinggal dirumah Syech Ahmad Surkati di Chaulan weg 25, sekaligus mendapatkan perawatan dan pengobatan darinya.

Di Chaulan weg Surkati membuatkan tempat khusus dan sebuah bak untuk berendam diri dengan air hangat dan minyak semacam kastroli serta ramuan obat-obatan tertentu. Cara pengobatan tersebut adalah cara para ahli kedokteran Islam zaman dahulu. Syech Ahmad Surkati memang banyak mempelajari tekhnik pengobatan kuno dari berbagai literatur buku-buku kesehatan. Konon kakeknya dari pihak ibunya, juga seorang tabib di Sudan.

Panorama Banten Tempo Doeloe

Kesungguhan serta ketelatenan Surkati merawat dan mengobati Haji Abdurrahman dari penyakitnya mengalami perubahan, setelah memakan waktu sekitar dua mingguan kulitnya yang berpenyakit telah mulai rontok. Bahkan setelah kurang lebih enam bulan, penyakit berjenis lepra yang diderita oleh Haji Abdurrahman telah mulai berangsur sembuh.

Setelah sembuh dari penyakitnya, kemudian Ia meminta izin kepada Surkati untuk kembali pulang ke rumahnya di kawasan Cilegon. Syech Ahmad tidak keberatan tapi memberinya nasehat agar menjaga pola makan yang harus dipantangnya, dan hal-hal lain yang harus dijaganya.

Tak lama kemudian Haji Abdurrahman kembali mengunjungi Syech Ahmad Surkati dirumahnya di Chaulan Weg dan mengutarakan keinginannya untuk memberikan hadiah kepada Surkati berupa persil sebidang kebun teh di daerah Banten sambil membawa serta menyerahkan surat-surat kepemilikan tanah tersebut berikut dokumen lainnya.

Atas persetujuan ahli waris dan keluarganya, Haji Abdurrahman menyerahkan kebun teh miliknya kepada Syech Ahmad Surkati sebagai tanda ucapan terima kasih serta imbalan atas jasa baik dalam penyembuhan penyakit yang pernah dideritanya.

Dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan hati, Surkati menyatakan kepada Haji Abdurrahman ; Wahai saudaraku Haji Abdurrahman, Allah yang Maha Pengasih dan Pemurah telah menyembuhkan anda dari penyakit yang mengerikan sejenis penyakit lepra, “Naudzubillahi Min dzalik”. Seharusnya anda bersyukur kepada-Nya dengan tulus penuh rasa rendah diri atas kesembuhan penyakit tersebut. Dan Allah SWT menyembuhkan penyakit anda itu karena amal soleh yang telah anda lakukan dikala sehat dan bugar. Saya telah turut berusaha membantu anda dengan ikhlas guna merawat serta mengobati anda dan juga mendoakan kesembuhan anda. Dan saya lebih bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengaruniai anugrah yang tak terhingga nilainya, yaitu dikabulkannya ikhtiar saya untuk merawat dan mengobati anda sehingga kembali pulih seperti sediakala…..Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

Kemudian Syech Ahmad Surkati memanggil beberapa orang yang berada dirumahnya dan anak didiknya untuk menyaksikan bahwa beliau telah menerima hadiah sebidang kebun teh dari Haji Abdurrahman miliknya sendiri. Dan beliau mengucapkan terima kasih serta penghargaan atas pemberian tersebut.

Akan tetapi disaat itu juga, Surkati meminta untuk disaksikan bahwa beliau menghadiahkan kembali kebun teh tersebut kepada ahli waris Haji Abdurrahman.

Sikap terpuji yang ditanamkan Surkati pada anak didiknya sejalan dengan firman Allah SWT surah Assyuara ayat 180 yang artinya ;

"Dan aku tiada minta upah kepadamu, hanya kuharapkan upahku itu dari Allah Rabbul alamin".

Haji Abdurrahman adalah salah seorang tokoh yang di hormati dan di segani di Banten. Ketokohannya memuluskan sebuah perjuangan pemurnian Islam yang diperjuangan oleh Syech Ahmad Surkati di kawasan kesultanan tertua di jawa barat tersebut, padahal kawasan Banten dan sekitarnya terkenal akan faham tradisional yang terkenal mangkreng dan garang. Bahkan, monumen kehadiran Surkati di daerah Banten dapat disaksikan dari sebuah prasasti pendirian Masjid yang mencantumkan namanya di salah masjid di Cilegon.

Ini hanyalah sepenggal kisah dari sisi kehidupan pribadi seorang tokoh pendiri Al-Irsyad, Kisah ini bukan untuk memuji terlampau berlebihan terhadap ketokohan Syech Ahmad Surkati, terlebih mengkultuskannya. Sepenggal kisah ini menjadi suri tauladan betapa pentingnya keluhuran budi, akhlaq yang membawa kita menjadi pribadi yang sholeh.

Kisah diatas diangkat dari penuturan langsung Allahyarham ustadz Muhammad Munif kepada Bapak Said Bawazier, yang juga alumni Al-Irsjad School di Chaulan Weg pimpinan Ahmad Surkati. Dinamainya kisah-kisah suri tauladan ini  "Keluhuran Budi".

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)