Gang Banjar dan Jejak Kerajaan Banjarmasin di Empang

Sekitar tahun 1885, daerah Bogor menjadi tempat pengasingan sultan dan para Bupati yang dianggap berbahaya bagi Pemerintah Belanda, dan sekaligus untuk mengurangi secara sistematis pengaruh kaum feodalis atas masyarakatnya.

Goesti Moehammad Arsjad duduk kedua dari kiri berkopiah putih dan memegang tongkat

Para bupati yang diasingkan ke kota Bogor berasal dari berbagai daerah, diantaranya dari Pekalongan, Bojonegoro, Sukapura (tempat pengasingan Empang) dan Raja Bali. Konon, Raja Bali tempat pengasingannya berada di Kampung Bubulak, sekarang menjadi komplek perumahan Haur Jaya, dekat pabrik ban terkenal Good Year.

Sedangkan Sultan Banjarmasin yang dibuang ke Bogor adalah Goesti Moehammad Arsjad. Di Empang, bekas tempat pengasingannya inilah yang kemudian jejaknya dikenal dengan nama Gang Banjar. Lokasinya sekarang termasuk gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Irsyad Al-Islamiyyah Bogor. Seluruh bagian yang dahulu menjadi "Puri Pembuangan" Kesultanan, dibeli oleh keluarga kaya asal Banjarmasin, Sayyid Faradj bin Islam bin Thalib. Faradj adalah saudagar kelahiran Hadramaut. Sedangkan istrinya, Rahma binti Mar'i bin Thalib adalah wanita peranakan Arab kelahiran Banjarmasin.

Sultan Banjarmasin tidak sendirian dipengasingannya. Di Empang, Ia ditemani istrinya Ratu Zaleha dan beberapa orang kerabat dekatnya. Ibunda Ratu Zaleha, Nyai Salamah juga ikut bersamanya dalam pembuangan di Empang.

Keluarga Ratu Zaleha sebagai kelompok Pagustian oleh Pemerintah kolonial dianggap berbahaya dan ancaman. Selama dalam masa tawanan Goesti Mohammad Arsyad untuk kebutuhan hidupnya ditempat pembuangan mendapatkan tunjangan sebesar f.300 perbulan dan istrinya Ratu Zaleha f.125 sebagai tambahan untuk memelihara tujuh anggota keluarganya. Ketetapan tunjangan tersebut berdasar pada surat Sekretaris Goebernemen 25 Juli 1906 No.1198 yang ditujukan kepada Ekslensi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Asisten Residen Bogor.

Ratu Zaleha dimasa tuanya

Ratu Zaleha adalah satu dari sedikit pejuang wanita di Nusantara yang gagah berani membela tanah airnya dari cengkeraman kuku penjajahan Belanda. Bersama sang suami, Goesti Moehammad Arsyad bin Goesti Moehammad Said. Ratu Zaleha adalah penerus perjuangan ayahnya Pangeran Moehammad Seman yang juga merupakan putera Pahlawan Nasional, Pangeran Antasari.

Penangkapan Goesti Moehammad Arsyad Tahun 1904 oleh Belanda setelah bersembunyi dan bergerilya dalam hutan

Dipengasingannya di Empang, Goesti Moehammad Arsjad bersama saudagar Arab kemudian ikut mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah, yang pendiriannya diprakarsai oleh Raden Mas Tirto Adhi Soeryo, Bapak Pers Indonesia.

Goesti Moehammad Arsyad selama di pengasingan sempat menikah lagi beristrikan wanita sunda, darinya dikaruniai anak yaitu Gusti Moestafa atau akrab disapa Antung Moes

Di Empang, kekerabatan keluarga kesultanan Banjarmasin ini sebagian besar memang akrab disapa dengan sebutan Antung. Salah satu diantaranya adalah Antung Adey, nama aslinya adalah Gusti Abdul Kadir atau nama seninya G.A Kadir. Ia adalah salah satu pelukis terkenal dan bekas staf ahli di bidang gambar pada mueseum zoology.

Dimasa tuanya Goesti Pangeran Moehammad Arsyad dan Ratu kembali ke kampung halamannya pada tahun 1937, setelah sekian tahun berada di pembuangannya di Empang. 

Gusti Pangeran Muhammad Arsyad meninggal wafat pada 1941 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Banjar Sultan Suriansyah di Kuin Utara, Banjarmasin. Sedangkan istrinya Ratu Zaleha, wafat 23 September 1953, dimakamkan di pemakaman raja-raja Pagustian, kesultanan Banjarmasin. 

Nama Ratu Zaleha kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di kota Martapura dan untuk nama jalan di beberapa jalan utama di Kalimantan Selatan. Demikian pula dengan suaminya, Gusti Mohammad Arsyad.

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)