Melacak Jejak Surkati di Betawi



Betawi memang banyak menyimpan ragam dan corak budaya, yang bermula dari ragam suku yang mendiami kota itu sejak zaman baheula  hingga kini. Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab dan Tanjidor yang berlatar belakang ke-Belanda-an. Keragaman pada masa lalu tersebut justru memberikan khazanah budaya dan kultur pada penduduk asli Betawi


Peneliti dari Australia, Lance Castles, mengumumkan hasil penelitiannya yang menyangkut asal-usul orang Betawi dan dikemas dalam sebuah buku yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta”, dalam buku itu diungkapkan bahwa orang Betawi terbentuk pada sekitar pertengahan abad 19 sebagai hasil proses peleburan dari berbagai kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia. Tentu saja ungkapan peneliti Australia ini sedikit banyak membuat gusar banyak kalangan tokoh betawi termasuk H. Ridwan Saidi, menurut Bang Ridwan, orang Betawi bukan turunan budak yang didatangkan dari berbagai pelosok di tanah air, seperti yang dinisbatkan pada nama-nama kampung di pelosok-pelosok Betawi. Menurutnya, orang Betawi sudah ada sejak zaman batu, banyak artefak yang bisa menguatkan argumentasi ini, menurutnya pula kesimpulan Studi Lance Castle, 1967, tentang etnic profile Jakarta menjurus pada kesimpulan yang sesat dan menyesatkan.
 
Alhasil,  tulisan yang diberi judul “Melacak jejak Surkati di Betawi” ini bukan untuk mengupas sosial-origin alias asal-usul sejarah orang Betawi dengan semua khazanah budaya dan kulturnya. Namun  hanya merupakan secuil kisah yang tidak bisa dipisahkan dari corak dan ragam yang pernah ada di Betawi. Karena secuil kisah ini telah ikut memberikan kontribusi positif bagi pembangunan manusia Indonesia yang merambah ke berbagai pelosok di tanah air, dari mulai Taman kanak-kanak yang dikelola oleh wanita Al-Irsyad Al-Islamiyyah di kampung Jati Baru, kawasan tempat dimana asal muasal Al-Irsyad pertama kalinya didirikan, hingga sekolah yang dirintis oleh Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Papua.

Jejak-jejak Surkati di Betawi bisa kita napaktilasi dari kampung Pekojan yang terletak di Kelurahan Tambora Jakarta Barat,  tempat awal koloni arab di Batavia. Dari Pekojan kita bisa menelusurinya ke Jl. Jati Baru di bilangan kawasan Jatipetamburan, dari gang Paksi, tempat markas FPI pimpinan Habib Riziq, menembus gang-gang sempit yang penuh sesak pemukiman penduduk di dalamnya, hingga ke jalan Jati Baru di pinggir bantaran kali ciliwung, disini terdapat gedung sekolah Taman Kanak-Kanak Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang didirikan  sejak tahun 80-an.

Sejenak kita akan berdecak kagum selepas lelah dalam himpitan jalan yang penuh sesak dengan pemukiman kumuh dan pedagang kaki lima menuju  arah jalan KS Tubun Raya, Kita akan menyaksikan rumah anggun peninggalan bekas konsul Turki di Batavia, rumah yang juga sempat dihuni oleh menantunya Sayyid Abdullah bin Alwie Al Attas. Tokoh pergerakan berjuluk saudager Bagdad dari Betawi ini pernah mendermakan koceknya sebesar lima ribu gulden saat pertama kalinya Jumiyyah Al-Irsyad didirikan. Rumah peninggalan bergaya prancis itu kini menjadi Museum Tekstil di Jl. KS Tubun No. 4. Jakarta Pusat.

Bukan hanya museum yang menjadi saksi bisu atas kehadiran Al-Irsyad di Jatipetamburan, di tengah-tengah warga asing asal Sudan  dan negeri-negeri afrika lainnya yang berseliweran datang dan pergi, juga ada sepenggal kisah dan saksi akan jejak Surkati di sana, Masjid An-Nur atau ma’ruf  dikenal dengan mesigit waqaf bin Abdat, nama yang dinisbatkan pada pewaqifnya Saleh bin Obeid Abdat, salah seorang pendiri Al-Irsyad, Adviseur pertama pada awal kelahiran Al-Irsyad.

Sekolah di Jatipetamburan ditutup akhir Pebruari 1917. Dari Petamburan masih ada jejak Surkati yang belum terungkap di kampung Mangga Besar, kampung yang masuk dalam bilangan kota. Lokasinya bisa kita lacak dari Bokoe Peratoeran Peladjaran-Peladjaran dalem Internaat AL-IRSJAD SCHOOL Mangga Besar 174, Telefoon 1450 di Batavia


Buku ini memuat tentang; Sjarat-sjarat akan toeroet beladjar di sekolah Al-Irsjad, termasuk di dalamnya pelajaran menulis aksara Arab, penggunaan bahasa Arab, batja Al-Qoer’an dan pemahaman kata serta maknanja jang gampang-gampang. Perilakoe dan peradaban dengan theorie dan praktijk, Permoelaan Ilmoe Fiqih. Berhitoeng, Bahasa Inggris, menoelis aksara Melajoe, Geography Djawa dengan ringkes, Permoelaan Ilmoe Oekoer dan menggambar dengan tangan atawa Fotograaft, Ilmoe Moestalahoel Alhadist, dengen ditjeriteraken joega halnja beberapa oelama-oelama hadist jang terkenal.  Ilmoe Kesehatan, dengen diadjarken djoega tjara begimana menoeloeng orang-orang jang dapet ketjilakaan, seperti kelelep, kebakaran dan lain-lain sebagainja, bahasa olanda, ilmoe faraidh, ilmoe tarich djoengdjoengan kita Sajjidina Moehammad s.a.w dan Choelafa Rasjidien, dengen tiada menjemboet prihal itoe keriboetan-keriboetan dan perselisihan jang membikin bingoeng , djoega ada peladjaran bagaimana membikin saboen, obat-obat dan lain sebagainja, dan laen-laen permaenan poela jang bergoena boeat kesehatan badan dan fikiran


Seperti yang dikutip dari buku Al-Irsyad mengisi Sejarah bangsa karya almarhum Hussein Badjerei, sekolah Al-Irsyad di Betawi selalu berpindah-pindah, karena gedung yang dipergunakan adalah gedung sewaan. Demikian pula dengan kediaman Surkati, karena Surkati selalu tinggal dalam komplek perguruan yang dikelolanya, berikut dengan internaat  (asrama) yang diperuntukan bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendapatkan bimbingan langsung al allamah dari pagi hingga petang.


Beberapa gedung sekolah Al-Irsyad selain di Jatipetamburan dan gedung bekas Hotel Ort di Molenvliet West, ada juga gedung sekolah Al-Irsyad di Petojo Jaga Monyet. Sekolah Al-Irsyad ini yang paling kesohor  dan merupakan satu-satunya gedung sekolah milik Al-Irsyad di Betawi. Dari petojo jaga monyet yang berujung ke prahara atas kasus tanah Al-Irsyad di Bogor, ada beberapa sekolah lainnya yang juga beken sampe ke pelosok-pelosok di Betawi, diantaranya adalah Sekolah Al-Irsyad di Krukut Gang Tengah,   di Gang Madat,   di Molenvliet Oost, (toko suara angkasa, jalan Hayam Wuruk sekarang), ada juga sekolah Al-Irsyad di kawasan Kebon Jeruk, (lokasinya hotel mataram sekarang), Gang Chasse yang sekarang dinamai Jalan Pembangunan, Salemba Gang Kenari, sekarang R.S Ridwan Meuraksa, dan seabreg  sekolah lainnya di Betawi yang masih bisa kita telusuri.


Konon, Surkati pernah pula beristrikan wanita asli Betawi, namanya Siti wari’ah, Ia adalah istri keduanya. Sedangkan istrinya yang ketiga bernama Fatimah wanita asal Bogor. Fatimah adalah puteri dari Syech Hassan Hamid Al-Anshory, sahabat karibnya asal Sudan yang sama-sama mengajar di Jamiatul Khair. Syech Hassan pernah memimpin madrasah milik kesultanan Kadiriyah di Pontianak yang didirikan oleh al-Sayyid Syarif Abdurrahman Al-Kadrie.


Sayang penulis kehilangan obor untuk melacak asal usul Siti Wari’ah, hanya ada sepenggal cerita yang dituturkan oleh bekas salah seorang muridnya bahwa Surkati selalu ditemani istrinya yang duduk disamping Mualim Ahmad saat mengajar sore untuk kelas perempuan di madrasahnya. Selain Wari’ah dan Fatimah, Surkati pernah menikah dengan Siti Jenab al-Makkawiyah di Bandung dan merupakan istri pertamanya, juga Ibu Salmah Bagetuf istri terakhirnya yang dia nikahi pada tahun 1942 di Pekalongan. Dari kesemua istrinya itu, Surkati tak satupun dikaruniai anak.


Itulah jejak-jejak al allamah Syech Ahmad Surkati yang bisa kita lacak di Batavia, di tengah-tengah pusat kota, dan bahkan di sudut-sudut kampung di Batavia, warga asli Batavia lebih akrab di lidahnya dengan ucapan Betawi dan menyapa Surkati dengan panggilan Mualim Ahmad. Terplesetnya lidah warga asli Jakarta dari Batavia menjadi Betawi, menurut budayawan Islam dan tokoh Betawi, Bang Haji Ridwan Saidi, sohib rofiq almarhum Hussein Bajerei, kata ini akibat masalah translate Arab, penulisan Batavia menjadi ba-ta-wau-ya, kemudia dibaca mejadi Betawi.

Sebuah acara yang digagas dalam rangka memperingati MILAD Al-Irsyad ke 101 (1914-2015), dan diselenggarakan oleh Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad pada 13 September 2015 yang bertajuk; Tour de Batavia 2015, Pelesiran Melacak Jejak Surkati di Betawi, berhasil menelusuri kembali jejak-jejak Surkati di Jakarta. Acara tersebut diikuti oleh 15 orang peserta dari utusan cabang Pemuda Al-Irsyad Jakarta Timur dan Bogor. Tak ketinggalan dua tokoh senior Al-Irsyad Mansyur Alkatiri dan Zeyd Ammar juga menyempatkan diri mengikuti rangkaian demi rangkaian acara untuk memberi semangat kepada tim napak tilas.

Dua nara sumber dihadirkan dalam acara yang pertama kali diselenggarakan oleh Al-Irsyad ini, yaitu Ridwan Saidi dan Alwi Shahab. Keduanya merupakan sejaharawan dan budaya Betawi. Beberapa lokasi berhasil dikunjungi yaitu Kampung Arab di Pekojan Jakarta Barat, Rumah bekas peninggalan Surkati di Jalan Kyai Haji Hasyim Asy’ari, Jakarta Pusat, bekas gedung sekolah Al-Irsyad di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat, bekas gedung sekolah Al-Irsyad di Jalan Gajah Mada Kota, Jakarta Pusat, kawasan Petamburan di Jalan Aipda KS Tubun, Jakarta Pusat, dan terakhir ke Masjid Said Naum di Jalan Kyai Mas Mansyur, Tanah Abang Jakarta Pusat.

Masih tersisa jejak-jejak surkati lainnya di Betawi yang belum sempat ditelusuri diantaranya adalah Gang Kenari di Salemba Jakarta Pusat, Mangga Besar, Hayam Wuruk dan lain-lain. Insya Allah di kegiatan serupa lokasi-lokasi tersebut dapat dikunjungi.

Tokoh Sejarawan dan Budayawan Betawi, Alwi Shahab
Saat memberikan kisah-kisah tentang peranan surkati

Tim Napak Tilas bersama Tokoh Sejarawan dan Budayawan Betawi Alwi Shahab di kediamannya


 Tim Napak Tilas bersama Tokoh Sejarawan dan Budayawan Ridwan Saidi 
Di bekas kediaman Syech Ahmad Surkati ( Jl. KH. Hasyim Asy'ari )





Napak Tilas yang bertajuk Tour De Batavia 2015, Plesiran Melacak Jejak Surkati di Betawi 
di rilis oleh koran Republika

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie 

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)