Ami Hadi, Maestro Gambus melayu


Menurut keterangan para tetua samar dan para pemangku adat di kampoeng empang, syebeh-syebeh kita termasuk Ami Lutfi Mashabi yang jagonya samar deple, dan ami ateng Balweel yang hobinya nyediain tempat buat samar, mereka bilang Ami Hadi kalo bikin pantun sekenanya dan tanpa dipersiapkan terlebih dahulu dalam bentuk text. Dia kalau udah pegang guitar tanpa aba-aba lagi langsung nyanyiin pantun diluar kepala. Cuma hebatnya, syair yang ngedadak keluar dari kepalanya tadi bisa dinyanyiin berulang-ulang.
Kehebatan Ami Hadi tersebut dapat julukan dari jamaah Empang dengan gelar “Adun Hulu”. Nama Adun memang nama kecilnya, sedangkan Hulu yang bahasa sunda artinya kepala, karena semua syair atau pantun yang dibikinnya keluar ngedadak dari kepalanya. Dan diantara salah satu contoh Pantunnya adalah ;

Main layangan di Surabaya,
Putus talinya sampe di Garut.
Punya Tunangan jangan kentara
Kalau kentara menjadi ribut

Saya kira raja Hanoman,
Tidaklah tau Raden Bupati.
Saya kira main-mainan,
Tidaklah tau sesungguh hati.


Pantun ini memang jenaka, tapi bisa kita bayangkan bila p;antun ini dibuat di era pemerintahan orde baru, dimasa undang-undang subpersip masih berlaku. Maka, entah berapa lama hukuman yang akan ditimpakan pada seorang seniman seperti ami adun yang menyamakan kirid dengan seorang pejabat bupati. Cuma ami adun tetep lolos dari jeratan hukum, walaupun syair lagunya tetap populer dikalangan jamaah hingga pada masa orde baru. Mungkin karena tidak jelas siapa raden bupati yang dimaksud. Atau mata-mata orde baru-nya aja yang gak sempet hadir kalau ada gambusan ditempat hajatan, padahal pantun ami hadi sering juga berdendang di toko kaset milik jamaah di kawasan pasar tanah abang Jakarta.

Ami Hadi memang layak disebut maestro Gambus seperti yang pernah dikatakan oleh Geys Chalifah, karena kepandaiannya membuat pantun dan syair-syair lagu.

Namanya akan selalu dikenang dan pantunnya akan terus abadi dinyanyikan setiap generasi jamaah yang hobi gambus beraliran melayu. “Laki Durhaka dan Melati Disanggul Jelita”, syair lagu itu akan terus diingat dan dibawakan oleh para pelantun yang menyumbangkan suaranya ketika ada jamaah yang nanggap orkes sewaktu uzumah. Tak terkecuali di pekojan, krukut, kampung melayu hingga tanah kelahiran Ami Adun di Kampung Arab Lolongok, yang masuk dalam wilayah kelurahan Empang di kota Bogor selatan, tempat dimana dia dibesarkan dan berumah tangga. Hingga beliau hijrah ke Jakarta dan tinggal dikawasan Cawang.

Kita akan banyak belajar dari Almarhum, belajar untuk menghibur dan memberikan sesuatu yang bermanfaat melalui nasehat-nasehatnya yang dituangkan dalam bentuk syair dan pantun. Ada pusaka yang ditinggalkannya, pusaka orkes melayu yang masih dikenang hingga kini. Secara kebetulan, semua jagonya orkes melayu seperti Lutfi Mashabi, A.Kadir, M.Mashabi, Hussein Bawafie, Said Effendi, Munif Bahasuan, dan seabrek lainnya hingga Haji Roma Irama pernah bersentuhan dengan Al-Irsyad, sebagian dari mereka bahkan mendapatkan pendidikan di Al-Irsyad, dan Bang Haji Rhoma pernah duduk dalam kepengurusan Al-Irsyad Jakarta Utara.

Ada tempat buat main orkes, salah satunya ditempat uzumah. Ana yakin, semua yang hadir di uzumah bakalan terhibur. tapi jangan bermain orkes di organisasi. Karena ana yakin, hukumnya Syubhat!

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie


Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)