Partai Arab Indonesia, Dan Dukungan Untuk Kemerdekaan Indonesia di Kota Bogor


Logo PAI

Sumpah pemuda keturunan arab menjadi bagian dari sebuah proses dimana kiprah dan kontribusi peranakan arab mendapatkan pengakuan secara politik pasca kemerdekaan. Karena itu peran dan fungsi posisi peranakan arab di perhitungkan dan memiliki hak yang sama dengan pribumi Indonesia.

Pada 4-5 Oktober 1934 pemuda keturunan arab dari berbagai daerah di tanah air bersepakat di kota Semarang dalam Kongres Persatuan Arab Indonesia. Kongres yang di gagas oleh AR Baswedan tersebut melahirkan sebuah komitmen untuk mempersatukan peranakan arab Indonesia dan menyatakan dirinya secara totalitas sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Komitmen ini dikenal dengan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab yang menyatakan bahwa:


1.Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia.

2.Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri)

3.Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah-air dan bangsa Indonesia.


Sumpah pemuda keturunan arab seolah hilang dari ingatan, hingga luput dari penulisan sejarah pada mata pelajaran sejarah di Indonesia. Padahal sumpah pemuda keturunan arab ini memiliki arti penting bagi sebuah jati diri keturunan arab dan bagi dukungan perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab dan pembentukan Partai Arab Indonesia (PAI) adalah sebuah proses peranakan arab untuk menjadi Indonesia melalui jalan perjuangan yang panjang. AR Baswedan telah menjadi pelopor penegasan nasionalisme kaum Arab di Indonesia.


AR Baswedan (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 September 1908 – meninggal di Jakarta, 16 Maret 1986 pada umur 77 tahun) adalah nama populer dari Abdurrahman Baswedan, seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat dan juga sastrawan Indonesia. AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia yaitu dari Mesir.


AR Baswedan adalah seorang pemberontak di zamannya, Ia menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku.


Pada tanggal 4 Oktober 1934, ia mengumpulkan para peranakan Arab di Semarang. Dalam kongres para pemuda perananakan Arab itu dikumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang menyatakan Indonesia sebagai tanah air dan akan berjuang untuk mendukung tercapainya kemerdekaan Indonesia. Lalu berdirilah Partai Arab Indonesia (PAI), dan AR Baswedan dipilih sebagai ketua.


Kelak PAI memberi pengaruh besar terhadap peran peranakan arab. Tidak sedikit tokoh-tokoh PAI yang turut andil dalan gelombang perjuangan bersama rakyat Indonesia, mereka ikut mengambil peran di pentas nasional dalam pemerintahan, juga aktif diberbagai bidang bersama masyarakat Indonesia. Sebut saja diantaranya AR Baswedan. Anak dan keturunannyapun pada masa sekarang ini tidak sedikit yang berkiprah untuk bangsa dan tanah air Indonesia, diantaranya adalah Anis Baswedan.

AR Baswedan dalam sketsa Pelukis Henk Ngantung

Henk Ngantung lahir di Bogor, 1 Maret 1921, ayah bundanya berasal dari Tomohon (Minahasa). Sebagai pelukis ia belajar melukis secara akademis kepada Prof.Rudolf Wenghart, seorang pekukis potret terkenal berasal dari wina. Sementara itu ia berkenalan dengan seorang kolektor barang antik dan benda benda seni bernama Neumann. Di rumah kolektor itulah ia berkenalan dan berkumpul dengan para seniman lainnya seperti Prof.Wolf Schumacher, Luigi Nobili, Cl Dake dll. Di Bandung ini pula ia berkenalan dengan pelukis terkemuka Affandi.

Sepanjang hudupnya Ia mengabdikan diri pada bidang seni dan mendirikan sejumlah perkumpulan seni di tanah air, terlibat secara aktif di lembaga-lembaga kesenian utamanya dalam era revolusi perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Karena itu Ia dapat dikatakan sebagai "Pejuang Seni" dan "Seniman yang Pejuang". Pengalaman tak terduga bagi dirinya adalah saat diangkat sebagai wakil kepala daerah khusus Ibu Kota Jakarta (1960-1964) dan kemudian menjadi Gubernur DKI (1964-1965).

Di kota Bogor, peran pemuda keurunan arab juga bangkit bersama arus perjuangan patriotisme kebangsaan yang menjiwai sumpah pemuda Indonesia keturunan arab. Mereka menyatakan tekad bersama dengan membentuk kepengurusan cabang PAI di kota Bogor.

Pembentukan pengurus PAI di kota Bogor di pelopori oleh Abubakar bin Salim bin Awab Sungkar. Tak hanya itu, rumahnyapun ia relakan sebagai base camp dan menjadi sekretariat resmi PAI. Dalam kepengurusan PAI, Abubakar bin Salim bin Awab Sungkar duduk sebagai sekretaris.


Di kota Bogor, untuk pertama kalinya PAI diketuai oleh Yahya (dalam penelusuran). Penelusuran sejarah tentang PAI di kota Bogor ini penulis awali dari Muchlis Sungkar, salah seorang dari anak almarhum Abubakar Sungkar atau akrab disapa dengan panggilan ami Ece Sungkar. Darinya penulis peroleh sebuah foto bersejarah, foto yang mengabadikan acara peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1934 yang diselenggarakan oleh PAI di Jalan Empang No.49, lokasinya sekarang menjadi Bahar Tailor. Dahulu sebelum di huni oleh ami Ece Sungkar dan kantor sekretariat PAI, rumah tersebut juga pernah menjadi kediaman Syech Ghalib bin Said Tebe, tokoh dan salah seorang pendiri Syarekat Dagang Islamiyyah.


Dari Muchlis Sungkar, dituturkan banyak kisah tentang kesaksian sejarah peristiwa demi peristiwa di rumah tersebut. Sebagai pusat kegiatan PAI, berbagai kegiatan dalam rangka Indonesia merdeka di gagas dan dirancang. Karena itu rumah yang dipakai untuk rapat-rapat PAI dan berkumpulnya para pemuda keturunan arab di kota Bogor ini, selalu menjadi pengawasan Belanda dan Jepang.


Sebuah peristiwa yang membuat tegang juga lucu pernah dialami di rumah itu pada masa pendudukan Jepang. Kejadiannya bermula ketika para pemuda keturunan arab berkumpul seperti biasanya. Sementara Kempetai terus mengawasinya. Kempetai adalah polisi rahasia Jepang. Mereka bertugas sebagai mata-mata dan menangkap orang yang dicurigai. Mereka mirip reserse dalam polisi pada zaman sekarang.


Kempetai seperti mempunyai banyak mata dan telinga. Sehingga untuk menjaga keamanan, para pejuang kemerdekaan harus bersembunyi dan berhati-hati jika akan melakukan rapat-rapat penting. Kempetai dengan teriakan khasnya "bagero", dikerahkan satu kompi menyerbu markas PAI pada malam hari untuk menangkapi para pejuang pemuda keturunan Arab. Usut punya usut, ternyata Kempetai mencurigai taplak meja corak batik yang dikiranya peta yang digunakan sebagai petunjuk strategi dalam peperangan.


Menurut Muchlis pula, selain sebagai pusat komando aktivitas PAI untuk perjuangan kemerdekaan digerakan, rumah tersebut dipakai untuk mengirimkan bantuan logistik kepada para pejuang kemerdekaan. Karena itu pernah menjadi sasaran pengeboman menggunakan mortir oleh tentara NICA, kepanjangan dari Netherlands-Indies Civil Administration (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) yang bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Belanda selepas pendudukan Jepang.


Peran masyarakat keturunan Arab di kota Bogor terhadap perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia sudah diawali sejak sebelum PAI lahir. Para pemuka hadrami di kampung arab Empang, yang dipelopori oleh para saudager yang berasal dari Hadramaut telah berhasil mendirikan “Sjarekat Dagang Islamijjah”, sebuah perkumpulan yang gerakannya berorientasi kepada politik dalam rangka melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda pada tahun 1910. 

Selain Jamiatul Kher yang juga telah membuka cabang madrasahnya di kota Bogor dan lokasinya sama-sama berada di Kampung Arab Empang sejak tahun 1911. Pada tahun 1928, Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang berpusat di Jakarta membuka cabangnya di kota Bogor. di Pekojan  (Kampung Arab Empang) ini pula Al-Irsyad Cabang Bogor diresmikan pendiriannya yang dihadiri langsung oleh Syech Ahmad Surkati di rumah kediaman Sayyid Amir bin Hadi Tebe, seorang tokoh yang banyak berkecimpung di dalam pergerakan Syarekat Islam di kota Bogor, dan juga Ia merupakan ketua dari cabang Panitia Pertolongan Kesengsaraan Haji Indonesia (Stichting Soorkatti) yang berpusat di Jakarta.


Di Bogor, tidak sedikit nama-nama warga dan alumni Al-Irsyad yang terlibat aktif secara langsung dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, diantara mereka bahkan sudah mendapatkan pengakuan sebagai pernitis kemerdekaan melalui bintang jasa yang diterimanya, salah satu diantaranya adalah Ali bin Said Balbaid. Ali bin Said Balbaid wafat di Bogor dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dreded melalui prosesi upacara militer. Jasadnya diserah terimakan oleh ustadz Ja’far Balfas mewakili Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam sebuah upacara khusus di Masjid Agung Empang kepada Pemerintah. Jasa-jasa almarhum terhadap perjuangan republic Indonesia, dokumentasinya kini disimpan dan menjadi koleksi Museum Perjuangan 45.

Gedung Museum Perjuangan 45 yang berada di Jalan Merdeka Bogor sebelumnya adalah milik seorang hadrami yaitu Syech Umar bin Usman Bawahab, selepas kemerdekaan gedung bersejarah tersebut kemudian dihibahkannya kepada negara melalui Pemerintah Kota Bogor dan dijadikan Museum Perjuangan untuk menyimpan koleksi benda-benda bersejarah dan cerita perjuangan para pahlawan, khususnya di Bogor pada 20 Mei 1958.


Museum perjuangan Bogor didirikan melalui musyawarah para tokoh Pejuang Karesidenan Bogor yang meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Depok. Diprakasai dan diresmikan oleh Mayor Ishak Djuarsah pada tanggal 10 Nopember 1957. Pendirian museum dimaksudkan untuk mewariskan semangat dan jiwa juang serta nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda. Gedung yang digunakan sebagai museum, sebelumnya adalah milik seorang pengusaha Belanda yang bernama Wilhelm Gustaf Wissner. Dibangun pada tahun 1879 yang pada awalnya digunakan sebagai gudang ekspor komoditas pertanian sebelum dikirim ke negara-negara di Eropa. Pada masa pergerakan gedung ini digunakan oleh PARINDRA  dan kemudian diberi nama Gedung Persaudaraan. Selain di pakai sebagai tempat aktifitas pemuda pergerakan, gedung ini pun juga di pergunakan sebagai tempat kegiatan pemuda kepanduaan, di bawah panji-panji Gerakan Pemuda Kepanduan Indonesia yaitu, Pandu Suryawirawan. Pada tahun 1942 digunakan sebagai gudang tentara Jepang untuk menyimpan barang-barang milik interniran Belanda, kemudian digunakan untuk menyambut dan mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1945. Di antara tahun 1945-1950 dipergunakan oleh KNI Karesidenan Bogor, Gelora Rakyat, Dewan Pertahanan Karesidenan Bogor, Call Sigen RRI Perjuangan Karesidenan Bogor, GABSI Cabang Bogor, dan Kantor Pemerintah sementara Kabupaten Bogor. Pada tahun 1952-1958 dimiliki dan ditempati oleh Umar Bin Usman Bawahab. Baru pada tanggal 20 Mei 1958 gedung ini dihibahkan dari pemiliknya yang terakhir yaitu Umar Bin Usman Bawahab menjadi Museum Perjuangan Bogor. (Sumber: Wikipedia)


Syech Umar bin Usman Bawahab (ami umar) adalah wulaiti kelahiran hadramaut. Ia adalah pemuka Al-Irsyad di Kota Bogor yang menjadi penyandang dana utama dibukanya madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah di Jalan Kebon Jahe (sekarang Jl.Perintis Kemerdekaan) pada tahun 1941.

Syech Umar Bin Usman Bawahab

Dalam sebuah sumber sejarah dan pernah diungkap oleh Sholah Al Bakri dalam bukunya “Tarikh Al-Irsyad Fie Indunisi”, nama-nama seperti Ali Balbaid, Atmawijaya, Umar Nadji Bareba, Muhammad Abdorrab bin Thalib dan Ja’far Abdorrab bin Thalib, pernah diangkat dan dilantik oleh Pemerintah Republik Indonesia selepas kemerdekaan, sebagai para penanggung jawab keamanan meliputi wilayah selatan dalam kedudukan Kepolisian Negara Kota Bogor. Mereka adalah para Pahlawan dan nama-namanya tercatat sebagai para pejuang ketika pertempuran berlangsung melawan Belanda tahun 1946. Diantara nama-nama hadrami lainnya yang tercatat turut andil dalam perjuangan kemerdekaan di kota Bogor dengan bintang jasa yang diperolehnya dari pemerintah, diantaranya adalah Mar’ie bin Aboed bin Bisyir, Saleh bin Aboed bin Siddiq, Faradj bin Muhammad bin Bisyir.


Ketika nilai-nilai dan semangat nasionalisme ditanamkan pada anggota kepanduan Al-Irsyad Bogor atau “Hizbul Irsyad Padvinderij Buitenzorg” dan kiprahnya terhadap pencapaian usaha Kemerdekaan Indonesia, Ali Azzan Abdat yang memimpin Pandu Al-Irsyad berhasil membentuk Pandu Rakyat Indonesia. Dan melalui Pandu Rakyat inilah ia bersama-sama dengan kepanduan yang berorientasi kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia mendirikan dan membentuk Kepanduan Bangsa Indonesia atau KBI. Kelak KBI inilah yang pertama kalinya meleburkan diri menjadi Pramuka Indonesia.


Dalam perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan, sederet panjang nama-nama Irsyadi (warga Al-Irsyad) baik ditingkat Nasional maupun daerah, tidak terhitung jumlahnya yang terlibat langsung dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia, tentunya semua itu merupakan transformasi pemikiran surkati (pendiri al-Irsyad) kepada kader-kadernya. buah didikan yang dihasilkan oleh Al-Irsyad dalam mencetak manusia yang beriman, berkualitas, intelektual dan berwawasan kebangsaan.

Dihampir seluruh pelosok tanah Air, masayarakat keturunan Arab dari semua golongan mereka melahirkan kesadaran menjadi bangsa Indonesia seutuhnya, menjadikan tanah yang dipijak sebagai tanah air mereka, sumpah mereka yang terkenal dengan SUMPAH PEMUDA KETURUNAN ARAB INDONESIA pada tahun 1934, semua itu dicetuskan dan dilahirkan oleh anak didik Al-Irsyad, terutama oleh tokoh sentral dan pendiri PAI, AR Baswedan yang juga sempat didik oleh Surkati pada bangku Madrasah Al-Irsyad.
Ami Ece Sungkar (Tengah) bersama teman seperjuangan

Nilai-nilai kebangsaan yang menjiwai sumpah pemuda Indonesia keturunan arab di kota Bogor, bukan hanya membentuk jiwa patriotisme yang bangkit untuk menegakan kemerdekaan saja, akan tetapi terbentuk pula corak keindonesiaan dalam dirinya. Sebut saja ami Ece Sungkar, bahkan ketika puterinya lahir pada tahun 1941, empat tahun sebelum Indonesia merdeka, dinamainya Kartini Salmah. 

Pengakuan nasionalisme Indonesia keturunan Arab pada paruh pertama abad ke-20 tidak hanya mendapat simpati dari berbagai golongan yang ada pada masa itu. kebanyakan dari kalangan yang simpati berasal dari golongan non-Arab.Di tubuh Arab sendiri menuai kontroversi yang sangat besar. Ada yang pro terhadapnya dan kontra. perbedaan-perbedaan ini bukan hanya berasal dari masalah sejak kemunculan PAI ini, bahkan jauh sebelum itu.


Yang paling penting dari sumbangsih keturunan Arab ini hingga kini adalah kejelasan status mereka di tanah lahir mereka. Tidak seperti keturunan Cina yang sampai kemerdekaan masih mengalami kontroversi yang mengarungi perjalanan kewarganegaraan mereka. Kalau tidak ada Sumpah Pemuda Keturunan Arab tahun 1934 mungkin kemerdekaan Indonesia belum bisa terwujud dan kalau tidak ada PAI mungkin pertentangan di tubuh keturunan Arab tidak akan mereda.

Tampak dalam photo berdasarkan tanda penomoran (1) Abubakar Sungkar (ami Ece), (2) Abdullah Munif, (3) Said Sungkar, (4) Ahmad Sungkar (Ami Camat), dan (5) Salim Makarim (Ami Daing)

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Jejak Surkati di Betawi Part 2, Hompimpah, Dan Surkati di Jatipetamburan

In Memoriam Mas'oud Basyarahil (1935-2018)